┃53

1K 196 29
                                        

Gadis dengan tatapan kosong itu berdiri tegak di atas atap tanpa pembatas gedung tertinggi yang mana tempat itu adalah tempat terakhir yang ia kunjungi bersama dengan sosok pria yang sangat ia sayangi.

Tidak ada binar cerah lagi yang terpancar dari sepasang netra rubynya.

Hanya ada kekosongan. Hanya ada kehampaan dan kegelapan.

(Name) sudah terlalu jauh tenggelam dalam lautan kesunyian.

Ia tak ingin diganggu ataupun mengganggu.

Dunianya kini sudah hancur. Kebahagiaannya kini sudah sirna.

Tidak ada lagi cinta, kasih ataupun sayang. Bahkan sekalipun ada, ia tak ingin terjerat lagi dalam fatamorgananya.

Menyakitkan, sungguh.

Tak dapat dipungkiri, ia membenci dunianya yang seperti ini.

Kelam. Tidak ada secercah sinar cerah.

Pernah ada, namun binarnya terlalu kecil dan pada akhirnya kalah dalam gelapnya ruang hampa.

"Nazeda.."

Lirihnya pelan.

Hati itu lagi-lagi berdenyut sakit.

Tergores duri dan pada akhirnya kembali luka.

Tertampar takdir yang seakan-akan mengharuskannya untuk membuka mata. Bersadar diri bahwa dunianya tidak akan pernah ada setitik sinar bahagia.

Kelam. Hampa. Mati.

Haruskah ia mengatakan sendiri bahwa inilah saat yang tepat untuk mengakhiri segalanya?

Ia terlalu rapuh untuk memulai dari awal lagi. Hatinya sudah lelah dan tak sanggup lagi.

"Mikey, sepertinya kau benar-benar menagih janjiku.."

Ia bermonolog.

Kembali mengingat-ingat ikrar janji yang pernah ia dan pria itu katakan di tempat ini.

Janji untuk selalu bersama setelah semua pertikaian ini berakhir.

Dan sepertinya, pria itu ingin gadis ini benar-benar menepati janjinya.

Teringat jelas kalimat terakhir sebelum jantung pria itu berdetak dengan tidak semestinya.

"Ayo! Ibu negara tepatin janji yang itu!"

Membuat gadis dengan tatapan kosong di sana terkekeh pelan dan tersenyum kecil.

"Sepertinya kau sudah tau bahwa semuanya akan berakhir seperti ini."

"Mangkanya kau menagih janji konyol itu padaku"

"Yah, kau benar. Tidak ada alasan lagi untukku tetap hidup."

"Maka dari itu, mungkin mati jauh lebih baik"

"Selain bertemu denganmu, mungkin aku juga bisa bertemu dengan orangtuaku di sana"

"Iya, kan, Mikey..."

Kedua netra ruby yang mati terpejam pelan. Membiarkan desiran angin menyapu lembut permukaan kulitnya.

Terasa dingin, juga menyakitkan.

Seakan berpuluh-puluh tombak tengah menghujam raganya yang tinggal setengah jiwa.

Mengiris, menyayat, lalu menimbulkan luka dan berakhir merasakan lara.

(Name) merasa jiwanya tengah melayang sekarang. Tidak ada hal lain yang ia rasakan selain membayangkan bagaimana indahnya terjun bebas dari atas sini menuju ke permukaan.

𝗖𝗛𝗔𝗡𝗚𝗘╵ˢ.ᵐᵃⁿʲⁱʳᵒᵘTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang