Jika untuk perempuan lain Juna adalah buaya darat yang pesonanya tidak bisa ditolak, bagi Freya dia hanya laki-laki tengil yang gemar membuatnya dalam masalah. Di balik sikapnya yang brengsek, dia adalah anak manja yang akan langsung merengek saat F...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lho, kenapa kita malah ke sini?" tanya Freya dengan bingung.
"Saya lapar. Kamu juga belum makan malam. Jadi, kita makan di sini dulu, ya." Vian memarkirkan mobil Hyundai hitamnya di depan sebuah restoran. "Ini restoran kesukaan saya sejak dulu. Rasanya gak berubah biarpun udah lama."
Freya mengangguk paham. Dia melepas sabuk pengamannya dengan ragu. Melihat mewahnya restoran itu, perasaan Freya mendadak tidak senang. "Kak, yakin mau makan di sini? Enggak mau makan di tempat lain aja?"
Baru saja Vian hendak membuka pintu, tetapi batal karena pertanyaan Freya barusan. "Emang kenapa? Kamu gak suka makanan jepang?"
"Bukan begitu." Freya tersenyum kecut. "Kayaknya, makanan di sini mahal, deh. Mending kita makan di gerobak pinggir jalan aja. Rasanya enggak bakal kalah dari-" Perkataan Freya terhenti seketika. Senyumnya semakin kecut. "Kak Vian gak biasa, ya?"
Bukannya menjawab, Vian justru terdiam sambil memandangi wajah cantik Freya yang hanya disinari lampu luar restoran. Tentu, Vian tidak biasa membeli makanan gerobak pinggir jalan. Dia adalah laki-laki yang sangat memperhatikan kebersihan. Hanya saja, entah mengapa, ucapan Freya barusan justru membuatnya semakin tertarik.
"Begini saja. Kita makan dulu di sini, biar saya yang traktir. Kan, kita udah parkir. Masa iya harus keluar lagi tanpa makan?" Vian mengangkat alisnya. Pandangannya sama sekali tidak beralih dari Freya. "Nanti, baru kita makan di tempat yang kamu maksud tadi. Tapi, kamu yang traktir. Gak apa-apa?"
"Serius? Kak Vian mau makan di pinggir jalan?" tanya Freya dengan penuh keraguan. "Aku yakin banget, Kakak gak biasa. Udah lama tinggal di New York, kan, pasti makanannya yang berkelas."
Vian terkekeh kecil. Gadis di hadapannya memang selalu berhasil membuat Vian menarik sudut bibirnya. "Emang gak biasa, sih. Tapi, seperti yang saya bilang kemarin. Saya akan selalu mau pergi ke mana pun, asal sama kamu."
Dengan cepat Freya mengalihkan pandangan. Panas menjalar di kedua pipinya. Freya yakin, mereka sudah sangat merah saat ini. Dan ternyata, darah lebih kental daripada air. Vian juga memiliki sisi yang berbahaya, seperti Juna. Hanya saja, Vian berlaku demikian pada satu gadis. Semoga saja demikian.
Mereka baru pulang dari perpustakaan yang ada di Senayan. Menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan membaca buku sambil sesekali saling curi pandang. Dan saat netra keduanya bertemu, mereka hanya bisa saling melemparkan senyum lebar sambil salah tingkah. Hal yang sangat sederhana, tetapi memiliki berjuta makna.
"Sukiyaki di sini enak, lho. Kamu harus coba!" cetus Vian dengan penuh semangat. "Terus, wagyu di sini juga lebih seger daripada di tempat lain."
Freya hanya mengangguk kecil sembari terus mendapati wajah ceria Vian. Sangat jarang ia melihat laki-laki itu tampak antusias seperti anak kecil. Biasanya, Vian terlihat tenang dan pendiam tetapi memiliki aura wibawa yang kuat.