26 : Pertemuan Yang Tak Terduga

1.1K 201 7
                                        

Kakak datang.

Raka berpikir sudah waktunya dia harus pulang. Hari ini dia berhasil menghindar, mungkin itu berkat keberuntungan yang sedang memihak kepadanya. Namun, dia merasa takut saat memikirkan nasibnya di hari esok atau berikutnya. Karena dia yakin kakaknya tidak akan berhenti mencari sampai berhasil menemukannya.

"Eh?"

Raka terhenyak tatkala merasakan getaran ponselnya di saku celana. Dia sedang dalam perjalanan pulang dari bekerja. Ketika segala pikiran berkecamuk dalam benaknya, dia sempat menghentikan langkah dan melamun beberapa saat. Dia sibuk berkubang dalam pemikiran tentang bagaimana dia harus menghadapi orang-orang dari masa lalunya saat pulang nanti. Kemudian, suara ponsel yang bergetar menyadarkannya dari lamunan.




Mas Jaka

| Maaf, hari ini aku ada lembur lagi.




Raka menghela napas dalam-dalam usai membaca pesan tersebut. Meskipun itu sama sekali tak mengurangi kesesakkan yang melanda dadanya. Bayangan wajah Jaka segera merebak dalam pikirannya yang kacau. Jika dia pulang itu berarti dia harus berpisah dengan Jaka. Sedangkan, dia merasa tidak ingin dipisahkan dari pria itu. Hidup bersama yang mereka jalani tidak cukup singkat untuk dilupakan.

"Mas Jaka..."

Raka teringat perkataan Jaka beberapa waktu silam, bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri rasa takut adalah dengan menghadapinya. Bagaimanapun juga, dia harus menghadapi masa lalunya.

Tetapi, Raka merasa khawatir apakah dia mampu menghadapi semua itu sendiri. Sebab sejauh ini dia sudah terbiasa dengan kehadiran Jaka dalam hidupnya, sehingga dia sering melibatkan pria itu dalam keputusan-keputusan yang dia ambil. Saat memikirkan itu, dia tiba-tiba teringat bahwa persediaan bahan makanan di kulkas habis. Lantas, dia berniat mampir ke mini market untuk berbelanja.

Selesai berbelanja lagi-lagi Raka melamun, dia berdiri di depan mini market dengan menenteng kantong plastik di tangan kanannya. Semenjak mengetahui bahwa kakaknya telah sampai di tempat sejauh ini, dia merasa keamanannya terancam saat berada di luar. Dia takut jika sewaktu-waktu bertemu kakaknya di tempat yang tak terduga. Pada momen yang sama, tiba-tiba seseorang memegang bahunya dari belakang dan membuatnya refleks sedikit melompat ke depan karena terkejut.

"E-Ehㅡ?!"

Raka memberanikan diri memutar tubuhnya dan mendapati perawakan seorang wanita yang familier baginya.

"M-Mbak Liora!!"

Liora mengerjap beberapa kali, "Eh? Aku membuatmu seterkejut itu?"

"E-Engga," Raka menggaruk tengkuknya.

Liora memperhatikan Raka dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kaos putih polos dibalut kemeja biru muda serta celana denim yang dikenakan pemuda itu, memberikan kesan menyegarkan untuk dipandang. Dia bertanya-tanya selain memberikan tempat tinggal dan membelikan ponsel, apakah Jaka juga membelikan pakaian-pakaian untuk Raka.

Liora merasakan gejolak dalam dadanya saat memikirkan itu. Sejauh ini, dia tidak pernah mendapatkan perhatian lebih dari Jaka seperti yang pria itu berikan pada orang lain. Sepertinya gejolak itu adalah perasaan cemburu. Dia beralih menatap kantong plastik di tangan pemuda itu.

"Dik Raka, kamu habis belanja?"

"I-Iya, aku ingat kalau bahan-bahan di kulkas habis," jawab Raka tersenyum.

Liora terkekeh kagum, "Kamu rajin sekali, setiap hari mengerjakan tugas rumah."

"E-Eh, engga, biasa aja."

PULANG [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang