Chapter 42 - Memilih Aku

39 26 318
                                        

Hai, selamat datang di lapak Irama Cinta.

Kalian apa kabarnya?

Huhu, aku hiatus cukup lama, ya.

Jangan lupa bayar parkir dulu sebelum baca.

Caranya, tinggal pencet bintang di pojok kiri bawah, dan tinggalkan komentar sebanyak-banyaknya.

Play List Kamu|| Memilih Aku ~ Arsy Widianto, Tiara Andini

Happy Reading.

🍁🍁🍁
Aku bukan pria yang baik, tapi aku akan menjadi pria yang terbaik untukmu. Kamu tahu kenapa? Karena aku mencintaimu.
🍁🍁🍁


Di sebuah atap gedung bertingkat, dua orang laki-laki sedang duduk di pembatas rooftop sambil menjuntaikan kaki.

"Gimana? Berhasil meluluhkan hati si gadis egois?" Cowok itu menyindir sinis sahabatnya, lalu menghidupkan rokok yang terselip di antara kedua jari tangannya.

"Gak usah ngejek." Cowok itu mendengkus kesal. "Sama seperti yang dulu, aku hanya mendapatkan sebuah penolakan dan penolakan."

"Cih, lemah," ejeknya. "Dulu kamu yang bilang rencanamu akan berhasil, ternyata apa? Gagal juga, kan?"

"Harusnya kamu pakai caramu sendiri, bukan pakai cara sialan gadis itu," lanjutnya kesal sendiri.

"Aku sudah berjuang, tapi gak pernah membuahkan hasil." Ravish mengacak rambutnya frustasi.

Ciko yang berada di sampingnya terkekeh. Lalu, mengeluarkan asap rokok dari mulutnya sebelum menjawab, "Mana yang kamu sebut berjuang? Yang ada, kamu cuma dimanfaatkan."

"Kamu terlalu naif, Rav. Padahal dari awal kamu tau, kalau Shira gak suka kamu, bodohnya kamu malah mengikuti permainan dia." Ciko menjeda sejenak, memandang sahabatnya datar. "Yang bikin keselnya lagi, kamu mau aja disuruh-suruh ini-itu. Bahkan, pura-pura suka sama Cinta."

"Terus aku harus gimana, Ko? Aku udah coba beribu cara tapi gagal. Aku pikir, yang satu ini berhasil ternyata gagal juga." Wajah Ravish terlihat lesu. Bahkan, mata cowok itu terlihat bengkak, seperti habis menangis.

Ciko membuang putung rokoknya, lalu menginjak dengan sepatu. Dia menepuk-nepuk bahu Ravish dua kali. "Lupain dia, Bro. Cewek banyak, gak cuma dia aja."

"Hati aku adanya buat Shira, Ko. Gak bisa berpaling gitu aja. Lagian, gak ada juga yang buat aku tertarik."

"Hedeh. Dasar bulol," umpat Ciko kesal. "Lagian, apa sih, yang buat kamu milih Shira? Banyak yang lebih baik dari dia."

"Apa karena dia cantik?" tanya Ciko melanjutkan. "Cantik itu relatif, Rav, banyak yang lebih cakep dari dia. Luar dalem pula."

"Bukan, Ko. Bukan hanya itu." Ravish menggeleng lemah. "Emang, aku akui kalau Shira cantik, tapi alasan yang buat aku suka dia bukan itu."

Pikiran Ravish menerawang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Awal pertemuannya dengan Shira, yang membuatnya jatuh hati pada gadis itu.

"Dulu, waktu awal-awal masuk sekolah, aku sering kena bully Kakak kelas karena penampilanku yang cupu. Setiap pulang, baju aku selalu kotor. Dan yang lebih parah, ketika aku akan dijadikan umpan waktu senior kita mau tawuran sama anak SMA sebelah."

"Anak SMA sebelah nuduh aku yang rusakin basecamp mereka, padahal itu senior kita. Mereka marah dan hajar aku di gang, pas aku pulang sekolah. Kondisi aku babak belur saat itu. Untung saja, ada Shira yang datang menolong."

Irama CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang