"Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan."
-Ali bin Abi Thalib-
.
.
.
2RC
...
Zahra membuka jendela. Hal yang pertama dilihatnya adalah rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu. Di belakangnya gunung-gunung tinggi menjulang. Menjadikan ciptaan Allah yang begitu sempurna. Sungguh, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang Kau dustakan?
Sekali lagi, ia menggosok-gosokan tangan. Hawa dingin tampak begitu kentara. Aroma pagi di kampung ini masih sangat asri, tiupan anginnya pun begitu menggelitik membuat ia juga harus mengeratkan sweater.
Ia mengembuskan napasnya. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan. Baru saja pergi, rasanya ia telah merasakan kehilangan. Tak terasa satu tetes jatuh membasahi wajahnya. Ah, dirinya begitu mudah terbawa perasaan.
"Mbak Zahra." Ketukan di pintu terdengar bersamaan dengan panggilan dari seseorang. Zahra segera menghapus tangisnya kemudian berbalik dan berjalan ke arah pintu.
"Iya, ada apa?" Di luar pintu, gadis dengan khimar hitam itu berdiri. Zahra tersenyum singkat.
"Maaf Mbak. Ini, mbak di tunggu di meja makan untuk sarapan." ucapnya sopan. Gadis itu adalah salah satu satriawati di sini.
"Di mana Nin Haji? Apakah sudah membaik?" Bukannya mengiyakan, Zahra malah bertanya. Nin Haji itu panggilan untuk istri dari pendiri pondok ini yang tak lain adalah sahabat neneknya.
"Beliau juga sudah berada di meja makan. Alhamdulillah kesehatannya mulai membaik, Mbak. Nin Haji sangat senang dengan kedatangan Mbak ke pondok ini."
"Kalau begitu Kamu duluan saja, Ra. Sebentar lagi mbak menyusul." Gadis bernama Sahfira itu pun mengangguk patuh.
"Baik, Mbak. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum," pamitnya sebelum pergi. Zahra mengangguk kecil sembari menjawab salamnya.
Sekali lagi, Zahra mengembuskan napasnya. Hatinya terus saja dihantam sesak. Sudah benarkah kepergiannya ini?
Kepergiannya ke tempat yang jauh itu, sejauh mata memandang. Apakah ia telah melakukannya dengan benar karena tinggal di sebuah pondok pesantren yang berada di daerah pegunungan. Sewaktu kecil, almarhum nenek sering mengajaknya ke sini. Hingga kini, tak ada yang tahu jika dirinya ada di tempat ini.
Begitupun dirinya. Ia juga tidak tahu sampai kapan berada di tempat ini. Yang jelas setiap harinya, mungkin rindu itu akan semakin memupuk bersamaan denga rasa bersalahnya.
Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya. Salah satunya. Apakah suaminya merasa kehilangan atau rindu karena kepergiannya? Atau bahkan ia tidak tahu bahwa istrinya telah pergi.
Zahra tidak bisa menjawab semua itu. Hatinya terlalu takut. Namun, untunglah sosok mungil dalam rahimnya ini menguatkannya dan Allah senantiasa bersamanya.
Sementara jauh di belahan pulau sana, pria itu benar-benar prustrasi. Sudah seharian ini ia mencari wanitanya sampai tidak tidur. Namun, nihil. Zahranya masih belum ditemukan.
Lihatlah dirinya sekarang. Baru satu hari sejak kepergian Zahra. Ia seperti mayat hidup, lalu bagaimana nanti? Bisakah ia menjalani hidupnya tanpa wanita yang dicintainya.
"Zahra, kamu di mana? Saya merindukanmu. Pulanglah. Saya tidak ingin kehilanganmu."
...
Langit pagi hari ini tampak tenang. Gumpalan putih yang bercampur biru membuat suasana damai. Berbeda dengan gadis yang kini berdiri di luar pagar. Hatinya kacau. Sejak semalaman ia tidak tidur karena pikirannya berkecamuk. Ia sungguh prustrasi dan hancur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Rakaat CINTA [Selesai]
Spiritual"Pernikahan bukan sebuah permainan, Mas!" Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Ah, tidak. Lebih tepatnya rasa kecewa, tetapi untuk alasan apa? Apakah karena perkataan pria itu atau takdir yang seakan mempermainkannya. Dialah Arnaina Naf...
![Dua Rakaat CINTA [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/276044409-64-k335797.jpg)