Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
56. KEHIDUPAN SEBENARNYA
Seperti hujan yang tak pernah bisa digantikan oleh matahari, dia adalah bagian dari langitku yang tak bisa hilang begitu saja- Danialanza
Sudah dua tahun, namun rasa rindu itu tak pernah beranjak. Danial duduk di tepi jendela apartemennya yang luas, menatap langit malam Sydney yang berpendar dalam warna biru gelap. Ia mengusap pelan dadanya yang kosong, seolah mencoba mengisi kekosongan yang tak pernah terisi, meski ia sudah mencoba berteman dengan keheningan kota ini.
Australia, negeri yang begitu jauh dari tanah kelahirannya sudah menjadi tempat yang asing meskipun ia sudah dua tahun menghabiskan waktu di sana. Hidup sendiri, jauh dari keluarga, teman, dan kenangan manis tanah air, Danial merasakan kesepian yang sulit dijelaskan. Semuanya serba putih dari dinding apartemen hingga langit yang hampir selalu tampak cerah. Tapi warna-warna itu tak mampu menutupi rasa sunyi yang ia rasakan.
Ia mengenang saat pertama kali menginjakkan kaki di Australia perasaan itu tak jauh berbeda dengan perasaan yang kini ia rasakan. Waktu itu ia merasa seperti burung yang terbang jauh dari sarangnya, memutuskan untuk mengejar mimpinya sebagai pilot dengan sekolah di Australian National Airline College.
Setiap hari, ia membiasakan diri dengan kehidupan yang terkadang monoton. Sekolah yang padat, latihan terbang, dan kemudian malam yang datang begitu cepat. Saat ia merasa lelah, Danial sering memasak sendiri makanannya—kadang-kadang hanya untuk menghilangkan rasa kesepian itu, sesederhana itu. Sesekali, ia akan membeli makanan siap saji jika merasa bosan dengan masakannya sendiri. Tapi pada akhirnya semua itu tak bisa menghapuskan kerinduannya untuk pulang. Untuk pulang ke Indonesia. Untuk merasakan kembali hiruk-pikuk Jakarta atau bahkan hanya duduk di warung kopi pinggir jalan dengan teman-teman lama.
Danial menyandarkan tubuhnya di kursi menatap foto-foto lama yang tersimpan di ponselnya. Ada foto keluarga, ada foto teman-teman sekolahnya dan ada pula foto-foto momen yang kini terasa seperti kenangan yang jauh sekali. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, meskipun hatinya terasa berat.
Satu-satunya yang ia miliki di sini adalah James, sahabat dekat yang ia temui selama berada di Australia. James adalah pria keturunan Australia-India dan meskipun mereka berbeda latar belakang kedekatan mereka seolah menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Saat itu ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari sosial media—aplikasi yang sudah lama tidak ia buka. Mungkin setahun atau lebih. Danial mengerutkan kening, sejenak ragu. Biasanya, ia tidak terlalu tertarik untuk melihat apa yang ada di sana, terlebih setelah ia memutuskan untuk lebih fokus pada kehidupan di Australia meninggalkan banyak hal di belakang. Tapi kali ini, entah kenapa jari-jarinya bergerak otomatis membuka aplikasi itu.
Layar ponselnya memunculkan beranda sosial media. Foto-foto teman, update status yang tak begitu menarik—semua itu berjalan cepat di hadapannya, hingga akhirnya matanya berhenti pada satu potret.