13. Secercah Kata Ikhlas

14.3K 1.3K 6
                                        

"Biarlah kita kehilangan sesuatu karena Allah, tapi jangan kita kehilangan Allah karena sesuatu."
-2RC-

...

Di belakang rumah. Tepatnya di bawah semburat jingga yang mulai menghiasi langit, Zahra termenung. Sudah hampir dua jam setelah kepulangannya, gadis itu berdiri dengan tatapan kosong. Bahkan dingin air yang seharusnya untuk menyiram tanaman, mengguyur dirinya.

Zahra membuat hujannya sendiri. Bukan hanya untuk tubuh, tapi juga hatinya. Sebentar saja ia ingin meredakan gejolak yang semakin menggunung. Berharap kelembutan air mampu menghapus sesak di dadanya.

Mengapa dirinya tidak kunjung bisa mengikhlaskan? Untuk saat ini, Zahra hanya ingin agar hatinya bisa ikhlas. Mengapa rasanya sulit sekali. Belum lagi jika mengingat pertemuannya dengan Ainun.

"Mbak, aku benar-benar gak ikhlas. Aku gak bisa terima kalau Mas Ali akan menikah." Setelah beberapa menit terlalui dalam diam, Ainun menyuarakan perasaannya.

"Aku mengenalnya dari semenjak kecil. Aku mencintainya jauh sebelum Mas Ali bertemu Mbak Syifa. Aku gak rela, Mbak," lanjutnya. Gadis itu sesegukkan. Zahra mengerti bahwa Ainun pasti jauh lebih terluka dari pada dirinya.

Zahra terdiam. Bagaimanapun juga gadis yang dibicarakan Ainun adalah sahabatnya. Ia sangat menyayangi Syifa. Bahkan Syifa tak pantas disalahkan karena ia tidak tahu tentang perasaan Ainun atau dirinya sendiri.

Zahra sungguh bingung. Mengapa semua menjadi semakin rumit saja. Cinta ini tak menemukan ujungnya, hanya memberi sebuah kekecewaan.

"Mengapa Mbak Zahra diam, apa Mbak ikhlas? Rela kalau orang yang Mbak cintai menikah dengan orang lain?" Zahra tersentak. Pertanyaan itu tak bisa dijawabnya.

Sekali lagi, Zahra tersadar. Kalimat yang Ainun lontarkan beberapa jam lalu menamparnya pada kenyataan. Dirinya memang belum ikhlas, entah bagaimana cara agar meraih kata ikhlas dan menempatkan di hatinya.

Zahra ingin bisa melepaskan. Cukup. Tangisan ini adalah yang terakhir. Ia tidak boleh meneteskan air mata untuk seseorang yang bahkan tak pernah mencintainya. Namun, mengapa sulit sekali.

"Zahra, Astagfirullah." Suara lembut disertai tepukan di pundak membuatnya menoleh. Namun, yang dilihatnya hanyalah samar-samar. Bayangan wanita paruh baya itu tampak buram di matanya.

"Ummi." Hanya kata itu yang mampu diucapkannya. Bibir seolah kelu, sendinya melemah. Ada apa dengan dirinya? Zahra merasa kakinya tak lagi berpijak.

"Zahra, kamu menggigil Sayang. Ayo kita masuk." Tangan hangat milik umminya menggenggam erat. Berbeda dengan tangannya yang sedingin es.

Zahra sudah tidak kuat lagi. Selang air di tangannya, terlepas. Sebelum matanya benar-benar tertutup, ia mendengar suara teriakan umminya yang terus memanggil. Namun, mimpinya jauh lebih menyenangkan. Untuk saat ini saja, Zahra ingin tidur.

Hasmia--umminya panik, melihat wajah puteri semata wayangnya yang sepucat kapas. Belum lagi bibirnya yang menghitam karena terlalu lama dalam kedinginan.

"Zahra, bangun! Astagfirullah." Wanita dengan khimar panjang itu mengguncang-guncangkan tubuh gadis yang kini berada di pelukannya.

"Abi, Zahra pingsan!" Satu teriakan itu cukup jelas menyatakan bahwa gadis itu tidak baik-baik saja. Ia tidak sadarkan diri. Benar. Zahra tengah bermain bersama mimpinya.

Dua Rakaat CINTA [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang