46. GALANG DAN KISAHNYA

76 1 0
                                        

46

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

46. GALANG DAN KISAHNYA

Aku bisa berjalan sejauh apa pun menyusuri dunia yang asing. Tapi saat hening datang, tetap kamu yang terasa seperti rumah-Danialanza

Langit pagi masih abu-abu nyaris enggan membuka hari. Sinar matahari pun belum sepenuhnya hangat. Di dalam kelas yang masih sepi hanya terdengar suara kipas angin yang berderit pelan dan suara langkah kaki dari luar lorong. Bel masuk belum juga berbunyi. Di barisan bangku dekat jendela, Galang duduk menyandar lemas, pandangannya kosong menatap ke arah halaman sekolah. Bara duduk di sebelahnya, memperhatikan raut wajah sahabatnya yang tak seperti biasa.

"Kenapa murung?" tanya Bara memiringkan kepalanya sedikit berusaha mencari tatapan mata Galang.

Galang menghela napas panjang, seolah menarik beban dari dadanya. "Abel minta break," jawabnya akhirnya pelan dan berat.

Bara langsung mengernyit, tak menyangka. "Ha? Kok bisa? Bukannya hubungan lo sama dia udah baik-baik aja belakangan ini, ya?"

Galang mengangguk pelan masih menatap jauh ke luar jendela. "Gue juga kira gitu. Tapi dia bilang... dia ngerasa gue masih mencintai Anza."

Hening sebentar. Bara menarik napas mencoba memahami. Lalu dengan suara pelan tapi tegas, dia bertanya, "Lo sendiri... masih ada rasa enggak sama Anza?"

"Gue nggak tahu," katanya nyaris seperti bisikan. "Kadang gue mikir udah nggak, tapi tiap nama dia disebut, hati gue... masih bergetar. Ngelihat dia kayak kemarin gue ngerasa gak terima. Gue marah."

"Mungkin Abel udah ngerasa capek, Lang," ucapnya pelan tapi mantap. "Dan kalau dia minta break karena itu, itu bukan salah dia. Dia cuma lagi jujur sama perasaannya sendiri."

"Sekarang coba lo renungin deh. Siapa yang sebenernya masih lo cinta sampai sekarang. Kalau emang lo masih cinta sama Anza, yaudah, lo lepasin Abel. Jangan bawa dia ke dalam hubungan rumit yang ada lo dan Anza di dalamnya. Abel bukan pelarian, Lang."

"Gue nggak pernah mau nyakitin Abel," gumam Galang.

"Gue tahu," sahut Bara. "Tapi kadang niat baik pun bisa jadi menyakitkan kalau lo nggak jujur. Sama dia dan sama diri lo sendiri."

"Gue bingung, Bar. Anza... dia bagian dari masa lalu gue yang belum kelar. Tapi Abel, dia yang selalu ada waktu gue lagi hancur. Dia yang nolongin gue bangkit lagi."

"Tapi justru karena itu lo harus bisa nentuin. Jangan bikin Abel ngerasa cuma jadi tempat sembunyi dari luka lo yang lama. Dia pantas dapet cinta yang penuh, bukan setengah."ujar Bara.

"Lo itu belum selesai sama perasaan lo sama Anza," ujar Bara lagi.

Galang menghembuskan napas pelan menunduk dalam. Tangannya mengepal di atas meja.

"Gue nggak tahu, Bar. Gue nggak tahu kenapa rasa ini nggak hilang-hilang. Padahal udah lama, udah gak komunikasi, udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi tiap Anza ada... gue ngerasa kayak—"

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang