Fourty Seven

8.8K 1K 122
                                    

***

Setelah mengantarkan gadis pujaan hatinya, orang itu langsung pulang ke rumahnya. Ia segera pergi ke kamarnya, memikirkan hal yang akan ia lakukan esok ketika ia bertemu dengan gadis itu lagi.

Ia membuka handpone nya, mengetikan sesuatu di internet. Seperti 'Cara menembak wanita'

Banyak tulisan tulisan yang muncul disana, namun kata kata itu terlalu panjang untuknya. Kata kata itu juga tak cocok untuk kepribadiannya. Ia menghela nafas.

Apa iya harus memberi coklat nanti, ataukah bunga? Ia juga tak tahu kesukaan gadis itu apa. Ataukah ia harus menyanyikan lagu dengan sebuah gitar? Bahkan suaranya tak sebagus itu. Ia akan malu nantinya.

Ia kembali menghela nafas, mendadak ia lupa cara menembak seorang wanita. Ia tak pernah se gundah ini. Ketika ia pacaran dulu, ia hanya perlu mengatakan tiga kata pada seorang gadis. 'Jadi pacar gue.'

Tapi kali ini berbeda, ia tahu betul Rachel itu tipe gadis seperti apa. Rachel tidak bisa di paksa, ataupun di suruh.

Cklek ..

"Hayo .. anak bunda kenapa nih? Ko kaya nya lagi bingung gitu."

Laskar menoleh ke ambang pintu. Ia mulai mendudukan dirinya. "Kenapa bun?" Tanyanya.

"Nggak papa, cuma mau ngecek aja. Biasanya abis pulang sekolah suka langsung ke dapur. Sekarang langsung ke kamar, aneh aja." Ucap sang bunda yang kini sudah mendekat ke arah laskar.

"Laskar udah makan sama Rachel bun." Ucap laskar seadanya. Sang bunda mengangguk.

"Gimana nih hubungan kamu sama Rachel?"

Laskar menghela nafas pelan. "Masih gitu aja ko bun."

"Gitu aja gimana? Masih temenan?" Tanya bunda. Laskar mengangguk.

"Harus cepet cepet loh, nanti di ambil orang baru tau rasa." Ucap sang bunda. Laskar memandang bundanya datar. Bunda terkekeh pelan.

"Bunda bercanda. Kamu ini sama kaya papa kamu susah di ajak bercandanya." Ucap sang bunda.

"Laskar lagi nyari cara buat nembak Rachel bun." Ucap laskar tiba tiba. Bunda terkejut beberapa saat, namun ia kembali tersenyum dengan cerah.

"Kamu nggak perlu nyari cara, kamu tinggal. Ungkapin perasaan kamu aja, habis itu kamu tembak dia." Ucap bunda. Laskar mengerutkan keningnya.

"Gini, seromantis apapun kamu nembak dia, kalau itu nggak tulus dari hati, hal romantis itu akan jadi samar." Ucap sang bunda. "Beda hal nya kalau kamu mengungkapkan perasaan kamu dengan tulus." Lanjutnya.

"Kamu hanya perlu jujur." Ucapnya lagi.

Laskar terdiam. Bunda tersenyum, ia mengusap rambut laskar dengan lembut. "Tapi gimanapun hasilnya nanti, kamu harus terima. Jangan pernah memaksakan perasaan kita."

---

Laskar berjalan dengan langkah yang tegas, ia sudah menyuruh teman sekelasnya untuk pergi ke kelas Rachel. Ia sedang berjalan menuju rooftop. Setibanya disana ia langsung berdiri si pembatas rooftop dengan kaku.

Ia sebenarnya ingin menjemput Rachel tadi pagi, namun ia tidak bisa lantaran ia harus mengantarkan bundanya. Mobil bundanya berada di bengkel sementara papanya sudah berangkat terlebih dahulu. Ia juga sudah memberitahukan hal itu kepada Rachel semalam, Rachel mengerti dan ia bilang tidak apa apa.

