"Speak! Don't just silently break alone."
⟩⟩ H . O . M . E ⟨⟨
.
.
.
Cklek!
Adalah sebuah kewajaran bila Irene seketika mendongakkan kepala, mengalihkan pandangan dari sapu di tangan, ketika mendengar sebuah suara bagai slot kunci yang diputar.
Ia mematung di tempatnya berdiri dengan dada yang sedikit berdebar. Sudah memperkirakan aksi seperti apa yang akan Ia lancarkan jika tau bahwa rumahnya dibobol dan hendak dirampok.
Lantas detik selanjutnya barangkali sedikit tak tertebak. Nyatanya Irene tetap tak bergerak kala matanya bertemu dengan netra familiar yang menyapa begitu pintu putih terdorong terbuka.
Senyum sosok di seberang sana perlahan pudar. Sorotnya semakin turun kebawah seiring Irene menyadari apa yang sebentar lagi akan terjadi.
Kontras dengan mulut sedikit terbuka lengkap dengan ekspresi terkejut bercampur cemas, Irene justru memamerkan lengkung bibir yang menjalar hingga ke mata. Sama sekali tak mempedulikan bulatan mata hitam oposisi yang bergerak naik turun; memperhatikan kaki serta wajah Irene secara bergantian, berulang kali.
Jelas sekali segalanya disebabkan oleh pemandangan dimana sepanjang lutut kiri Irene hingga pergelangannya tertutup oleh knee brace; sebuah alat penyangga kaki yang dipasang setelah seseorang melakukan operasi di bagian lutut kebawah.
Belum lagi kedua tangannya yang tampak begitu penuh. Sementara tangan kiri mencegkeram sebuah tongkat untuk membantunya berdiri, terlihat tangan kanannya memegang gagang sapu secara begitu rileks.
"Hai, Whee! Sampe disini kapan? Kenapa nggak ngabarin? Kan bisa aku jemput." Bisa-bisanya Irene lanjut menyelesaikan kegiatannya membersihkan lantai padahal Wheein tengah menusuk sisi tubuhnya dengan tatapan tajam tak terima.
Jika dipikir-pikir lagi, semua menjadi masuk akal. Irene yang tak dapat dihubungi, Tiffany yang juga tak dapat mengetahui keadaan perempuan yang tinggal sendirian itu.
Saat logika Wheein bekerja, Ia sadar bahwa segalanya memang sudah merupakan rencana Irene. Menutup-nutupi keadaan terburuknya karena tak ingin kecanduan dengan sebuah ikatan, adalah jati diri Irene.
Bukankah seharusnya Wheein tidak marah?
Bukankah Ia seharusnya sudah terbiasa dengan sifat menyebalkan milik Irene yang satu ini?
Tapi kenapa tetap saja ada kekesalan di dalam dirinya ketika mendapati Irene mengalihkan pandangan darinya hanya demi menyembunyikan raut kesakitan yang ditimbulkan dari luka di kaki.
Lantas situasi berikutnya pun juga sepertinya telah diperkirakan. Hentakan kaki Wheein tercipta hampir begitu saja. Meninggalkan dua tas ranselnya, Wheein merebut sapu di tangan Irene secara kasar.
"Siapa yang tau? Nggak ada kan? Kalo aku nggak mergokin kak Irene langsung kek gini mungkin juga gabakal ada yang tau." Gerutu Wheein seraya giliran mencengkeram gagang benda pembersih lantas mengambil alih tugas Irene sebelumnya.
Irene sama sekali tak menyanggah. Pada dasarnya Wheein total benar. Ia memang tak memiliki sedikit saja pemikiran untuk mengabari salah satu dari delapan perempuan lain yang kini tersebar di segala tempat.
Hell, Ia bahkan belum sempat merencanakan apa yang harus Ia lakukan bila ketauan. Dan kini hal tersebut malah terjadi dibelakang pengawasannya sendiri.
Atau mungkin hobi baru Irene adalah menerima omelan dari orang lain sebab alih-alih beristirahat, Ia justru membiarkan Wheein mengambil alih aktivitasnya, lantas mengarahkan dirinya sendiri menuju tas ransel Wheein dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Bersih-bersih badan terus istirahat sana. Mesti 'kan kamu capek banget. Asramamu kesini lumayan jauh lho..."
"Ish, Kak Rene!!" Kali ini Wheein telah kehilangan sisa-sisa kesabarannya.
Tak sekalipun melintaskan niat untuk melepas sapu dari genggaman agar tak lagi-lagi diambil Irene, Wheein menyentak tasnya sendiri dari tangan mungil yang lebih tua.
Irene memang senang dipedulikan. Ia hanya tak terlalu menggemari perasaan kasihan yang diserahkan orang lain padanya, saat mereka tahu keadaan Irene tidak sebaik biasanya.
Tapi mau bagaimana lagi? Bukankah di kebanyakan waktu, sebuah sikap peduli diawali oleh rasa iba terlebih dahulu?
Untuk beberapa Minggu terakhir, jujur saja Irene sudah kembali terbiasa dengan kesendirian.
Kesepian.
Kegelapan.
Jadi kekesalan pun bukan hanya tercipta dalam diri Wheein ketika menyaksikan kondisi kakinya, namun juga di lubuk hati Irene yang terdalam saat pertama kali mendapati seseorang yang Ia kira adalah perampok, ternyata merupakan sosok yang Ia kenal cukup lama.
Karena Irene pun mengenali dirinya sendiri. Ia jelas akan kembali bergantung pada orang-orang yang peduli padanya hingga lagi-lagi takut untuk menghadapi kesepian. Perjuangannya selama beberapa saat terakhir agar lepas dari candu, akhirnya menjadi sia-sia.
Meski begitu, terdapat kelegaan tersendiri yang membasuh segala pemikiran negatif yang beterbangan di kepalanya, kala Ia sadar bahwa untuk beberapa waktu kedepan akan ada seseorang yang mencegahnya; menghentikannya supaya tak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Udah sana duduk ih..." Tangan Wheein selanjutnya mendarat di pundak kiri bagian belakang Irene. Berusaha mendorongnya tanpa kekuatan sambil secara eksplisit memerintahkan Irene untuk mengistirahatkan beban tubuh ke atas sofa ruang tengah yang tak jauh berbeda dari terakhir Wheein meninggalkannya.
"Yaudah kalo gitu sekalian di lap ya itu counter dapur, terus nanti habis disapu lantainya di pel. Sama satu lagi, tolong gantiin seprai kasur kamar-kamar ya."
"Ngelunjak emang tai..."
"Thanks, new babu."
Menyusul kikikan puas dari pihak Irene, Wheein nyatanya juga tidak menahan diri dari menampilkan senyum kecilnya. Getaran bahu akibat gelak tawa si mungil yang sudah cukup lama tak disaksikan pun juga berhasil menularkan kegembiraan ke diri Wheein.
.
.
.
⟩⟩ H . O . M . E ⟨⟨
Regards
- C
KAMU SEDANG MEMBACA
Home ✔
FanfictionKisah hidup sederhana maupun rumit dari 9 perempuan yang akhirnya memilih untuk tinggal di satu atap yang sama meski awalnya hanya mengenal lewat dunia virtual. Di masa pandemi yang masih terasa menegangkan, tanpa sadar mereka telah membangun keluar...
