20. LAGI LAGI RATU

109 2 0
                                        

20

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

20. LAGI LAGI RATU

Terlalu banyak mencintai bisa membuatmu lupa bagaimana cara melepaskan- Danialanza

Kelas 12 IPA 1 sepi. Sebagian besar murid sudah pergi ke kantin untuk menikmati istirahat mereka, meninggalkan ruang kelas yang sunyi. Hanya ada beberapa orang yang memilih bertahan di dalam. Di sudut kelas, Danial duduk bersama Ilham. Danial matanya terfokus pada layar ponselnya.

Ratu muncul, melangkah cepat menuju meja Danial. Dia tidak peduli dengan siapa pun yang ada di sana, matanya langsung terfokus pada Ilham yang sedang duduk di sebelah Danial. Tanpa memberi kesempatan untuk berbicara, dia langsung membuka mulut dengan nada yang tegas.

"Pergi sana, gue mau duduk di sini sama Danial," ujar Ratu, suaranya tegas dan tanpa ragu. Kata-katanya seolah perintah yang tidak bisa ditolak.

Ilham hanya mendengus kesal. Sudah terlalu sering dia menghadapi sikap Ratu yang seolah menganggap dirinya berhak mengatur semuanya. "Ya udah, gue pergi," jawab Ilham malas. Meskipun dia merasa sedikit risih, dia sudah lelah untuk berdebat dengan Ratu. Lebih baik pergi daripada membuang waktu."Awas lo macam-macam sama temen gue, "tambah Ilham.

Setelah Ilham pergi, Ratu langsung duduk di sebelah Danial dengan cepat. Tanpa pikir panjang, dia melingkarkan tangannya di sekitar lengan Danial, berusaha untuk mendekatkan diri. Namun, reaksi Danial cepat dan tegas—dia menepis tangan Ratu dengan kasar. Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi yang tidak suka, matanya memancarkan rasa risih yang mendalam.

."Lo bisa nggak sih berhenti kayak gini?" katanya dengan tegas, namun ada kelelahan di suaranya. "Gue lagi nggak mood buat ini semua."

Ratu, meskipun merasa sedikit terkejut, tidak langsung mundur. Dia tetap mendekat, mencoba menarik perhatian Danial lebih jauh. "Kenapa sih, Danial? Gue cuma mau deket sama lo seperti biasa, nggak ada yang salah, kan?" kata Ratu, suara manja yang biasa dia gunakan.

Danial menghela napas panjang, mencoba untuk kembali fokus pada ponselnya, tetapi Ratu terus menganggunya. "Gue lagi sibuk, Rat. Lo bisa minggir nggak?" katanya dengan suara lebih keras, kali ini sedikit frustrasi. "Gue nggak mau debat. Lo harus pergi."

Dalam pikiran Ratu, Danial adalah miliknya. Selalu. Dia tidak bisa membiarkan ada perempuan lain yang mengganggu kedekatannya dengan Danial. Ratu merasa seperti dia memiliki hak penuh atas Danial, dan dia tidak akan membiarkan siapapun mengambil tempatnya.

"Gue nggak peduli kalau lo nggak suka, Danial," kata Ratu dengan penuh tekad. "Gue nggak akan biarin lo deket sama cewek lain. Gue nggak peduli kalau lo risih. Gue akan terus di sini, sampai lo ngerti kalau gue yang terbaik buat lo."

Danial terdiam, matanya terpejam sejenak. Dia merasa terjebak, tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan perasaannya pada Ratu. Ratu memang selalu seperti ini—keras kepala dan sangat terobsesi dengan dia. Danial sudah mencoba berbagai cara untuk menjelaskan, namun Ratu selalu kembali dengan alasan yang sama: bahwa mereka seharusnya bersama.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang