27. DIA GAK CINTA KAMU

90 1 0
                                        

27

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

27. DIA GAK CINTA KAMU

Aku cuma butuh waktu buat ngebiasain diri tanpa kamu. Sambil berdoa, semoga kamu benar-benar bahagia di tempat yang aku nggak bisa datengin-Danialanza

Langkah Anza terhenti tepat di depan pintu kelas 11 MIPA 1. Dadanya naik turun, napasnya memburu. Tangannya mengepal, matanya menyusuri sekitar sampai akhirnya menemukan sosok itu. Sosok yang sejak beberapa minggu terakhir selalu berusaha menjauh, pura-pura sibuk, pura-pura tak peduli—Galang.

Tanpa pikir panjang, Anza menghampirinya, menarik tangan Galang dengan kuat hingga cowok itu terpaksa berbalik.

"Kenapa lo jauhin gue, Lang?" tanya Anza, nadanya penuh luka yang tertahan. Matanya menatap lekat wajah Galang yang sempat ia rindukan yang dulu rasanya begitu dekat.

Galang tak menjawab. Pandangannya jatuh pada lantai, menghindari tatapan mata Anza yang basah tapi penuh nyala amarah.

"Salah gue apa, Lang?!" suara Anza meninggi untuk tidak ada orang di dalam kelas. Dia sudah terlalu lelah menahan semuanya sendiri. "Mana kata-kata lo yang dulu bilang mau selalu ada di samping gue? Nyatanya lo pergi. Lo ngejauhin gue seolah gue ini siapa?"

Galang mengepalkan tangannya. Ada gemetar halus di ujung jemarinya, tapi dia tetap tak menatap Anza.

"Gue pengin lupain perasaan gue, Za." Akhirnya ia bicara, suaranya serak. "Gue pengin mandang lo sebagai sahabat, bukan sebagai perempuan yang gue cintai."

Anza terdiam. Nafasnya tercekat, dadanya seperti ditampar kenyataan yang pahit.

"Jadi... lo nyerah sekarang?" tanyanya pelan. "Setelah bertahun-tahun lo sayang sama gue, lo pilih nyerah sekarang?"

"Gue capek, Za," Galang menghela napas dalam. "Capek berharap. Capek nunggu. Dan... gue pikir, kalau gue terus sayang sama lo, gue nggak akan pernah bisa tenang."

"Ini karena lo deket sama dia, ya?" bisiknya, matanya berkaca-kaca. "Karena Abel? Makanya lo ngomong gini?"

Galang langsung menoleh, ekspresinya berubah tegas.

"Jangan pernah bawa-bawa nama Abel!" bentaknya. "Dia nggak tahu apa-apa!"

Anza mundur satu langkah. Bentakan itu bukan cuma mengejutkan, tapi seperti pisau yang menancap dalam-dalam di dadanya. Selama bertahun-tahun mengenal Galang, baru kali ini cowok itu membentaknya sekeras itu.

"Lo... bentak gue?" bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Tangannya refleks menggenggam lengan kirinya, mencoba mencari pegangan.

Galang mengusap wajahnya kasar. "Maaf. Tapi lo gak adil, Za. Lo gak tahu gimana rasanya nunggu lo bertahun-tahun, berharap lo lihat gue lebih dari sekadar temen. Tapi lo gak pernah lihat. Lo cuma datang kalau lo butuh gue. Lo gak pernah benar-benar milih gue."

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang