Chapter 16 - Terbongkarnya Rahasia Masa Lalu

70 62 152
                                        

Selamat datang di lapak Irama Cinta.

Absen dulu yuk pakai kota asal.

Tolong siapin hati, ya, buat baca part ini.

Puter juga lagunya di mulmed biar dapet feel-nya.

Play List Kamu|| Arash Buana ~ I'm Sad

Happy Reading.

🍁🍁🍁
Dalam realita, seseorang kerap kali bertengger pada imaji. Dari situ pula, banyak sekali hal yang belum aku tuntaskan. Jika musikku hanyalah rentetan nada tiada arti, bukankah artinya hidupku juga begitu?
🍁🍁🍁

Heri semangat menuju kantornya. Hari ini ada proyek besar dari bosnya. Siapa tahu, setelah ini dia naik pangkat. Namun, setelah sampai kantor, bosnya bilang kalau proyek di undur hari esok. Ada keperluan lain yang harus diselesaikan.

Rupanya, bosnya ikut andil dalam acara amal yang diadakan salah satu sekolah swasta di Jakarta. Namanya juga orang kaya, pasti hal seperti itu digunakan untuk pencitraan.

"Saya ingin ke sekolah anak saya, SMA Kencana Bakti. Kebetulan di sana ada acara amal yang dipertunjukkan dalam acara pergelaran seni."

"Anak saya juga sekolah di sana, Pak. Tapi saya malah baru tahu beritanya." Heri bingung, kenapa Cinta tidak memberitahunya? Atau mungkin anaknya lupa?

Alhasil, Heri ikut datang bersama bosnya, Pak Roy Pramudya. Jika acara amalnya berupa pergelaran seni, mungkin Cinta akan tampil di sana. Seingatnya, Cinta pernah bilang jika dia ikut eskul teater.

Aula sekolah Kencana Bakti cukup ramai. Heri yang tadinya ingin duduk di belakang, mendadak jadi duduk di depan, di samping bosnya.

Beberapa menit, acara pensi dimulai Drama Siti Nurbaya yang diiringi tarian dan musik sungguh mempesona. Mungkin, lebih tepatnya bisa dinamai musikalisasi Siti Nurbaya kali, ya.

"Dramanya, keren, kan? Asal kamu tahu, yang mengatur semua ini anak saya. Dia ketua dari eskul teater."

Heri menoleh pada Roy yang bersuara. "Anak bapak hebat, ya."

"Rama sudah tidak diragukan lagi kalau menjadi sutradara."

Rama? Mendengar nama itu Heri merasa familier. Namanya Rama gak cuma satu, kan? Namun, kalau itu orang yang sama, berarti sudah pasti anaknya ikut andil dalam acara ini. Ah, Heri tidak sabar melihat Cinta tampil. Kira-kira berperan sebagai apalah dia?

Yang ditunggu-tunggu pun naik di atas panggung. Heri sangat terkejut ketika Cinta naik dengan sebuah gitar di tangannya. Bahkan, anaknya juga bernyanyi. Memang tak bisa dipungkiri kalau suara Cinta memang merdu, tetapi Heri tidak suka itu. Heri membenci musik, dan dia tidak suka anak-anaknya bermain musik.

"Acara ini kan, perpaduan anak eskul teater, musik, dan tari. Keren banget, ya, anak-anak SMA Kencana Bakti, gak nyesel saya sekolahin anak saya di sini. Apalagi tuh yang nyanyi, suaranya alus pisan."

Mendengar suara dari ibu-ibu di belakangnya yang bergosip, kekesalan Heri bertambah. Eskul musik? Apa selama ini Cinta mengikuti eskul itu? Pantas saja Cinta selalu pulang sore akhir-akhir ini.

Berarti selama ini Cinta membohongiku? Anakku membohongi ayahnya sendiri?

Lampu panggung menyala semua. Di antara riuh tepuk tangan, Heri terdiam menatap anaknya datar, kedua tangannya mengepal marah.

Irama CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang