Edrea mengusap-usapkan matanya yang silau karena sinar matahari. Edrea menengok kanan-kiri dan langsung bangun.
"Arghhh, gue ketiduran sial!" gerutu Edrea seraya mengusap wajahnya.
Edrea menepuk keningnya, "astaga! Koper mana!" ucap Edrea panik.
Edrea turun dari kasur dan menengok kanan-kiri, Edrea bingung kopernya pergi kemana. Padahal disana banyak sekali baju-baju Edrea, serta berkas-berkas milik Edrea. Edrea benar-benar kelipungan.
"Jangan-jangan ada maling! Gue harus tanya Pak Edi nih!" ucap Edrea.
Edrea keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Edrea juga berlari, saat menuruni tangga. Edzard yang sedang sibuk dengan Tabnya, sampai menoleh dan sedikit mengeraskan rahangnya saat melihat Edrea sedang berlari menuruni tangga.
Edrea sampai tidak melihat Edzard sedang duduk di sofa seraya memegang Tabnya dan memperhatikan dirinya.
"Ngapain kamu lari-lari?" tanya Edzard dengan suara penuh ketidak sukaan.
Edrea langsung berhenti dengan nafas ngos-ngosan. "Aduh Pak, maaf saya gak liat! Saya buru-buru soalnya!" ucap Edrea dengan nafas menderu-deru.
"Buru-buru mau kemana kamu?"
"Aduh... Genting pak, koper saya ilang!" ucap Edrea panik.
Edzard hampir tersenyum mendengar jawaban Edrea, tetapi Edzard kembali menetralkan wajahnya, agar Edrea tak mencurigai. "Koper apa?"
"Koper baju lah, disana ada baju-baju saya dan berkas-berkas milik saya Pak!" sahut Edrea panik sekaligus kesal.
"Kenapa baju-baju dan berkas kamu harus ada di koper?"
"Ya karena saya tau, saya bakal dipecat dan saya bakal diusir pergi. Makannya saya beresin baju---" Edrea membolakan matanya dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
Edzard hampir mengeraskan rahangnya mendengar jawaban Edrea, tetapi Edzard berusaha untuk tidak menunjukkannya. Edzard memang sengaja memancing Edrea untuk mejawab pertanyaannya.
"Duduk kamu!" perintah Edzard seolah tak terbantahkan.
Edrea hanya bisa menuruti kata-kata Edzard, karena suara Edzard yang sangat meresahkan.
"Kenapa kamu mau pergi?" tanya Edzard.
"Karena---karena saya tau, saya bakal dipecat." jawab Edrea gugup.
"Kenapa kamu bisa langsung menyimpulkan itu?"
"Ya, karena saya cukup tau diri."
"Tau diri apa?"
"Dengan peraturan yang bapak buat."
"Bisa gak, jawab secara detail?"
Edrea yang sudah sangat geram pun menjawab. "ya karena, saya cukup tahu diri dengan peraturan yang bapak buat dan kesalahan saya kemarin sudah sangat fatal. Saya masuk tanpa seizin bapak dan saya dengan lancang menyentuh barang yang ada di dalam ruang kerja bapak!"
"Dan pastinya saya akan dipecat, karena sudah melanggar peraturan bapak. Dan saya juga akan membayar denda yang sangat besar itu. Bahkan tubuh saya saja, nggak mampu untuk membayar kesalahan saya yang sangat fatal." sambung Edrea.
Edzard mengeraskan rahang nya. "Kalau saya bilang, tubuh kamu bisa membayarnya. Apakah kamu mau membayar dengan tubuhmu?"
Edrea melebarkan matanya mendengar ucapan Edzard.
Edzard terkekeh, "bahkan kamu takut Edrea dengan ucapan mu sendiri, kamu hanya menganggap tubuhmu murahan, padahal kamu harusnya sangat bersyukur."
KAMU SEDANG MEMBACA
ED
RomantikWARNING 17+ Seorang gadis berusia 18 tahun bertemu dengan CEO muda yang malang tapi, angkuh. Hidup CEO itu, selalu menyendiri. Sebuah kesialan atau keberuntungan gadis itu, bisa bertemu dengan CEO angkuh itu. Tetapi, hanya karena ucapan nyeleneh gad...
