Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
40. LATIHAN
Aku bukan tali yang bisa kamu ikat lalu biarkan menggantung. Aku punya hati yang patah tiap kali kamu tak kunjung memilih- Danialanza
Sore itu, sinar matahari yang mulai condong ke barat menyapu halaman belakang rumah Anza dengan cahaya keemasan. Angin sepoi-sepoi mengayun dedaunan dan suara gemericik air dari kolam renang menciptakan suasana yang menenangkan.
Anza duduk di salah satu kursi malas berwarna putih yang menghadap ke kolam, mengenakan kaus oversized dan celana pendek. Di sebelahnya, Shella tengah sibuk men-scroll ponselnya sambil sesekali terkekeh sendiri.
Dinda dan Clara duduk di pinggir kolam mencelupkan kaki ke air, sembari asyik berbincang tentang drama Korea yang sedang mereka ikuti. Nessa baru saja datang, membawa tas kecil berisi skincare yang katanya "wajib dibawa ke mana pun."
"Anza, rumah lo enak banget. Gue tinggal di sini seminggu penuh juga betah," kata Nessa sambil merebahkan diri di kasur angin yang mengapung di kolam.
"Lo mah betah di mana aja, yang penting ada cemilan," sahut Clara sambil melempar tatapan menyebalkan ke arah Nessa.
Belum sempat Nessa membalas, suara langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Mama Rina, mama Anza, muncul membawa nampan besar berisi beberapa gelas jus segar dan sepiring penuh snack dan buah potong.
"Ini, nak, dimakan ya," ucap Mama Rina sambil meletakkan nampan itu di meja kecil di tengah-tengah mereka. Senyumnya hangat seperti biasa.
"Wah, terima kasih tante, ngerepotin aja nih jadinya. Jadi enak," kata Nessa tertawa sambil langsung mengambil satu pastel dari piring.
Clara mendelik. "Dih biasa banget, Nessa. Gak tahu malu."
"Gapapa kok, anggap rumah sendiri. Tante seneng rumah jadi ramai, apalagi kan akhir-akhir ini Anza gak di rumah. Anza tinggal sama abangnya di apartemen. Jadi rumah makin sepi," ucap Mama Rina sambil tersenyum hangat, tangannya masih sibuk merapikan gelas-gelas jus di atas meja kecil.
"Kalian lanjutin aja ya ngobrol-ngobrolnya. Tante ke dalam dulu ya," tambahnya sebelum berbalik masuk ke rumah membiarkan kelima gadis itu kembali larut dalam suasana santai di pinggir kolam.
Beberapa detik setelah kepergian Mama Rina, suasana hening sejenak. Hanya suara percikan air dan gesekan angin yang terdengar.
"Lo pindah ke apartemen? Serius?" tanya Shella memecah keheningan. Ia menatap Anza sambil menyenderkan tubuh ke sandaran kursi malas.
"Iya, dua bulan yang lalu," jawab Anza.
"Baru dua bulan tapi lo gak cerita apa-apa ke kita? Parah lo," celetuk Clara sambil mengangkat satu alis.
"Apa alasan lo pindah? Kok tiba-tiba?" tanya Nessa.
Anza menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Pandangannya tetap tak lepas dari air kolam yang berkilau diterpa matahari senja.