#41. Solitude

91 10 0
                                        

"What if all things that make you happy this whole time is just in your head?"

⟩⟩ H . O . M . E ⟨⟨

.
.
.

Senja kali ini tampak sedikit menyedihkan. Bersama banyaknya awan abu-abu yang justru  berkumpul seolah memang telah memiliki niat untuk mengolok satu sosok partikular, sinar bintang yang biasanya menjadi teman pun tengah bersembunyi.

Barangkali adegan tak biasa yang diinisiasi oleh dua figur yang semesta kira telah resmi ditetapkan sebagai teman, sahabat, dan partner terharmonis terlepas dari perbedaan nan total bertolak belakang, sekarang justru menjadi dua pihak yang memanaskan suasana.

Adegan petang ini memang tak pernah sekalipun terlintas dalam bayangan Irene, bahkan ketika Ia berada dalam titik terbawahnya.

Kunjungan yang seharusnya membawa kepenuhan nan sempat hilang, malah berbalik menjadi pedang yang menyerang Irene di area teritorialnya sendiri.

Mungkin sebegitu baru serta menegangkannya hingga Irene sendiri merasa bila Ia dapat membayangkan bagaimana tampak depan dirinya kini nan mengarah sempurna ke sosok familiar yang menatapnya dengan alis tertaut serta urat menonjol di lehernya.

"Kamu nggak liat, Kak? I'm losing everything! Mimpi, karir, temen-temen, keluarga, and you! She took you and she even took my reader!"

Merujuk pada karya anonim yang Irene sempat buat di satu platform berisi ribuan penulis serta orang-orang yang mencari hasil mereka, sekelebat ingatan dimana nama pengguna pembaca setianya berada di satu karya milik Joy.

Irene tahu.

Irene sendiri sepenuhnya menyadari bahwa rasa irinya pada Joy bukan hanya karena satu orang yang tidak Ia kenal dan bahkan Ia tidak tau nama aslinya.

Sejauh yang Ia lihat —semenjak hari dimana Tiffany menerima paksaannya— Joy semakin banyak menerima hal-hal yang Irene selalu dambakan.

Skill yang mumpuni, karya yang luar biasa sempurna, talenta di banyak bidang, kehati-hatian, kemampuan menyediakan kenyamanan bagi orang lain, pola pikir, dan bahkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya.

Lantas dimulai dari Irene —yang tak pernah begitu hebat dalam mengontrol emosi— melampiaskan panas hati ke semua orang, kini Ia berakhir didebat oleh seseorang yang Ia kira akan berada di pihaknya.

Segalanya sudah diluar konteks 'sekedar rasa iri akan pembaca yang berpindah ke penulis lain'.

"Kamu jodohin aku sama dia, Rene! Remember?! Sekarang aku beneran sayang sama dia, kamu nyalahin aku."

Situasi mencekam yang hanya dilingkupi oleh emosi dan amarah dari dua pihak nan dulunya bagai sobat yang tak mungkin terpisahkan, berangsur makin intens dengan segala bentakan dan teriakan yang mereka loloskan; berusaha membebaskan tekanan yang serasa menghimpit dada masing-masing.

"KENAPA KAMU SELALU NYIMPULIN SESUATU CUMA DARI ASUMSIMU SENSIRI SIH?! You know what? I'm so done with you. Aku tau you're all negative and dark tapi nggak kayak gini. Mungkin emang kamu nggak bener-bener nganggep kita keluarga after all. Bahkan mungkin kamu nggak pernah bener-bener suka sama aku, Rene."

"What?!! What does that even mean?!"

"Kamu bilang kamu terbiasa sendiri. Dan waktu kamu kenal mereka kamu mulai mikir kalo kamu punya alat buat bikin km nggak ngerasa sendiri. Mungkin kamu salah ngartiin perasaanmu sendiri. Mungkin kamu cuma takut sendiri."

"Stop."

Nada bicara Irene sesungguhnya telah secara gamblang mengindikasikan bahwa seluruh penjabaran Tiffany telah semakin terasa berlebihan baginya; terlalu banyak untuk diterima.

Namun siapa pula yang dapat mengontrol tiap-tiap konten yang keluar dari bibir ketika emosi mengambil alih.

Kepalan tangan Irene di kedua sisi tubuhnya serta remasannya di kepala sofa menggunakan tangan yang lain selagi kepala menunduk dalam, merupakan caranya mengekspresikan gejolak tak nyaman di dada.

Sesekali Ia melirik ke arah tangga dimana Moonbyul, Wendy, dan bahkan Joy berkumpul menonton pertunjukan yang dilakukan Irene bersama Tiffany.

Mata Joy menampakkan keterkejutan nan masih dibalut oleh kekecewaan yang tentu saja menusuk relung Irene; menamparnya lewat fakta bahwa Ia —sekali lagi— menjatuhkan bom di tengah-tengah hubungan mereka semua.

"Terus habis ngerasa nyaman sama mereka, masih ditambah aku yang dateng dan jadi orang paling pertama yang bisa baca kamu sepenuhnya dalam waktu singkat; bikin kamu ngerasa bisa ngandalin aku setiap waktu. Dan pas tau kamu udah nyandar terlalu lama, ngerasa terlalu nyaman, kamu ngedorong aku gitu aja just to make yourself convenient. Main jodoh-jodohin without even asking for my feelings! Kamu tu egois! All this time, maybe kamu berpikir kamu punya perasaan serius sama aku itu cuma gara-gara kamu ga berani ditinggal sendiri. Pura-pura hebat soal kesendirian padahal jadi yang paling takut sama hal itu. Terus jadi clingy waktu kamu mulai masuk kesitu dan berakhir nyalahin semua orang for having their lives, don't you?"

"Jadi itu yang km pikirin soal perasaanku ke kamu waktu itu, Kak? Cuma main-main? Hasil dari ketakutan? Hah, so funny."

Gelengan kepala Irene masih dalam tundukan yang sama sekali tak ingin diangkat, hanyalah sebuah kedok supaya apa yang disimpan dibalik matanya, apa yang berkumpul di pelupuknya tidak jatuh begitu saja lantas mempermalukan dirinya sendiri.

Di satu titik Irene serta–merta menciptakan kepercayaan bahwa mungkin situasi dimana semua orang keluar dari rumah ini merupakan takdir yang diatur semesta karena tahu bila Irene hanya akan merusak segala keindahan dalam relasi yang melibatkannya.

Namun tetap saja, Ia merasa direndahkan, dicerca, serta diremehkan lewat penjabaran persepsi Tiffany akan sesuatu yang Ia miliki terhadap perempuan lebih tua darinya tersebut.

Ia merasa seolah substansi yang bertahan dalam hatinya selama ini hanya dianggap seperti sebuah sepatu yang bisa Irene kenakan ketika ingin dan lepaskan ketika tidak nyaman.

Irene tidak dianggap serius dan Ia tidak suka itu.

"Get out."

Peringatan pertamanya bernotasi rendah meskipun menyiratkan kesan memaksa nan begitu kentara; sebuah tanda bila Ia sempat ragu.

"Rene..."

Dan nampaknya satu ultimatum tegas penuh dendam yang lolos dari bibir tipis Irene sukses menarik kembali kewarasan Tiffany; menyadarkannya akan beberapa kalimat nan seharusnya tak pernah Ia ciptakan sejak awal.

Beralih pada audiens yang masih bertahan di tempat mereka di tengah anak tangga, Irene semakin yakin bila keputusan yang Ia ambil merupakan yang paling tepat untuk semua orang.

"GET OUT OF HERE RIGHT NOW!!! ALL OF YOU!! In fact, don't you ever come back again!"

Menyusul situasi mencekam ketika satu–persatu mantan penghuni rumah itu melewati tubuh mungil nan begitu akrab bagi mereka, Irene perlahan merasakan kegelapan balik menggelitik punggungnya.

Damn, you're so fucked up, Rene.

.
.
.

⟩⟩ H . O . M . E ⟨⟨

Wait wkwkwk apa ini. Nulisnya ga sadar aku
☺️😵

Hahaha bhay

Regards
- C

Home ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang