Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
28. MARKAS
Mungkin bukan aku yang nemenin kamu sampai akhir. Tapi aku bahagia pernah nemenin kamu di salah satu bab hidupmu-Danialanza
Markas Galaksi sore itu tidak seperti biasanya. Biasanya, tempat itu dipenuhi gelak tawa, gurauan receh, dan suara gaduh anak-anak laki-laki yang menjadikan persahabatan sebagai pondasi hidup. Tapi hari ini ada sesuatu yang berubah. Bukan pada tempatnya, tapi pada salah satu penghuninya.
Galang.
Cowok itu datang dengan wajah datar, tanpa senyum lebarnya yang khas. Langkah kakinya tidak tergesa, tapi juga tidak lamban. Ada yang berubah dari cara dia membuka pintu markas hari ini. Tidak ada sapaan, tidak ada salam, hanya sebuah anggukan pelan yang dilempar begitu saja saat dia masuk.
Danial yang duduk di dekat jendela hanya menoleh sebentar. Mereka sempat bertatapan, tapi tidak ada kata. Galang hanya melempar senyum tipis, selewat, seperti sedang memaksakan bibirnya untuk bergerak demi sopan santun. Danial tidak membalas.
Galang melewati anak-anak lain dan langsung duduk di samping Rifky. Badannya bersandar lelah ke dinding, dan ia membuang napas panjang seperti baru saja selesai bertarung dengan dirinya sendiri.
"Wih, yang kita tunggu akhirnya datang juga," seru Ilham sambil tersenyum lebar, mencoba memecah suasana.
Galang hanya menoleh sekilas, lalu kembali menunduk, menggenggam jemarinya sendiri. Tangannya sedikit gemetar.
"Hati aman, Lang?" tanya Aldric yang duduk berseberangan dengannya, nada suaranya seperti bercanda tapi matanya menyiratkan keprihatinan.
Galang tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah Aldric, lalu ke arah meja kayu yang di atasnya ada botol minuman soda setengah habis dan bungkus camilan kosong.
Vano ikut nimbrung, menggeleng pelan. "Berita lo sama Anza heboh banget, Lang," celetuknya, setengah kaget, setengah menyayangkan.
"Berantem dalam hubungan itu wajar kok, Lang," ucap Rifky sambil memainkan tutup botol minuman. "Gue aja sama pacar gue sering berantem. Ntar juga baikan kalo udah kangen. Lo juga gitu kan, pasti?"
Ucapan itu terdengar ringan, mungkin niatnya memang baik. Tapi bagi Galang, itu justru seperti membuka kembali luka yang baru mulai mengering.
Galang menoleh pelan ke arah Rifky, matanya tampak sayu. Ia menelan ludah, menahan emosi yang mendesak naik ke kerongkongan.
"Kalau masih bisa baikan, namanya belum hancur, Ky," jawab Galang lirih. "Masalah gue sama dia bukan cuma soal berantem, bukan cuma beda pendapat atau saling gengsi... ini lebih dari itu."
"Udah, jangan galau mulu, Lang," celetuk Erza tiba-tiba, dengan ekspresi jenaka yang sudah dipersiapkan sejak tadi. "Contoh nih ya... Bara punya dua istri. Enaknya dalam hati kalau beristri dua."
Tawa Erza langsung meledak keras, memecah keheningan. Ia tertawa sambil menggoyangkan bahunya, seolah dia sendiri tidak kuat menahan kelucuannya.
"Pagi sama Thalia, malam sama Clara. Enak banget ya jadi Bara," sambung Vano cepat, geleng-geleng kepala dengan gaya dramatis, menambahkan bensin ke dalam api candaan.