┃35

1.4K 259 18
                                        

"Ibu negara kejam!"

Usai sadar dari pingsan-nya, mereka bertiga memutuskan untuk segera pergi berziarah mengingat sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.

Mikey mengekor keluar dari kediaman rumah (Name) dengan bibir yang di manyunkan kedepan, sedangkan (Name) dan Draken nampak berhenti sejenak di depan pintu dengan pandangan jatuh ke atas sana.

"Ah, gerimis"

Celetuk Draken dengan tangan yang ia tadahkan ke depan.

"Gimana? Masih mau lanjut?"

Tanya (Name) seraya memandang Draken.

"Itu si terserah Mikey. Oi cebol! Gimana?"

Mikey yang baru saja datang langsung ikut-ikutan ngeliat keatas.

"Batal aja lah. Kesian ibu negara nanti kehujanan di jalan"

"Loh? Bukannya tadi marah?"

(Name) dan Draken bergumam. Sedangkan yang di gumamkan pura-pura masang muka polos kek gatau apa-apa.

"Lanjut aja, gak usah khawatirin aku"

(Name) berucap tenang. Terkesan dingin namun juga perhatian.

Entah kenapa gadis itu sekarang malah mendadak badmood dikarenakan tingkah laku Mikey yang udah kelewat menyebalkan baginya.

"Beneran nih?"

Mikey memastikan. Sedangkan (Name) nampak mengangguk tanda menyetujui.

"Yosh! Sudah di putuskan!"

Keduanya mulai melangkah naik keatas jok motor. Namun suara Draken lebih dulu menyita atensi dan membuat jalan mereka terhenti.

"Maaf, tapi apa (Name)-chan punya payung?"

Pria mirip Sule itu bertanya. Sedangkan yang di tanya nampak memutar otaknya untuk mengingat-ingat apakah ia punya benda plastik itu atau tidak.

"Ada kok, kenapa?"

"Gimana kalo kita bawa payung aja? Jaga-jaga kalo ujannya deres trus ga ada tempat buat neduh"

"WHOAA... SASUGA KHENCIN! KAU JENIUS SEKALI!"

Yang di puji langsung naik bahu sebelah.

"Bentar, aku ambillin"

(Name) kini kembali masuk kedalam rumah. Mengobrak-abrik barang-barang tak berguna untuk mencari barang pintaan temannya disana.

Setelah beberapa menit terlewatkan, akhirnya (Name) menemukan barang yang ia cari.

Tiga buah payung putih bening dimana yang satunya bobrok sedangkan yang duanya alhamdulillah masih tetep waras.

(Name) kembali ke depan dengan membawa dua buah payung waras tadi dan memberikannya kepada Draken.

"Nih, bawa"

Ucapnya seraya melemparkan kedua benda itu kearah pria kuncir kuda disana. Untung reflek-nya bagus. Jadi payungnya gak harus jatoh trus ngerasain gimana rasanya ngecium tanah bau tai rumah (Name).

"Tapi aku juga naik motor. Gimana bawanya?" protes pria itu.

"Trus kenapa? Yakali aku cewek di suruh bawa? Gak gentle banget"

Mendengar kata-kata gentle membuat Draken auto gelagapan dan reflek meng-iyakan suruhan (Name).

Mereka bertiga pun akhirnya segera memicu gas menuju pemakaman umum keluarga Sano.

Angin di jalan terasa begitu dingin sampai-sampai membuat tubuh (Name) menggigil kedinginan.

Mikey yang melihat itu segera menawari jaket hijaunya tapi segera di tolak mentah-mentah oleh (Name). Dengan alasan (Name) gamau ngerepotin Mikey.

𝗖𝗛𝗔𝗡𝗚𝗘╵ˢ.ᵐᵃⁿʲⁱʳᵒᵘTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang