Sudah dua hari Edzard dengan Edrea saling membisu. Tidak ada pembicaraan intens seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan Edzard tidak lagi mencium kening atau pipi Edrea di pagi hari. Mereka seperti asing kembali. Edzard yang berbeda dan Edrea yang selalu menghindar.
Edzard baru saja selesai mandi dan sedang menonton televisi seraya membawa ponselnya. Sedangkan Edrea sedang istirahat di kamar. Malam-malam seperti ini, Edzard jadi merindukan mie buatan Edrea. Edzard sampai menelan air liurnya sendiri, karena membayangkan mie buatan Edrea yang sangat enak itu.
Edzard berdiri dan bergegas pergi ke kamar Edrea. Saat di depan pintu kamar Edrea, Edzard bingung harus mengetuk pintunya terlebih dahulu atau langsung masuk. Kalau mengetuk takut Edrea tidak mendengar, kalau langsung masuk tidak sopan. Akhirnya Edzard memilih mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
Tak berapa lama Edrea membuka pintu, tapi Edrea hanya menimbulkan kepalanya saja. Tidak seperti biasanya, ia membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Ini seperti ada yang disembunyikan dari Edzard.
Edzard mengerutkan keningnya. "Kamu lagi apa?" tanya Edzard.
Edrea terburu-buru keluar dari kamar, tapi tidak membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Edrea langsung berdiri dihadapan Edzard, menutupi pintu kamarnya dan memegang gagang pintu kamarnya.
"E--eh enggak ngapa-ngapain ko, pak." jawab Edrea gugup.
Edzard menaikkan sebelah alis, tidak mungkin Edrea keluar dari kamarnya seperti itu. Seperti ada yang di sembunyikan.
"Eh bapak ada apa memanggil saya?" tanya Edrea.
Edzard menggeleng. "Kamu sembunyiin sesuatu dari saya, ya?" tanya Edzard.
Edrea menggeleng cepat. "E--enggak ada yang saya sembunyiin, pak!"
Edzard mengangguk-anggukkan kepalanya. "Buatin saya mie!" perintah Edzard langsung menarik tangan Edrea. Edrea hanya mengikuti Edzard.
Saat menuruni tangga pertama, tiba-tiba saja Edzard berbalik arah dan berlari kearah kamar Edrea. Edrea yang melihat itu kaget dan ikut berlari. Tetapi, telat Edzard berhasil membuka pintu kamar Edrea dan masuk ke dalam kamar Edrea. Sungguh Edrea panik setengah mati.
Edzard melihat koper berada di bawah di dekat ranjang Edrea. Koper itu sudah berisi baju tersusun rapi. Edzard menoleh kearah Edrea yang sedang didepan pintu. Edrea langsung mendekat kearah koper itu dan menutupi koper itu dengan kedua kakinya.
Edrea tersenyum kaku menatap Edzard. Sedangkan Edzard sudah menatap Edrea dengan sangat tajam bahkan Edzard seperti sudah ingin meluapkan amarahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Edzard dengan nada rendah.
Edrea hanya bisa menggigit bibirnya, karena bingung harus menjawab apa.
"Jawab Edrea!" ucap Edzard sedikit meninggikan suaranya seraya mendekat kearah Edrea.
"E--emmm..." ucap Edrea gugup dan bingung.
"JAWAB EDREA!" sentak Edzard terus mendekat kearah Edrea.
Edrea kaget langsung menunduk dan menggigit bibirnya sangat kuat.
Edzard mengangkat dagu Edrea menggunakan telunjuknya, menatap Edrea sangat tajam. Edrea masih menggigit bibirnya. Edzard menyentuh bibir Edrea menggunakan tangannya agar Edrea melepaskan gigitannya.
"Saya suruh kamu jawab Edrea, bukan gigit bibir kamu! Kamu bisa meminta saya untuk menggigitnya tanpa harus kamu yang menggigitnya!" ucap Edzard dengan nada rendah dan mengusap-usap bibir Edrea.
KAMU SEDANG MEMBACA
ED
RomanceWARNING 17+ Seorang gadis berusia 18 tahun bertemu dengan CEO muda yang malang tapi, angkuh. Hidup CEO itu, selalu menyendiri. Sebuah kesialan atau keberuntungan gadis itu, bisa bertemu dengan CEO angkuh itu. Tetapi, hanya karena ucapan nyeleneh gad...
