54. PENGAKUAN BARU

136 1 0
                                        

54

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

54. PENGAKUAN BARU

Kamu tidak perlu menyembuhkan luka semua sekaligus, perlahan-lahan saja, dan biarkan waktu yang bekerja- Danialanza

Di sebuah cafe kecil dekat sekolah, suasana senja membuat tempat itu terasa tenang dan sedikit romantis meski suasana hati Anza tengah diliputi kebingungan. Ia duduk di hadapan Danial yang lebih sering memperhatikan cangkir kopinya daripada menatap wajah Anza. Anza merasa ada yang aneh.

"Kakak, kenapa ngajak aku ketemu di sini?" tanya Anza dengan nada yang lembut, mencoba menebak maksud pertemuan ini.

"Maaf ya, Za. Maafin gue atas semua sikap gue selama ini." Suaranya terdengar berat, seolah-olah kata-kata itu sudah terpendam dalam waktu yang lama.

Anza terdiam, menatap Danial dengan pandangan yang sulit untuk dijelaskan. Terkadang, kata maaf terlalu sederhana untuk menggambarkan segala kesalahan yang telah dilakukan seseorang.

"Gue udah bohongin lo, gue udah buat lo kecewa," lanjut Danial dengan suara rendah, namun penuh penyesalan. "Gue bener-bener merasa bersalah udah nyakitin cewek baik kayak lo, karena perasaan gue ke Shella, gue jadi nyakitin lo yang gak tahu apa-apa."

"Aku nggak papa, Kak. Lagian, aku udah maafin kok." Anza akhirnya membuka suara, menatap Danial dengan lembut. "Aku juga nggak marah sama Kakak. Udah berlalu juga."

"Kenapa Za? Kenapa lo bisa maafin gue dengan mudah?" tanya Danial, masih tidak bisa mengerti mengapa Anza begitu mudah untuk melepaskan semua yang telah terjadi.

Anza menatapnya dengan senyum tipis. "Aku nggak mau menaruh dendam kepada siapa-siapa, Kak," jawabnya. "Gak ada gunanya. Semua orang punya salah, dan kita nggak bisa terus-terusan hidup di masa lalu."

"Lo baik, Za. Harusnya lo nggak mencintai cowok brengsek kayak gue," kata Danial, suaranya penuh penyesalan. "Gue udah nyakitin lo, dan gue nggak tahu gimana bisa tebus semuanya."

Anza menatapnya dengan pandangan lembut, meskipun hatinya masih terasa berat, ia mencoba untuk tidak terbawa perasaan sesaat.

"Cinta nggak bisa milih, Kak. Jatuh cinta sama siapa, itu nggak bisa dikendalikan," jawab Anza pelan, menatap Danial dengan tatapan penuh pengertian. "Aku jatuh cinta sama kakak karena kakak, bukan karena siapa yang seharusnya aku cintai."

Cinta itu memang tidak bisa dipaksakan.

"Aku juga malah mau bilang makasih, Kak," lanjut Anza dengan sedikit senyum, meskipun matanya terlihat serius. "Karena Kakak udah nolong aku kemarin. Kalau nggak ada Kakak ataupun Galang, aku nggak tahu apa yang terjadi sama aku nantinya."

"Ini nggak ada apa-apa, Za," kata Danial, suara penuh dengan penyesalan. "Gue ingin menebus semua kesalahan gue kemarin. Gue nyakitin lo di depan mata lo sendiri."

"Kakak udah, ya," jawabnya pelan. "Aku nggak papa beneran. Lagian, kakak nggak pernah sama sekali salah. Jangan merasa bersalah terus, kak."

Mereka mengobrol dengan ditemanin kentang goreng renyah dan burger beef cheese yang sudah hampir habis. Di hadapan Anza, gelas strawberry milk-nya berdesir ringan, sementara Danial menikmati jus alpukat yang segar dengan rasa alami yang menyegarkan. Suasana kafe yang sedikit sibuk terasa lebih tenang karena agak sepi.

DANIALANZA [ END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang