"Cinta itu seperti udara. Meskipun tak terlihat. Namun, dapat dirasakan."
-2RC-
...
Suasana hari ini begitu tenang, tak panas tak juga hujan. Gumpalan kapas putih bercampur biru menaungi tempat berpijak.
Gadis bergamis abu dengan flat merah muda itu menyusuri lorong, melewati bagunan-bagunan fakultas. Jilbab abu kebesarannya sedikit menyingkap karena tertiup angin. Sepatu putih dengan kaos kaki senada beradu menyentuh lantai, sesekali ia tersenyum ketika berpapasan dengan orang-orang disekitarnya.
"Zahra, tunggu!" Suara itu membuat Zahra beku seketika. Gelenyar aneh menyebabkan jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.
Langkahnya benar-benar terhenti, tapi tak kunjung membalikkan badan. Tangannya meremas pelan gamis abu yang dikenakan. Kembali ia menarik napas, menetralkan kegugupan yang menghampiri.
"Assalamualaikum." Suara tegas menyapa indra pendengarannya.
Pria dengan setelan perpaduan hitam dan maroon itu berhenti tepat beberapa meter di depannya. Jangan lupakan kemeja yang digulung hingga ke siku dan jam tangan hitam yang membuatnya lebih berkharisma.
"Waalaikumsalam, Mas Ali. Ada yang bisa Zahra bantu?" Masih dengan menundukkan pandangan. Susah payah Zahra mengeluarkan kata-kata yang dirangkainya. Tak ada angin tak ada hujan, pria itu berbicara bahkan sebelumnya mereka tak saling mengenal.
"Bisa saya lihat rencana anggaran kegiatan kemarin?" ucap pria itu tanpa basa-basi. Sekali lagi Zahra merasa begitu bodoh, angannya berharap terlalu jauh. Ali adalah ketua untuk kegiatan kemarin dan ia bendaharanya. Mereka hanya terikat sebuah kepanitian, tidak lebih. Memangnya siapa dia sehingga Ali datang menemuinya tanpa alasan?
"Bisa Mas, tapi datanya ada di laptop belum sempat dicetak," ucap Zahra seadanya. Entah ke mana debaran itu sekarang. Semua lenyap. Seharusnya, ia tak perlu berharap lebih.
"Boleh saya lihat laptopnya?" Kembali suara itu membuyarkan angannya.
"Laptopnya di rumah. Mengapa mendadak sekali, Mas?"
"Ustadz Malik meminta laporan perencanaannya hari ini." Ingin rasanya perbincangan berakhir. Sungguh, berhadapan dengan kaum adam yang satu ini membuatnya tak karuan.
"Afwan, Mas. Jika tidak keberatan, ba'da dzuhur saya berikan sofilenya."
"Baiklah, di perpustakaan. Saya akan datang bersama Wildan." Zahra hanya menggangguk sebagai jawaban.
"Satu lagi, beritahu Syifa untuk menyiapkan proposal kegiatan. Saya sudah mencarinya, tapi tidak ada," lanjutnya.
"Baik, Mas. Sebentar lagi kelas akan dimulai, saya izin pamit. Assalamualaikum," ucapnya sembari menangkupkan tangan, pria itu menjawab salamnya meskipun pelan dan melakukan hal serupa.
Zahra kembali menunduk dan melewati sosok di depannya. Lebih baik pergi dari pada terus menerus berhadapan dengannya. Ia tak ingin berharap terus menerus akan hatinya. Bukankah berharap terlalu jauh akan membuat jatuh?
...
Di perpustakaan, dua gadis dengan gamis berbeda itu masih berdiskusi. Sesekali tawa kecil keluar meski tertahan, mengingat mereka berada di ruangan yang mengharuskan diam seribu bahasa.
Syifa, gadis bergamis peach yang dipadukan dengan jilbab motif bunga itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Bibirnya mengerucut membuat Zahra kembali tertawa kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Rakaat CINTA [Selesai]
Spiritual"Pernikahan bukan sebuah permainan, Mas!" Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Ah, tidak. Lebih tepatnya rasa kecewa, tetapi untuk alasan apa? Apakah karena perkataan pria itu atau takdir yang seakan mempermainkannya. Dialah Arnaina Naf...
![Dua Rakaat CINTA [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/276044409-64-k335797.jpg)