Chapter 35 - Latihan Peran

29 24 237
                                        

Hai gengs, apa kabar.

Maaf baru bisa update lagi. Akhir-akhir ini jaringan ditempatku susah, padahal pakai kartu yang biasanya.

Selamat datang di lapak Irama Cinta.

Jangan lupa pencet bintang di pojok bawah ya karena itu gratis.

Kita simbiosis mutualisme ya.

Play List Kamu|| Bahagia Bersamamu ~ Haico Van Der Veken

Happy Reading.

🍁🍁🍁
Bertemu denganmu adalah kebetulan paling menyenangkan dalam hidupku. Sedangkan mencintaimu adalah urusan hati yang berada di luar kendaliku.
🍁🍁🍁

Beradu peran dengan Rama tidak pernah terpikirkan oleh Cinta sebelumnya. Bahkan, untuk menjadi pemeran utama pun tidak. Cinta mendaftarkan diri hanya untuk ikut andil dalam acara pensi sekolah, itu saja karena Tiya yang meminta.

"Jadi, mau latihan kapan?" tanya Rama. Dia mengajak Cinta ke ruang seni ketika semua orang sudah kembali ke kelas masing-masing.

"Terserah kamu."

"Acara pensi tinggal seminggu lagi. Berarti kita latihan mulai nanti pulang sekolah, ya?"

Cinta membulatkan bola matanya. "Berdua doang?"

"Untuk hari ini berdua dulu." Rama menjeda. "Kita ini pemeran utamanya, di dalam naskah, dialog pemeran utama lebih banyak dari pemain lain. Jadi, waktu latihan kita lebih banyak dari yang lain."

"Sengaja, ya, nulis dialog pemeran utama lebih banyak?" tuduh Cinta asal.

"Enggaklah. Lagian, dari awal aku gak tau kalau yang jadi peran Dewi Shinta itu kamu. Kalau tau, aku tambahin lagi aja dialognya, biar kita bisa latihan berdua terus," ucap Rama, diakhiri kedipan mata pada Cinta.

"Dasar modus." Cinta mendengkus. Lalu membalik lembar demi lembar naskah tersebut. "Sebelumnya, aku belum pernah berakting. Aku takut mengecewakan banyak orang di pensi nanti."

Tangan Rama terulur, menyentuh jemari Cinta. "Jangan cemas, aku yakin kamu bisa. Berakting itu juga dari hati. Meski rekayasa, tapi kamu anggap aja kalau kejadian tersebut seolah-olah terjadi sama kamu. Maka, feel dalam cerita, bakalan dapat. Bahkan, penonton bisa larut dalam cerita yang disuguhkan."

"Kamu mah, enak bilang gitu. Karena kamu yang nulis naskahnya. Kamu pasti juga hafal beberapa dialog, kan?" Cinta menarik tangannya dari Rama, menelan saliva untuk menghilangkan gugup. "Nanti kalau aku salah dialog, bisa malu, Ram."

"Gak akan salah, kalau kamu berusaha. Yang penting, kamu harus ingat kalau ini demi sekolah." Rama membenahi posisi duduknya. "Dulu, awal-awal aku masuk seni teater juga gitu. Salah dialog bahkan juga lupa."

"Aku kaku banget kalau disuruh akting. Tapi aku terus belajar, dan lihat tutorial dari youtube dan baca artikel dari internet. Akhirnya bisa jadi sekarang, sutradara. Ya, meski hanya dalam pensi sekolah," lanjutnya.

"Tuh, kan, kamu aja belajar dari lama. Gimana coba sama aku? Gak mungkin bisa belajar akting dalam waktu singkat."

Rama tampak berpikir, mencari jalan keluar. Detik selanjutnya, dia menampilkan senyum andalannya. "Kita latihan di sanggar punya Om aku aja, di sana ada mentor-mentor yang lebih berpengalaman soal seni. Dan kamu bisa dikasih tips dan trik supaya bisa lebih luwes di panggung nanti."

Irama CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang