Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
39. LUKA LAMA ABEL
Aku nggak pernah punya kuasa memilih siapa ibuku, di mana aku lahir, dan bagaimana aku tumbuh. Tapi kamu menyalahkanku seakan aku menciptakan semua ini dengan sengaja-Danialanza
Langkah kaki Abel terdengar berat saat memasuki rumah kecil yang remang. Sepatu kets-nya yang sudah mulai aus menyeret debu lantai yang tak sempat dibersihkan. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Ia baru pulang karena tadi habis dari rumah Galang bertemu orang tua dan kakaknya Galang.
Begitu membuka pintu, aroma tajam alkohol langsung menusuk hidungnya. Ia menghela napas dalam. Lagi-lagi.
Matanya tertuju pada sosok perempuan yang duduk di sofa ruang tamu dengan postur yang tak lagi tegap. Wanita itu duduk menyender, bibirnya menggigit rokok, dan asapnya mengepul di udara memenuhi ruang dengan aroma pahit dan getir. Asbak di atas meja sudah penuh dengan puntung-puntung rokok yang dibakar setengah-setengah. Matanya sayu, kelopak matanya tampak berat, mungkin efek dari mabuk yang belum sepenuhnya reda.
Abel diam di ambang pintu. Hatinya bergejolak. Ia sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti ini, tapi malam ini berbeda. Ada sesak yang mendesak di dadanya, terlalu penuh untuk terus dipendam.
"Mau sampai kapan Mama kayak gini?" suaranya pecah, tak bisa ditahan lagi.
Perempuan itu menoleh perlahan, matanya yang setengah tertutup menyipit, berusaha fokus pada wajah anaknya.
Abel melangkah mendekat. Napasnya mulai tak teratur, matanya berkaca-kaca. "Mama selalu pulang malam. Selalu mabuk. Selalu bau rokok. Abel capek ma."
Mamnya terdiam, memalingkan wajah ke arah jendela yang tertutup tirai usang. Ia mengisap rokoknya sekali lagi, lalu mematikan bara di ujungnya dengan jari tanpa ekspresi. Mungkin rasa sakit sudah tidak ia rasakan lagi.
"Abel malu, Ma... Mama nggak pernah berubah..." suaranya pecah, tangisnya meluncur pelan tapi menyayat.
Ia duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa, mencoba menahan sesak di dada. Di sekolah, dia selalu menjadi murid yang tenang, pendiam, tapi pintar. Semua guru menyukainya. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa anak itu setiap malam pulang ke rumah dengan ketakutan—takut mamanya pingsan di jalan, takut tetangga melihat mamanya pulang dengan langkah sempoyongan, takut ada temannya yang lewat dan melihat kenyataan yang selama ini dia tutupi rapat-rapat.
"Abel tuh gak pernah minta yang aneh-aneh, Ma. Abel cuma pengen Mama berhenti nyakitin diri sendiri. Mama tahu gak... Abel selalu pura-pura kuat, padahal Abel capek banget."
Mamanya tak menjawab. Ia hanya menarik selimut tipis yang tergeletak di sampingnya dan menutupi sebagian wajahnya.
"Abel anak di luar nikah, ya. Abel tahu. Semua orang tahu. Tapi Abel gak pernah nyalahin Mama. Cuma... kenapa Mama gak coba sedikit aja jadi orang yang bisa Abel banggain?"