#51. Such a Short Notice

233 13 2
                                        

"It might be over but it's not."

⟩⟩ H . O . M . E ⟨⟨

.

.

.

Senyum Irene tahu-tahu muncul kala menyaksikan dari kejauhan pemandangan menyenangkan hati dimana Yuri merelakan ponsel pertama yang dulu begitu Ia sayangi, untuk diberikan kepada sosok paling muda yang datang entah darimana, meneriakkan tragedi miris tentang hilangnya ponselnya. Sesungguhnya sedikit tidak enak hati sebab ada satu pengumuman yang belum mampu Irene sampaikan; bukan hanya kepada Rosé namun juga yang lainnya.

Lantas sensasi dingin yang menyentuh pipi kanan Irene seketika mengejutkannya hingga sedikit terlonjak dari duduknya. Agaknya menyesal tak dapat menahan rasa terkejut sebab begitu menoleh, yang Ia dapati sekedar sesosok Wheein dengan uluran tangan kanannya nan menggenggam jus jambu dalam kemasan botol.

"Aku rada nggak suka sama tatapan kayak gitu deh Kak. Biasanya kalo udah kayak gitu pasti ada sesuatu." Tutur Wheein sembari mempersilahkan dirinya sendiri untuk menemani Irene di sela bangku panjang sebelah kiri yang lebih tua.

Irene terkekeh untuk beberapa detik. Meskipun terdengar sungguh-sungguh dan sedikit lebih lama daripada kikikan Irene biasanya, namun Wheein jelas sudah menangkap aura tidak mengenakkan di sekitar persona Irene. Seolah-olah tawa itu membenarkan seluruh tuduhan Wheein padanya.

Pada akhirnya, Wheein pun tidak mendapatkan apa-apa. Mereka berdua hanya duduk disana, di bangku taman bercat putih di seberang kolam renang belakang rumah, memandangi hangatnya suasana di ruang tengah yang sesekali sedikit terhalang dinding kaca.

Mulai dari rengekan meraung-raung Rosé yang tidak selesai-selesai, hingga kedatangan perempuan lain seperti Tiffany dan Joy untuk bergabung dengan mereka. Lucu rasanya. Rosé bahkan belum sempat menata kopernya.

Irene merasa bersalah sekaligus kasihan pada anak termuda itu mengingat tidak lama lagi rumah ini sudah bukan lagi milik mereka. Well, ini memang tidak pernah menjadi milik mereka maupun Irene sendiri. Namun kenangan di dalamnya sudah cukup untuk membuat Irene merasakan ragu ketika ingin meninggalkannya.

"Aku nggak perpanjang kontraknya." Mulai Irene; sudah menebak bahwa akan ada jeda panjang sebelum Ia mendapatkan jawaban.

Sekitar 3 menit berlalu dan Irene perlahan mempertanyakan dalam batinnya tentang apakah seseorang di sisinya kini membencinya atau jangan-jangan dia bukan benar-benar Wheein. Hari semakin petang. Meskipun kelakukan Wheein selama ini tidak jauh berbeda dengan makhluk tak terlihat, namun akan sangat konyol jika sosok di sebelahnya sungguh-sungguh makhluk itu dan bukan Wheein.

Lantas hembusan nafas yang akhirnya terhembus ikut mengundang Irene untuk melepas udara yang Ia tahan; mendapat jawaban bahwa dia benar-benar Wheein.

"Hmm... Jadi udah selesai ya?"

Nyatanya, meskipun Irene telah mempersiapkan jauh-jauh hari tentang ini, tentang perpisahan, nostalgia, dan segalanya, Ia tetap saja merasakan cubitan di relungnya ketika hal tersebut dinyatakan secara eksplisit.

"Well, I guess(?)"

Kemudian tanpa melakukan kontak mata, Wheein memukul pelan lengan Irene dengan kepalan tangannya sembari berucap, "Keep in contact ya, Kak!" sebelum beranjak meninggalkan Irene bersama dengusan pelan-nya.

Jika dilihat lebih teliti, terdapat kesedihan yang tersembunyi di kedalaman mata Irene. Senyuman tipisnya tak cukup untuk menyembunyikan kemuraman sorot netra gelapnya. Karena nyatanya, ketika Irene secara tidak sukarela melihat kembali ke pengalaman pertemanannya di masa lampai dari tahun ke tahun, Ia hanya bisa menemukan ketidak-bertahanan. Ia pikir lingkar persahabatan kali ini akan bertahan lama hingga semuanya beranjak tua. Tapi lagi-lagi, satu persatu mulai lepas dari ikatan rantainya.

Home ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang