Rasa 41 - Keluarga Seperti Apa?

170 13 5
                                        

Orang lain tak sepenuhnya paham apa yang menimpa kita, sebab mereka penonton bukan pemeran.

PENYATU RASA
_____________________________

"Papi, kenapa Papi ngga bilang dari dulu?"

Wajah Anas terlihat tenang-tenang saja, sepertinya dia sudah memperkirakan Sasya akan menanyakan hal ini.

"Huh, apalagi yang mau Papi jelasin? Malik, Om kamu udah ngebongkar aibnya sendiri. Sekarang kamu udah tau yang sebenernya, kan?"

"Tapi kan Pih, kalau Om Malik ngga bilang. Mesti Papi bakal rahasiain hal ini dari Sasya selamanya."

"Sasya! Kalau Papi kasih tau Ramdan yang sebenernya, dia bakalan pergi nyari orang tuanya dan kamu ditinggal sendirian. Nanti siapa yang bakal jaga kamu di rumah?"

"Kamu mau sendirian di rumah?"

Sasya menggeleng, "Tapi kenapa Papi ngga pernah jenguk Kakak, Sasya takut Pih..."

Anas menghela nafas dalam, menatap putri semata wayangnya ini dengan sorot lelah.

"Kemarilah, Sya," perintah Anas.

Sasya mendekat dengan sedikit keraguan, kemudian Anas mendekap Sasya penuh kehangatan.

"Maafin Papi ya... Iya, Papi memang egois, Papi ngga pernah jenguk Ramdan. Tapi inget satu hal, Papi ngga pernah berhenti memikirkan kalian. Papi sama Mami terlalu keras mendidik kalian supaya hidup mandiri, Papi yang salah..."

"Papi capek Nak, kehidupan ini sangat berat untuk Papi sama Mami. Maaf kami belum bisa jadi orang tua yang baik, maafin Papi. Tolong Nak... Tolong ngertiin Papi, ya..."

Pada akhirnya Anas tetaplah seorang ayah yang tak paham bagaimana cara menyampaikan rasa sayangnya, hal itu tentu saja menjadikan dia sosok ayah yang dingin dalam pandangan Sasya.

Anas dan Tasya, dua orang yang sama-sama merasakan baby blues* semenjak kelahiran Sasya. Perasaan gundah, resah, saat dipaksa mengasuh Ramdan membuat mereka depresi merawat anak.

Kasih sayang yang harusnya memupuk keluarga kecil ini tak pernah ada, jika pun ada mereka mewujudkannya dalam bentuk emosi. Meluapkan segala kekesalan pada sang anak, hidup mereka dipenuhi stres berat.

Itulah alasan kenapa Anas dan Tasya memilih untuk tidak tinggal serumah dengan anak-anaknya, mereka menghindari kekerasan yang kemungkinan terjadi jika mereka nekat mengasuh keduanya.

"Papi pikir, uang bisa menyelesaikan segalanya..."

••••

#ARDANA HOSPITAL#

"Kakak! Aku pulang!"

Sasya membuka pintu ruangan dimana Ramdan dirawat, disana sudah ada mahasiswi cantik yang kemarin memberikan hadiah untuk Sasya.

"Eh lupa ada Kak Dera, makasih ya Kak udah mau jagain Kak Ramdan."

Sasya mendekati bankar, lalu melihat kondisi Ramdan yang masih masih tersadar. Syukurlah, kakak belum tidur.

"Iya Sya, tenang aja. Kakak juga makasih loh, udah diijinin buat jagain Ramdan."

Sasya membalasnya dengan senyum tulus, "Ngga tau juga kak, firasatku Kakak lebih dibutuhin daripada aku hehe..."

"Engga lah Sya, Ramdan itu cerita kalau dia cuma punya satu orang yang sangat ingin dibahagiain. Yaitu kamu, Sasya. Adik kandungnya..."

Gadis itu kembali tersenyum, ternyata Ramdan begitu mengistimewakan dirinya. Sasya lantas menatap Ramdan dengan lekat. Kak, seandainya Kak Ramdan tau. Kalau aku bukan adik kandung kakak, apa perlakuan kakak bakal berubah?

Penyatu Rasa [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang