"Cukupkanlah kebahagiaanmu, jangan dilebihkaan. Agar di akhirat nanti, dirimu tidak akan banyak menangis."
-2RC-
...
Zahra mengembuskan napasnya dalam-dalam. Ditatap lekat wanita di sampingnya. Sang rahim kehidupan yang menemaninya selama dua puluh tahun. Ummi menggenggam tangannya yang mulai dingin nan gemetar. Rasa gugup menyelinap ke hatinya. Sebentar lagi semua akan berubah.
"Hamasah, Sayang. Bismillah, semua akan baik-baik saja." Ummi membisikkan kalimat yang membuatnya terdiam. Benar, ia harus siap dengan semua ini.
Keputusan itu sudah bulat, ia menerima perannya sebagai pengantin pengganti. Di masjid yang tak jauh dari rumah Syifa, pernikahan ini dilaksanakan. Sungguh, rasanya ia telah berdosa. Zahra benar-benar tak tahu harus melakukan apalagi.
Munafik? Mungkin itulah dirinya. Seolah ia terluka padahal bukankah ini keinginannya. Sekarang yang dilihatnya hanya sesosok penjahat yang mengambil calon suami sahabatnya.
"Silakan untuk mempelai pria memberikan maharnya." Suara dari balik microfon itu membuatnya menatap ke depan. Hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya kini.
Zahra memejamkan matanya. Meski pernikahan ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, tetap saja jantungnya berdebar. Bagaimanapun juga seseorang akan memberikan mahar untuknya. Sesuatu yang menjadi awal pondasi dalam ikatannya.
Maharnya adalah lantunan azan. Mungkin terdengar aneh. Namun, itulah kenyataannya. Tak terpikir apapun lagi oleh Zahra ketika pria itu menanyakan mahar untuknya. Bukankah mahar terbaik adalah yang mudah dilakukannya?
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Jantungnya bergemuruh. Desiran halus menyapa setiap inci nadinya hingga air mata jatuh meluruh. Zahra terpaku. Bukan hanya karena keterpukauan akan kalimat-kalimat Ilahi. Namun, juga suara itu? Suara yang mengingatkannya pada seseorang.
Tunggu, apakah suara ini hanyalah ilusi ataukah nyata? Suara yang sering ia dengar dari sang muazim idamannya. Bagaimana bisa, bukankah pelantun azan waktu itu adalah Mas Wildan?
Zahra semakin mempererat pegangan pada kebaya yang dipakainya. Tangisnya tak dapat dibendung lagi. Sesak itu semakin kentara, di antara ribuan tanya. Mungkinkah semua ini jawaban dari Allah?
Seseorang yang selalu ia langitkan dalam doa. Seseorang yang lantunannya ia bumikan dalam pinta. Seseorang itu pula yang akan menjadi separuhnya dalam agama. Namun, setelah apa yang terjadi. Masih pantaskah ia menjadi bagian dari seseorang itu.
Oh, Allah. Bukan ingin melampaui batasan garis-Mu. Namun, bukankah takdir ini lebih banyak memakan luka dari pada bahagia?
Zahra seakan tersadar dari lamunannya ketika pembawa acara memberitahu bahwa sebentar lagi ijab qabul akad dimulai. Benar, hanya tinggal beberapa menit saja. Ia akan terikat benang merah yang Allah gariskan. Sebentar lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim." Aliran darahnya seakan berhenti tatkala mendengar abi Nafiz yang tak lain adalah abinya Zahra mengucap basmallah.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Muhammad Ali Al-Ghifari bin Abdullah dengan putri saya Arnaina Nafizatuz Zahra binti Nafiz Muhammad dengan seperangkat alat salat dan emas 40 gram dibayar tunai." Abi Nafiz mengatakannya dengan tegas. Namun, tak terdengar suara sahutan atau balasan ijabnya.
Beberapa detik terlewati membuat Zahra semakin khawatir. Pria itu masih tak berusara. Mungkinkah ia berubah pikian dan ingin membatalkan pernikahan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Rakaat CINTA [Selesai]
Spiritual"Pernikahan bukan sebuah permainan, Mas!" Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Ah, tidak. Lebih tepatnya rasa kecewa, tetapi untuk alasan apa? Apakah karena perkataan pria itu atau takdir yang seakan mempermainkannya. Dialah Arnaina Naf...
![Dua Rakaat CINTA [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/276044409-64-k335797.jpg)