"I am busy, but I think I still care."
⟩⟩ H . O . M . E ⟨⟨
.
.
With the help of laviern
.
.
Di dalam sebuah asrama kampus megah nan telah cukup diakui kualitasnya, dua orang gadis tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Sementara Moonbyul duduk di kursi belajar menghadap laptop menyala dengan tingkat kecerahan menusuk penglihatan, partner yang sering dijuluki sebagi soulmatenya malah berbaring di kasur dekat pintu sembari menggoyangkan ibu jari kanan diatas layar ponselnya.
Sungguh pemandangan yang total kontras dari kebiasaan, mengingat Wendy juga termasuk pihak ambis dari yang paling ambis, hampir persis seperti Moonbyul.
Bunyi keyboard yang terkadang ditekan terlalu keras telah beberapa kali menimbulkan geraman, indikasi terganggu dari sosok yang tampak tengah bermalas-malasan.
Hingga ketika Moonbyul mulai ikut terusik oleh suara-suara yang berasal dari ponsel kawannya, perempuan tersebut menoleh. Sedikit elegan karena ditambah gestur mendorong besi tengah kacamatanya sedikit keatas supaya dapat berada di posisi yang lebih pantas.
"Heh Wen, bukannya projek finalmu udah diinfo-in ya? Ga mau nyicil apa?!" Nadanya tak terlalu berbanding dengan cara bicara Moonbyul biasanya. Toh kalaupun berbeda dan mengisyaratkan kekesalan, pasti juga Wendy tak terlalu ambil pusing.
Mereka 'kan soulmate, after all. Sudah terlalu terbiasa dengan sikap satu sama lain.
"Bentaran ah. Lagi nontonin reelsnya Blackpink nih..." Tidak peka sekali memang Wendy jika sudah tentang Moonbyul. Padahal tatapan dari mata minus dibelakang lensa milik Moonbyul sudah menandakan sebuah sindiran.
Wendy sama sekali tak memperhatikan. If anything, perempuan berambut sebahu tersebut malah mengubah posisi hingga memunggungi Moonbyul. Tak berminat menggubris komentar lebih jauh dari pihak yang tengah berusaha menyelesaikan tugasnya.
Sesungguhnya ada sedikit keganjilan menyaksikan Wendy berada di asrama kali ini. Jika Moonbyul ingat-ingat lagi, Wendy merupakan persona cerdas dengan teman segudang. Sudah merupakan kewajaran bila hari-hari Wendy dimulai di pagi buta dan baru balik memasuki kamar di malam hari.
Jadi, yeah. Cukup aneh bila Wendy mendekam di kasur layaknya siang ini, bukannya hang out dengan lingkar pertemanannya.
Well, itu pun bukan urusan Moonbyul. Perempuan berkacamata itu tak dapat berkutat dengan pemikiran barusan lebih lama. Menyelesaikan tugas di depan mata merupakan tujuan awalnya, sehingga Moonbyul memilih untuk memutar lagi tubuhnya agar bisa kembali fokus pada ketikan 2,5 halamannya.
Lantas bersama keheningan yang selalu berhasil membuka pikiran, sebuah pertanyaan tahu-tahu memunculkan eksistensinya di dasar otak Moonbyul.
Langkah paling awal yang Ia ambil ialah memutar tubuh untuk kesekian kali sebelum menumpu satu siku diatas punggung kursi. Sesaat mempertimbangkan apakah Ia sungguh harus menyuarakan bisikan di kepala atau sekedar menyimpannya untuk diri sendiri.
Perlahan-lahan suara disekitar serasa menusuk telinga seiring Moonbyul berusaha menguburnya semakin dalam. Detikan jam dinding diatas pintu masuk pun entah bagaimana caranya terdengar bagai pukulan di tembok; sangat keras dan menusuk gendang telinga.
"Kamu libur semester besok mau balik ke rumah asli, Wen?" Pada akhirnya Moonbyul menyerah juga. Melepaskan penahan yang Ia bangun beberapa menit lalu.
"Engga sih. Ke rumah mainan. Ya iyalah ke rumah asli!"
"Seriusan, tolol!" Sungguh, Moonbyul hanya tak tahan untuk tidak melemparkan ensiklopedi tebal milik Wendy diatas meja belajarnya.
Jawaban Wendy yang memang pada dasarnya sangat jarang mendekati konteks 'serius', seolah menantang Moonbyul. Jadilah buku tebal bersampul keras tersebut mendarat secara kasar namun sempurna ke sisi wajah Wendy.
Pekikan disertai umpatan pun sudah dapat diperkirakan. Berangsur membangkitkan badan dari tidurnya sambil mengusap pipi merahnya, Wendy menatap Moonbyul dengan alis tertaut emosi.
Kali ini tak main-main.
"Ya menurutmu aja tai!" Bentak Wendy tak ragu. Masih teguh menusukkan tatapan tajam pada ekspresi rileks Moonbyul.
Tangannya tampak meremas ensiklopedi yang tadi menyerang wajahnya, seolah-olah bersiap meluncurkan balasan pada Moonbyul dengan cara yang persis sama.
"Maksudku, kamu mau mampir ke tempat kak Irene nggak? Dia juga nggak bisa dihubungin kan beberapa minggu terakhir?"
Kalimat yang baru saja diucap oleh Moonbyul faktanya berhasil membuat Wendy melupakan niat balas dendam nya pada gadis yang beberapa detik lalu memancing emosinya dengan aksi kurang ajarnya itu.
Sesungguhnya Ia sempat memunculkan ide untuk mengunjungi Irene. Terlebih karena saat Ia balik melirik ke arah ponsel yang tergeletak diatas tempat tidur melalui sudut mata, Ia menyadari bahwa dirinya telah cukup jarang melihat keterlibatan Irene dalam obrolan chat mereka sebelum gadis itu benar benar hilang tanpa kabar.
"Belum tau sih, tapi siapa tau kak Rene sibuk makannya ga sempet ngabarin?" Kedikan kedua bahu Wendy tampak rileks. Barangkali memang karena Ia tidak terlalu mengantongi pemikiran-pemikiran negatif selama menjalani hari-hari.
Meski begitu, tetap saja terdapat sebuah tanda tanya besar akan apa alasan Irene menghilang tanpa peringatan. Seolah-olah wanita dewasa tersebut berusaha memotong koneksi antara dirinya dengan perempuan lainnya.
"Sesibuk itu? Kalo emang iya, apa ga capek? Maksudku pas capek kak Rene kemana? Kenapa sama sekali gaada kabar?" Tutur Moonbyul sembari menelusur lebih jauh.
Lantas teman Moonbyul yang terdiam di pinggir kasurnya justru memperpanjang kesenyapan dengan sikap bungkamnya. Wendy sendiri mulai tidak yakin dengan apa yang dia katakan barusan.
Benar, Ia tidak ingin ambil pusing. Tapi disaat yang bersamaan dia pun memerlukan penjelasan akan kenapa Irene sama sekali tidak menyempatkan dirinya untuk sekedar menyapa mereka di ruang obrolan grup mereka.
"Okay, aku cuma tanya kamu mau mampir apa enggak." Mungkin Moonbyul mengerti diamnya Wendy sudah mengisyaratkan bahwa gadis itu pun sama sekali tidak memiliki jawaban.
Mengambil sedikit waktu dan mengijinkan keheningan menyergap ruangan mereka, Wendy akhirnya mengangkat kepala demi menatap Moonbyul tepat di bulatan hitam matanya.
"Terus kamu sendiri gimana?"
"Aku? Mungkin iya tapi kayaknya nggak sekarang." Jelas Moonbyul singkat.
Alih alih menatap lawan bicaranya ketika ia menjawab, dia malah menatap acak ke sembarang arah dengan sedikit perasaan resah yang entah bagaimana tiba tiba muncul. Dan pada akhirnya Moonbyul memutar kursinya dengan cepat dan kembali berpura pura menyibukkan diri dengan laptopnya setelah dia menyadari banyak keraguan yang terlihat begitu jelas ketika Ia melontarkan kalimatnya beberapa saat lalu.
.
.
.
⟩⟩ H . O . M . E ⟨⟨
Regards
- C
KAMU SEDANG MEMBACA
Home ✔
Hayran KurguKisah hidup sederhana maupun rumit dari 9 perempuan yang akhirnya memilih untuk tinggal di satu atap yang sama meski awalnya hanya mengenal lewat dunia virtual. Di masa pandemi yang masih terasa menegangkan, tanpa sadar mereka telah membangun keluar...
