Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

23. Cinta yang Utuh

15.1K 1.4K 14
                                        

"Kun Fayakun. Tidak ada yang tidak mungkin untuk-Nya. Sekalipun merekatkan yang separuh menjadi utuh atau meretakan yang utuh menjadi separuh."
.
.
.
2RC

...

Segaris senja telah pamit bergantikan malam berhiaskan sabit. Zahra tak beranjak dari meja makan sejak satu jam lalu. Sesekali ia melirik arloji yang melingkar. Semakin detik berlalu, semakin hatinya dilanda khawatir. Pria itu tak kunjung menampakkan wajahnya.

Bukan tanpa alasan. Beberapa minggu ini, tidak biasanya pria itu pulang melebihi waktu magrib. Belum lagi sore tadi, suaminya seolah ditelan bumi. Zahra menunggunya sampai magrib di kampus. Namun, nahas. Suaminya itu tidak ada.

Sebenarnya ia tidak perlu seberlebihan ini karena malam belum benar-benar terjaga. Masih pukul delapan. Namun, Zahra hanya takut sesuatu terjadi pada suaminya. Ponselnya juga tidak dapat dihubungi.

"Mas, sudah pulang?" Netranya berbinar melihat pria yang baru saja akan menaiki tangga. Dengan cepat, ia menghampiri dan menyalaminya.

Zahra menyunggingkan senyum. Entah mengapa ia bisa sebahagia ini melihatnya pulang. Bahkan rasa cemasnya mendadak hilang dalam sekejap. Seperti inikah rasanya merindukan seseorang.

"Zahra sudah buatkan makan malam. Mas pasti belum makan 'kan?" Lengkungan senyum masih belum sirna. Pria itu menatapnya lekat. Tatapan yang selalu tak bisa ia artikan.

"Saya tidak lapar." Kalimat singkat dan tak bernada itu membuat senyumnya perlahan mengendur. Namun, Zahra menepisnya. Ia tahu suaminya pasti lelah. Itulah mengapa sikapnya sedikit aneh.

"Ah, baiklah. Mas mau mandi? Zahra sudah siapkan air hangatnya. Handuknya juga--"

"Terima kasih." Setelah mengucapkannya, pria itu pergi. Tanpa mengulas senyum atau setidaknya menoleh padanya. Bukan itu yang ia inginkan. Zahra masih mencerna perkataan barusan. Apakah ada yang salah dalam dirinya?

Zahra terdiam. Menunggu pria itu akan berbalik kemudian menghampirinya. Namun, sampai di ujung tangga atas, ia bahkan terus berjalan tanpa sedikit pun memerdulikannya.

Ah, berpikir apa dirinya. Memang ini cerita fiksi di mana pria itu berbalik dan tersenyum padanya.

Dengan cepat, ia berlari mengejarnya. Rasanya aneh. Pria itu seperti tengah mengabaikannya. Benarkah ia sekedar lelah atau ada hal lainnya. Kebingungan ini benar-benar membuatnya tidak tenang.

"Mas." Pria itu menghentikan tangannya yang akan menyentuh gagang pintu. Kembali melayangkan tatapan yang terasa dingin.

"Apa ada sesuatu yang Mas inginkan? Zahra bisa membuatkannya." Meskipun sedikit ragu, ia tetap mengatakannya. Kali ini, yang Zahra dapatkan adalah tatapan jengah.

"Saya butuh istirahat." Singkat, padat, dan jelas. Pria itu sepertinya sedang tidak ingin berbasa-basi. Padahal Zahra hanya ingin menjadi istri yang baik. Itu saja.

Zahra masih diam. Sekarang ia tidak tahu harus bagaimana. Dadanya terasa sesak. Pria itu seakan berubah. Kembali ke masa di mana mereka bagai orang asing. Tidak, Zahra. Itu hanyalah asumsinya saja.

"Kalau ada sesuatu, Mas panggil aja Zahra. Zahra di--"

"Stop, Zahra. Jangan ganggu saya." Zahra membeku. Kalimat itu memohoknya tepat di relung hati. Benarkah Ali mengatakannya? Menganggap bahwa dirinya hanyalah pengganggu. Ia sungguh tidak mempercayai semua ini.

Pria itu masuk tanpa perduli Zahra yang mematung di tempat. Bersamaan dengan tertutup pintu cokelat itu, jatuh pula air matanya. Sebenarnya ada apa dengannya?

Dua Rakaat CINTA [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang