Kasih yang tak kunjung bertuan.
Kasih yang tak siap mengemban.
Kasih, kanapa demikian?
wldr-
-;-
________________________
PENYATU RASA - RAMDAN TERPERANGAH
Ramdan menatap dua orang yang tengah bertamu malam-malam di rumahnya. Insting seorang kakak memang selalu benar adanya. Dua laki-laki dengan tampang sangar sekaligus mencurigakan, Ramdan tetap tak mengucapkan sepatah kata seraya bersedekap dada.
"Jadi, maksud kedatangan kita kemari. Kami ditugaskan untuk menjemput ibu bos, kata pak bos kalo sampe abangnya ngga ngijinin bilang aja 'udah direstuin sama camer' gitu katanya bang." tutur Raka.
Halus tapi menusuk, Raka terpaksa mengatakannya pada Ramdan.
"Emang, apa jaminannya? Dia cemen banget masa suruh orang lain buat jemput anak orang, minimal depan gang kek! Lah ini?" sanggah Ramdan.
Raka menyikut lengan Huda yang hanya diam saja, berharap semoga temannya turut berperan dalam mengambil hati sang Kakak.
'Si kriting dari tadi natap gue kayak mau nelen gue aja, apa jangan-jangan ini orang yang namanya Huda? Yang sering diceritakan Sasya,' batin Ramdan.
Tanpa sadar Huda dan Ramdan malah adu tatap.
"Dasar kriting congek!" ejek Ramdan.
"Dasar kacamata bisul!" timpal Huda tak terima.
"Lo tuh ya jadi abang protektif banget sih, dia juga butuh kebebasan kali," sindir Huda yang memancing keributan.
"Eh lu kalo ngomong jangan ngang ngong-ngang-ngong ya! Gue kan abangnya, ya wajarlah! Congek!" Ramdan sedikit mengerutkan alisnya.
"Kan dia udah gede, harusnya lu tau lah. Dasar bisul!" balas Huda sama kerasnya.
"Udah-udah, Hud. Lu mah ngga asik ah, nyesel gue ngajak lo kalo ribut gini." Raka langsung memegang bahu Huda agar bersikap lebih tenang, soalnya mereka sedang bertamu di rumah orang.
Sasya keluar dari kamarnya dan menghampiri para bujangan yang sudah menunggu di ruang tamu, "Ayo kak, nanti Danendra nunggu lebih lama kasian," ucap Sasya dengan tampang tak berdosa.
"Eh, kata siapa lo boleh pergi. Kakak ngga ijinin kamu. Masuk kamar!" perintah Ramdan.
"Tapi, Kak—" Sasya sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk berdandan, masa iya dia ngga jadi pergi.
"Kakak bilang masuk ya masuk!" kali ini Ramdan menggertaknya dengan nada tinggi. Sasya gemetar, apakah Ramdan kali ini beneran marah sama Sasya?
TRING... TRING...
"Ya halo... Kenapa Mi? Apa? Ngga boleh! Ini udah malem Mami! Mami kok tega sih, dia anak gadis mami loh! Mih! Halo!"
TUT... TUT... "Bangsat!"
Ramdan memasang wajah berang, si pemanggil rupanya maminya sendiri. Dia bilang sudah mengijinkan Sasya pergi bersama Danendra.
"Terserah lo deh! Mau pergi apa ngga! Yang jelas kalo ada apa-apa jangan ngerengek ke gue!" teriak Ramdan lalu membanting ponsel dan masuk ke dalam kamar.
H-E-N-I-N-G
Suasana awkward tercipta, ruang tamu Sasya terasa semakin dingin. "Yaudah yuk Sya, Danendra udah nunggu dari tadi," ajak Raka dengan tak enak hati.
"Ehem," Huda berdehem. Seketika Sasya mendelikkan mata.
"Salah gue apa?" ucap Huda yang merasa tidak melakukan kesalahan sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penyatu Rasa [Selesai]
Romance⚠ CERITA LENGKAP ☑ FOLLOW SEBELUM BACA Danendra Ardana. Kehadiran lo dalam hidup gue bener-bener ngebuat gue bingung, kenapa lo jahat sekaligus baik? Banyak pertanyaan yang harusnya gue cari tahu kebenarannya, tapi lo ngga pernah menjadi satu sosok...
![Penyatu Rasa [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/209872102-64-k674517.jpg)