Chapter 52

116K 8.6K 1.3K
                                        

Yang belum follow, yok di follow dulu😉
septiynti

~ARFAN~

Happy reading

Saat Arka dan Vino hendak pergi mencari Fanya. Tiba-tiba ponsel milik Arka berbunyi, menandakan ada panggilan masuk.

Dengan cepat ia meraih ponselnya yang berada disaku celana miliknya.
Terpampang jelas nama 'Papa Dani' dilayar ponsel milik Arka.

Seketika Arka menghela napas kasar, menatap malas saat ia tahu bahwa mertuanya lah yang menelponnya. Bukan karena benci, namun Arka hanya malas mendengar celotahan dari Dani yang bisa membuatnya sakit hati, akibat kemarahan dari sang mertua.

"Bentar, gue angkat telepon dulu," ucap Arka yang diangguki oleh Vino, sebagai jawabannya.

"Halo. Assalamualaikum, Pa," ucap Arka pada Dani yang berada di sebrang ujung telfon.

"Waalaikumsalam. Kamu mau cari Fanya kemana? Cepat balik kesini! Bentar lagi Papi sama Mami kamu pulang. Jangan gegabah kamu, kita susun rencana dulu buat nyari Fanya," titah Dani pada sang menantu, lalu tanpa basa-basi lagi ia langsung memutuskan panggilannya sebelum Arka menjawab.

"I..."

Tut.

Sambungan telepon terputus, diputus sepihak oleh Dani, membuat Arka lagi-lagi menghela napas berat. "Oke."

"Kenapa?" tanya Vino menyergit bingung.

"Kita ke rumah mertua gue dulu," ucap Arka.

"Oke, kalau gitu gue suruh Deri dan yang lainnya buat ke rumah Om Dani sekarang," sahut Vino mengotak atik ponselnya, mengirimkan pesan pada Deri dan yang lainnya untuk berkumpul di kediaman Dani Adijaya terlebih dahulu.

"Iya," angguk Arka.

Di sisi lain, nampak seorang wanita tengah terisak tangis disebuah ruangan yang minim cahaya, dengan beberapa luka diwajahnya. Bagian ujung bibir yang sobek, dan darah yang keluar dari hidung, dengan tangan yang terikat kuat.

"Shhtt. Jangan nangis lagi ya Nona cantik," ucap seorang lelaki paruh baya, yang berada tepat di hadapan Fanya. Dengan tersenyum licik.

Melihat lelaki itu tersenyum, rasanya ingin sekali Fanya membalaskan perbuatan lelaki itu. Namun apalah daya, kini tangannya terikat kuat, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.

Mau tau apa yang telah dilakukan lelaki paruh baya itu pada Fanya? Lelaki itu telah melukai Fanya hingga hidungnya berdarah dan ujung bibir terluka. Alasannya sepele, karena Fanya sedari tadi terus menerus memberontak ingin dibebaskan, ketika ia tersadar dari pingsannya.

"Siapa kamu?! Apa alasan kamu menculik saya?! Hiks... Hiks..." tanya Fanya sedikit membentak, menatap tajam mata lelaki paruh baya itu, dengan terisak tangis.

"Kamu tidak perlu tau siapa saya. Saya hanya menginginkan sesuatu dari mertua mu," ucap lelaki itu tersenyum miring.

Deg.

Seketika jantung Fanya berhenti sesaat. Mencoba untuk mencerna apa yang telah di ucapkan oleh lelaki paruh baya yang tepat berada di hadapannya itu. "Menginginkan sesuatu dari Papi Hendra?" bantin Fanya, bertanya-tanya.

ARFAN [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang