PENYATU RASA
________________________
Kelopak mata Sasya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata bahagia, digamitnya telapak tangan Ramdan. Tangan kekar yang sekarang lemah tak berdaya, gadis itu menempelkan tangan Ramdan ke pipinya yang hangat.
"Kakak makasih ya, makasih udah berjuang... Kak Ramdan, bentar lagi aku lulus SMA loh. Saat hari itu tiba, aku ingin kakak liat aku pake toga. Kita foto bareng sama Mami, sama Papi. Habis itu kita pajang foto kita di rumah, biar Mami sama Papi inget terus sama kita..."
Sasya mengusap air matanya yang luruh begitu saja, Ramdan tidak boleh melihatnya menangis.
"Kakak, makasih ya udah mau bangun dari mimpi indah Kakak. Oh iya, temen cewek kakak kemarin kesini tau Kak. Kalau diliat-liat sih dia tipe cewek yang udah dewasa, baik banget lagi... Kakak harus kenalin ke Sasya titik."
Sasya terus mengoceh, sedangkan tanggapan Ramdan hanya bisa memandangnya bingung.
Selepas melewati kritis kedua kalinya, Ramdan mendapat karunia dari yang kuasa. Jiwanya kembali, namun hanya penglihatan dan pendengaran yang saat ini bisa digunakan.
Tubuhnya masih lemas tak dapat digerakkan, mulutnya pun kaku dan tak bisa mengucapkan sepatah kata. Sampai saat ini, perkembangannya masih dalam pantauan dokter.
Sasya cerewet pun, atas perintah dokter. Alasannya, agar Ramdan tidak tertidur lagi dengan waktu yang lama.
"Sasya, nanti lagi ya. Udah jam makan siang, Papi kamu pasti lagi senggang." ucap Malik yang sedari tadi duduk memperhatikan Sasya dari sofa.
Gadis itu menoleh, sorot matanya mengatakan bahwa dia ingin menemani Ramdan lebih lama.
"Bentar doang, nanti kita kesini bareng Mami sama Papi kamu," bujuk Malik. Sebenarnya dia sendiri pun tak tega memisahkan kakak beradik itu.
"Huft, iya deh Om... Kakak, Sasya pergi dulu ya. Jangan nyariin Sasya oke? Nanti Mami sama Papi kesini loh, Kakak harus udah sehat ya!"
Sasya membenarkan selimut yang dipakai Ramdan, setelah itu mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. "Ayo, Om. Pergi dulu kak... Dadah... Tungguin Sasya ya..."
Malik mengangguk lalu beranjak keluar dari ruang rawat Ramdan.
••••
"Maaf pak, sekarang beliau sedang sibuk." ucap seorang resepsionis di kantor tempat Papinya Sasya bekerja.
"Bilang saja anaknya ingin bicara," tegas Malik yang kehadirannya tak disambut dengan baik.
Resepsionis itu sedikit tertegun atas ucapan Malik, gadis yang bersamanya ternyata anak dari sang atasan.
"Baik Pak, lewat sini."
Wanita tinggi yang rambutnya digelung itu, membawa Malik dan Sasya ke ruangan Anas. Hilir mudik karyawan yang sibuk dengan masing-masing pekerjaan sekejap membuyarkan lamunan Sasya.
Setelah menaiki lift dan melewati banyak pasang mata, mereka sampai pada salah satu ruangan dengan pintu kaca lumayan besar.
"Silahkan Pak, anda bisa langsung masuk. Pak Anas sudah menunggu, kalau begitu saya permisi," pamit wanita itu dengan senyum ramah yang kikuk.
Malik hanya mengangguk, lantas membuka pintu dengan cekatan. Sasya mengikuti dari belakang, dia sedikit takut jika berhadapan dengan Anas— papinya.
BRAK!
"Anas! Sesibuk apa kau hah! Anak sendiri lagi kritis malah pekerjaan terus yang diprioritasin!" berondong Malik setelah membiarkan Sasya masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintu dengan kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penyatu Rasa [Selesai]
Romans⚠ CERITA LENGKAP ☑ FOLLOW SEBELUM BACA Danendra Ardana. Kehadiran lo dalam hidup gue bener-bener ngebuat gue bingung, kenapa lo jahat sekaligus baik? Banyak pertanyaan yang harusnya gue cari tahu kebenarannya, tapi lo ngga pernah menjadi satu sosok...
![Penyatu Rasa [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/209872102-64-k674517.jpg)