Anza telah lama diam-diam menyukai kakak kelasnya. Setelah menyimpan perasaan itu dalam hati untuk waktu yang lama, akhirnya Anza memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, jawaban Danial sangat mengecewakan. Danial dengan tegas menol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
23. PERIHAL HATI MANUSIA
Cinta itu bukan soal ketakutan, melainkan soal memilih orang yang bisa membuat segala rasa itu jadi indah-
Anza melangkah dengan langkah pelan di antara rak-rak skincare yang teratur rapi. Matanya sesekali melirik botol-botol berisi serum, krim, dan toner yang menghiasi rak. Tapi, meskipun di sekelilingnya ada puluhan pilihan produk kecantikan, hati Anza seakan kosong. Pikiran dan perasaannya terlalu terfokus pada satu sosok—Galang.
Dua minggu terakhir, Galang memang berbeda. Tidak lagi banyak bercanda seperti dulu, tidak lagi menghabiskan waktu bersama Anza seperti biasa. Anza tidak tahu kenapa, tapi ada rasa sepi yang menghinggapi hatinya setiap kali ia berada di dekat Galang. Perasaan ini semakin terasa ketika mereka bertemu, hanya untuk mendapati Galang terlihat seperti seseorang yang bahkan tidak ingin berbicara banyak dengannya. Seperti ada tembok tak terlihat yang menghalangi kedekatan mereka.
Sekarang, di mal yang ramai ini, Anza mencoba untuk melupakan kegundahannya. Bersama Nessa,. Anza berkeliling mencari produk skincare yang cocok. Skincare Anza sudah habisdan kebetulan Nessa ingin menemani belanja.
"Za, kenapa sih? Kok ngelamun?" suara Nessa memecah lamunannya.
Anza tersentak dan menoleh. Nessa, yang sedang memegang dua botol serum, menatapnya dengan penuh perhatian. Anza tersenyum tipis, berusaha menutupi kegelisahannya. "Nggak kok, Nes. Cuma... lagi bingung aja, Galang kok sekarang jadi aneh gitu. Gue... nggak ngerti deh."
Nessa menurunkan kedua botol itu ke dalam keranjang belanja mereka, lalu melangkah mendekat. "Aneh gimana? Kayak nggak biasa gitu?"
"Iya, kayak... dia nggak lagi jadi Galang yang gue kenal. Lo tahu kan, kita biasa banget ngobrol, ketawa, atau sekadar duduk diem bareng. Tapi sekarang dia... jauh. Bingung, deh. Jadi kayak orang asing." Anza menghela napas panjang, matanya jatuh ke lantai, mencoba menahan perasaannya.
Nessa mengerutkan dahi, mendengarkan dengan seksama. "Tapi, Za, mungkin aja ada yang terjadi sama dia. Bisa jadi dia lagi ada masalah yang nggak dia ceritain ke kita, atau... mungkin dia butuh waktu sendiri."
Anza mengangguk pelan, meskipun hatinya tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan Nessa. "Mungkin. Tapi... kenapa gue merasa semakin jauh sama dia, Nes?"
Nessa menepuk bahu Anza dengan lembut. "Kadang-kadang orang berubah, Za. Mungkin ini cuma fase aja. Jangan langsung nyalahin diri sendiri. Mungkin dia butuh waktu untuk kembali."
"Kenapa sih, dia harus ngilang gini? Apa gue salah?"dalam hati Anza bersuara.
Mungkin, dulu dia bisa tenang. Tapi kenapa sekarang, sepertinya ada sesuatu yang hilang? Kenapa dia merasa seperti ada yang salah ketika Galang nggak menghubunginya? Apa sebenarnya yang terjadi?
"Za, lo kan nggak suka sama Galang, kenapa lo masih gelisah kalau dia nggak ngehubungin lo?" tanya Nessa kepada Anza.
Anza menatap sahabatnya dengan pandangan kosong, terkejut oleh pertanyaan langsung Nessa. "Hah? Gue... gue nggak ngerti, Nes. Gue nggak suka sama dia. Gue tahu itu. Tapi kenapa rasanya kayak ada yang hilang? Kenapa rasanya hati gue nggak tenang?"