Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
30. BERTEMAN
Bahagiaku bukan saat kau menggenggam tanganku, tapi saat kulihat matamu berbinar tanpa luka, tanpa beban - Danialanza
Pintu kelas tiba-tiba terbuka keras. Danial masuk dengan langkah cepat dan sorot mata yang menyala penuh amarah. Semua pembicaraan langsung terhenti. Ilham, yang duduk di barisan tengah bersama teman-teman lainnya, menoleh kaget. Ratu pun perlahan menoleh, menatap datar ke arah Danial yang sekarang berdiri tepat di hadapannya.
"Lo gila ya, Ratu," suara Danial menggema tajam di dalam kelas. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pembuka. Hanya kemarahan yang langsung menghantam.
Ratu hanya mendengus pelan, menyilangkan tangan di dada. "Gue gak mau lo jadi milik orang lain," katanya dengan suara lirih, tapi cukup jelas untuk membuat seluruh kelas menahan napas.
Suara itu tidak bergetar. Tidak menyesal. Hanya dingin. Tegas.
Danial mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "Jangan gila. Jangan terlalu obsesi sama sesuatu," balasnya, nada suaranya bergetar menahan emosi. "Anza gak salah. Gak seharusnya lo ngelakuin hal gila kayak gitu."
Wajah Ratu tak berubah. Tidak menunjukkan rasa bersalah, tidak juga marah. Hanya... kosong.
Ilham yang sejak tadi hanya diam, akhirnya ikut bersuara. Ia geleng-geleng kepala, kecewa. "Apa yang lo lakuin itu salah, Rat."
Ratu menoleh ke Ilham, lalu kembali pada Danial. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Lo gak ngerti, Dan. Gue kehilangan kontrol karena gue peduli. Karena gue gak mau kehilangan lo."
Danial mundur satu langkah, napasnya terengah karena emosi. "Lo gak punya hak buat milih siapa yang bisa deket sama gue, apalagi sampe nyakitin orang lain."
"Lo harus buang sikap obsesi lo itu," suara Vano terdengar jelas, dari bangku dekat jendela. Ia berdiri perlahan, menatap lurus ke arah Ratu. Suaranya tenang tapi tegas "Gak semua apa yang lo suka bisa lo milikin beneran."
Semua sudah mulai beranjak pergi. Tapi Ratu masih duduk di tempatnya, tak bergerak, seolah akar-akar emosinya sudah menancap dalam di kursi itu. Matanya yang semula mulai melembut, kini kembali tajam—dan kali ini, lebih dari sekadar marah. Ada tekad gila yang menyala di sana.
Dia berdiri perlahan.
Menatap lurus ke arah Vano, lalu melirik Ilham, sebelum akhirnya menatap pintu yang baru saja dilalui Danial beberapa menit lalu.
"Gue gak peduli," katanya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh bara.
Vano yang masih duduk sontak menoleh, begitu juga Ilham yang baru saja memasukkan buku ke dalam tas. Seketika udara terasa berat.
"Gue cuma mau lo, Nal..." Ratu mengatakannya seolah Danial masih berdiri di depannya. "Dan apapun akan gue lakukan."
Kata-kata itu meluncur dari bibir Ratu seperti janji yang tak bisa dicabut. Penuh obsesi. Penuh luka. Dan yang paling mengerikan—penuh niat.