"People say I can be sad. But what if my sadness hurts other people?"
≈ H . O . M . E ≈
.
.
.
Berada di satu atap yang sama dengan orang-orang dengan karakter beragam bukanlah hal yang mudah dilakukan. Semua merasa bahwa mereka telah mengetahui satu sama lain padahal kalimat 'aku tau dia kok' terkadang merupakan satu substansi yang menjatuhkan segala keharmonisan.
Sebab pada dasarnya mereka memandang sebuah asumsi sebagai jawaban pasti. Dan kejadian Irene beberapa waktu lalu menjadi bukti eksplisitnya.
Kini situasi dapat sedikit lebih terkendali. Terbukti dari Irene yang duduk di ruang tengah dengan Wendy sambil mengobrol ringan, ditemani Moonbyul di sofa solo dekat televisi.
Namun sesungguhnya Irene dan Wendy hanyalah melakukan hal yang sama.
Pengalihan.
Pikiran mereka telah tertuju pada Joy yang duduk di counter dapur sendirian, menyuguhi diri sendiri dengan air putih dan camilan rendah kalori, serta menunduk dalam selagi mata tak ingin lepas dari ensiklopedi tebal yang terbuka di hadapan.
Moonbyul pun juga tak banyak bicara. Hanya duduk menikmati layar flat di depan dengan tatapan yang Irene lihat sedikit kosong seolah pikirannya terarah ke subjek lain, bukannya acara di televisi.
Nampaknya hari-hari tak akan berjalan secerah yang telah mereka bayangkan sebelum memutuskan tinggal bersama.
Irene dan Wendy itu peka. Beberapa menit lalu ketika Irene keluar dari kamarnya lantas menemukan Joy sama sekali tak bersuara, ditambah lagi jawaban singkat yang dilontarkan ketika Irene menanyakan hal-hal dasar seperti bagaimana kabarnya, membuat Irene semakin yakin bahwa semua yang Joy butuhkan saat ini hanyalah ruang untuk dirinya sendiri.
Hampir sama seperti Irene, Wendy pun juga secara cepat menangkap aura gelap yang tengah mengelilingi Joy.
Jelas ada sesuatu yang salah.
Ada api yang baru menyala dan mereka berdua pun tidak terlalu berani mengambil resiko untuk mengulik lebih jauh, memikirkan bila hal itu mungkin hanya akan menjadi sesuatu yang mengobarkan apinya semakin besar.
Lantas disitulah kesabaran diuji diantara mereka. Karena Rosé yang perlahan menuruni tangga setelah melakukan kelas online sepanjang hari, seketika mengarahkan kaki menuju ke arah dimana Joy mengambil tempat.
"Hai, Kak. Lagi ngapain?"
Ada sedikit gejolak di dada Joy atas perasaan terganggu yang muncul setelah adanya eksistensi di belakangnya nan tengah mengambil satu kaleng soda di kulkas; menciptakan desisan samar setelah aksinya membuka kaleng.
"Belajar."
"Tumben. Biasanya belajar kalo malem 'kan?"
Sejujurnya Irene atau bahkan semua penghuni lain agaknya telah menyadari bahwa Rosé, yang adalah sosok termuda di rumah, tidak se-sensitif itu dalam hal suasana hati.
Barangkali Ia masih terlalu 'mentah' untuk dapat memindai dan mengenali situasi dalam waktu singkat. Atau mungkin Rosé hanya sama lelahnya sehingga Ia tak terlalu peduli.
Jadilah Ia ikut menyamankan diri di sisi Joy kemudian menilik ke deretan tulisan yang terpampang di depan wajah Joy; begitu kompleks dan sedikit sulit dipahami.
"Loh bukannya minggu lalu kak Joy udah ujian biologi?"
"Mmm.."
Sungguh, Joy sebenarnya cuma menginginkan waktunya untuk belajar sendirian dan melepaskan kefrustasian yang terpendam di belakang kepalanya.
Tiap kali seseorang menyebutkan subjek apa yang tengah Ia pelajari kini, sebuah memori singkat dimana Ia menemukan namanya terletak dalam urutan kelima kelas akan lagi-lagi terputar dan memancing emosi untuk kembali meluap di relung.
Sebuah amarah menggebu-gebu yang Ia tujukan pada diri sendiri atas pemikiran bahwa Ia tidak lebih baik dari teman-temannya; bahwa Ia gagal untuk memberikan yang terbaik.
Joy hanya... iri.
Dia sudah bekerja keras bahkan satu bulan sebelum ujian biologi dilaksanakan. Lantas Ia ditampar dengan hasil yang menurutnya tak seberapa. Ia seolah dikhianati. Kerja kerasnya seolah sia-sia dan tak berpengaruh banyak bagi nilainya.
Seharusnya Ia tidak perlu belajar sekeras itu bila tahu hasilnya hanya akan seperti ini. Atau mungkin dia seharusnya bekerja jauh lebih keras dari yang sudah Ia lakukan karena 'work hard' tidak cukup untuknya.
Kemudian tekanan dari segala perenungan itu ternyata malah menyalakan ledakan yang jauh lebih intens dari yang Ia bayangkan, jadilah figur terdekat terkena dampaknya.
"Terus ngapain kak Joy—"
"CAN YOU JUST SHUT UP?! Peringkatku turun dari ujian sebelumnya dan aku ngerasa nggak berguna dan nggak pinter, dan aku frustasi karena aku ngerasa usahaku nggak berharga dan ocehanmu tu nggak ngebantu sama sekali. Jadi kalo kamu nggak mau bantu aku belajar mending diem aja!"
Mungkin tanpa mereka sadari, seluruh penghuni dalam ruamh itu memiliki satu kesamaan antara satu dengan yang lain.
Kesamaan tentang kebiasaan mereka menyimpan sesuatu sendirian dan membiarkannya berkembang sampai akhirnya meledak lantas membuat diri mereka tersiksa atas rasa bersalah sebab puing ledakannya telah menyakiti orang lain.
Terbukti dari bagaimana ekspresi tegang Joy berubah melunak dan menyesal di detik matanya menoleh hanya untuk disuguhi raut Rosé yang kaku; speechless.
"Maaf, Kak Joy. Aku nggak—"
"S–sorry, aku nggak... Just... I'm really sorry."
Yeah, diatas segalanya Irene balik memunculkan rasa bersalah juga karena sudah mengajak mereka tinggal dalam satu rumah meski mereka belum sepenuhnya mengerti satu dengan yang lain.
Dengan itu Irene berputar untuk menatap Joy yang melangkah cepat menuju kamarnya di lantai dua, sebelum akhirnya berdiri dari sofa dan menghampiri Rosé yang tampak sudah berkaca-kaca.
"It's okay. Dia cuma lagi nggak mood aja."
.
.
.
≈ H . O . M . E ≈
One more information about the character. I just... Aku excited dan takut di saat yang sama lolll
Regards
- E
KAMU SEDANG MEMBACA
Home ✔
Fiksi PenggemarKisah hidup sederhana maupun rumit dari 9 perempuan yang akhirnya memilih untuk tinggal di satu atap yang sama meski awalnya hanya mengenal lewat dunia virtual. Di masa pandemi yang masih terasa menegangkan, tanpa sadar mereka telah membangun keluar...
