Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
GALANG DAN ANZA [SELESAI]
Semesta pernah tawarkan banyak pelabuhan, tapi hatiku hanya berlabuh padamu- Danialanza
Langit mulai mengubah warnanya menjadi jingga keemasan mengusir pelan-pelan biru langit siang yang perlahan lelah. Di ujung cakrawala matahari seperti sengaja berhenti sejenak, membiarkan sepasang insan itu menikmati detik-detik magis dari ketinggian Gunung Sindoro.
Angin berembus lembut, menyisir rambut Anza yang panjang hingga berkibar pelan di bahunya. Di sisinya, duduk Galang—diam tapi penuh makna. Mereka tak butuh banyak kata untuk saling mengerti. Hanya duduk bersebelahan di tepi jalur pendakian di bawah langit yang mulai berpendar warna, itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Akhir pekan ini adalah mimpi yang akhirnya jadi nyata untuk Anza. Sejak dulu ia ingin sekali naik gunung. Bukan karena sedang patah hati, bukan juga untuk melarikan diri. Tapi karena ia tahu, ada ketenangan di ketinggian, ada kejujuran dalam napas yang terengah-engah, dan ada cinta yang semakin nyata saat kau mendakinya dengan seseorang yang mencintaimu tanpa batas.
Dan sekarang, ia mendakinya bersama Galang. Sahabatnya. Teman kecilnya. Laki-laki yang tahu seluruh kisah hidupnya bahkan sebelum ia bisa menyusunnya jadi kata.
Tangan Anza menggenggam kamera kecil. Ia baru saja mengambil beberapa gambar: Galang yang berdiri dengan latar belakang Sindoro yang gagah, lalu selfie mereka berdua dengan matahari tepat di antara wajah.
"Indah banget, Galang," seru Anza dengan mata berbinar.
Galang menoleh tersenyum ringan, lalu berkata pelan namun mantap, "Indah? Yang paling indah menurutku ada di sebelahku ini."
Anza menunduk malu, tertawa pelan.
Galang mengelus rambut panjang Anza dengan lembut. "You happy?" tanyanya pelan nyaris seperti bisikan.
Anza menoleh menatap mata teduh Galang yang selalu berhasil membuatnya tenang bahkan di badai paling besar dalam hidupnya.
"Happy. Makasih udah nurutin kemauan aku." Suaranya serak karena angin dingin atau mungkin karena rasa yang meluap-luap. "Kamu selalu ada buat aku... bahkan di hari-hari terburukku. Kamu gak pernah ninggalin."
Galang menghela napas pelan senyumnya mengembang. "Selalu. Aku akan selalu ngelakuin semua wishlist yang kamu buat."
Anza menunduk sebentar, lalu tersenyum sambil mengeratkan genggaman tangan mereka. Jemari mereka bertaut seperti akar-akar pohon yang tumbuh bersama sejak kecil. Kokoh. Tak tergoyahkan.
"Dulu aku kira cinta sejati itu harus bikin deg-degan," ujar Anza pelan. "Ternyata yang bikin tenang... yang gak bikin takut kehilangan... itu yang sebenarnya."
Galang menatapnya lama. "Aku bukan cinta SMA-mu, Za," katanya pelan. "Tapi aku harap aku bisa jadi cinta seumur hidupmu."
Anza tersenyum. Senyuman yang lebih hangat dari sinar mentari di balik Sindoro.
Dan di bawah langit luas itu di antara awan dan aroma embun pagi, Anza tahu satu hal pasti: Pangerannya bukan laki-laki yang pernah membuatnya menangis di bangku sekolah. Bukan laki-laki yang pernah membuatnya berbunga dan bersemangat pergi ke sekolah.
Pangerannya adalah Galang. Sahabat kecilnya. Laki-laki yang diam-diam mencintainya dalam diam panjang. Yang selalu ada bukan karena diminta, tapi karena dia memang tak pernah berniat pergi.
Mereka tidak sedang mendaki untuk melupakan patah hati. Mereka mendaki karena cinta yang mereka bawa ke atas gunung ini adalah cinta yang tidak butuh alasan untuk tetap bertahan.
"Kita akan ngenang ini... bahwa aku selalu bahagia ada di sampingmu. Menemanimu berproses... hingga tua nanti." Kata-kata itu meluncur dari bibir Galang dengan lembut, seperti doa yang dilantunkan tanpa tergesa, seperti janji yang diikatkan pada ujung senja.
Anza menatap Galang dalam-dalam. Sekilas waktu terasa melambat. Angin pun seperti berhenti sejenak demi memberi ruang bagi detik itu untuk menjadi abadi.
Dengan senyum tipis yang penuh makna Anza mengangkat tangannya pelan. Ia mengelus lembut rahang Galang. Galang baginya—rumah yang tak pernah lelah menunggunya pulang seberapa pun jauh ia melangkah.
"Galang..." bisik Anza pelan. "Terima kasih. Untuk jadi tempat aku bertumbuh. Untuk tetap tinggal, bahkan saat aku belum selesai dengan diriku sendiri."
Galang tak menjawab, hanya menutup matanya sejenak menikmati sentuhan Anza. Jemari Anza dingin karena udara pegunungan, tapi ada kehangatan yang menyelinap dari dalamnya, merambat ke dalam dada Galang dan menetap.
"Kamu tahu nggak?" lanjut Anza suaranya gemetar tapi tulus. "Dulu aku pikir cinta itu harus penuh drama, penuh kejutan. Tapi kamu... kamu justru datang dengan tenang. Kamu hadir kayak fajar. Pelan, tapi pasti. Dan tau-tau... aku nggak bisa bayangin hari-hari tanpamu."
Galang membuka matanya menatap Anza seolah dunia cuma berisi satu orang. Dia.
"Karena cinta yang paling lama bertahan itu bukan yang paling heboh, Za. Tapi yang paling sabar." Galang tersenyum tipis. "Dan aku... akan terus sabar. Untuk kamu."
Anza tak bisa lagi menyembunyikan air matanya. Bukan karena sedih, tapi karena terlalu bahagia hingga hatinya tak cukup luas menampung semua rasa.
****
AKHIRNYA FINALLYYYY!!! CERITA INI SELESAI
TERIMA KASIH BUAT TEMEN-TEMEN YANG UDAH BACAIN CERITA DANIALANZA SAMPAI HABIS MAAF YA TIDAK SESUAI EKSPETASI KALIAN
LOVE LOVE BUAT KALIAN SEMUA
APAKAH KALIAN MENUNGGU DANIALANZA 2 KALAU MAU KOMEN YA AKAN AKU BUATIN HEHE
TERNYATA YANG MENANG TIM GALANGANZA NIH? MAAF YA TEMEN-TEMEN
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.