Jantung nya berdegup kencang, ia sangat gugup. Ia tak menyiapkan apa apa untuk menembak Rachel, ia hanya menyiapkan hati dan mental. Apapun keputusan nya nanti semuanya ada pada Rachel.

Cklek ...

Adrenalin nya berpacu cepat. Ia berusaha tenang dengan memandang pemandangan yang berada di bawah. Meski begitu tetap saja ia merasa gugup.

"Kenapa manggil gue kesini?" Mendengar suaranya saja sudah membuat jantungnya tak tenang. Ia segera berbalik, ia menampilkan senyuman terbaiknya.

"K-kenapa?" Mendengar nada gugup milik Rachel rasanya laskar ingin tertawa, namun ia menahannya.

Laskar berbasa basi sebentar. Ia tak mungkin langsung berbicara ke intinya, bisa bisa Rachel terkejut di tempatnya. Meskipun nanti Rachel akan terkejut juga, tetapi ia tak ingin buru buru. Saat raganya nya sudah siap, ia segera mengutarakan perasaannya.

"Gue suka sama lo, do you want to be my girlfriend?"

Rachel terdiam, ia tak bergeming di tempatnya. Laskar berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin menggila. Ia gelisah, ia takut, ia juga gugup. Ia hanya bisa menatap netra Rachel sekarang.

"Gue ...."


















"Gue nggak bisa las ... Sorry."

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, tubuh laskar langsung kaku seketika. Ia sudah mengingat pesan ibunya, apapun keputusan nya nanti, ia harus menerimanya. Akan tetapi, ia tak tahu akan sesakit ini ketika di tolak oleh seseorang.

"Kenapa?" Tanyanya.

"Gue suka sama lo sebagai teman." Ucapnya. "Gue juga udah peringatin sama lo waktu itu, jangan sampe suka sama gue laskar." Ucapnya lagi.

Laskar tersenyum kecil. "Lo telat chel, peringatan lo datang secara terlambat. Gue udah suka sama lo sebelum lo ngasih gue peringatan." Ucap laskar.

Rachel terdiam, lidahnya kelu, ia bingung harus merespon apa. Ia tak ingin menyakiti hati laskar, namun ia tak bisa berbuat apa apa.

"Nggak ada kesempatan buat gue?" Tanya laskar.

"Sorry kar, ada perbedaan diantara kita yang ngebuat kita nggak bisa bersama meskipun gue ngasih lo kesempatan." Ucap Rachel. Laskar menatap Rachel dalam.

"Perbedaan? Perbedaan apa yang bisa bikin kesempatan itu sia sia?" Tanya laskar dengan suara rendah.

"Kepercayaan. Kita beda kepercayaan, Tuhan kita beda, Agama kita beda. Gue harap lo nggak lupa fakta itu laskar."

---

Disini dirinya berada sekarang, di warung belakang tempat dimana biasanya mereka berkumpul. Namun sepertinya tempat ini cukup sepi karna mereka sudah jarang berada disini. Sudah dibilang bukan bahwa persahabatan mereka menjadi kacau balau.

Ia mulai menyalakan pematiknya, ia menghisap pelan sebuah rokok di tangannya. Setelah menyala ia menghembuskan asap dari mulutnya. Sudah lama ia tak merokok. Rasa rokok ini menjadi sedikit pahit, ah bukan sedikit tapi memang pahit.

Ia memainkan pematiknya sesekali ia terkekeh sumbang. Dadanya terasa di hantam oleh ribuan bom yang beratnya sampai ber ton-ton.

Fakta tentang perbedaan mereka, ia melupakan nya.

Ia kembali terkekeh dengan nada yang sumbang. Kenapa ia lupa akan fakta sepenting itu. Kalau ia ingat dari dulu, mungkin ia tak akan merasakan perasaan sakit yang sebesar ini bukan. Ia begitu bodoh.

Tring .... Tring ...

"Hallo .. assalamualaikum."

"Waalaikumsalam bunda."

"Gimana laskar? Dia nerima kamu?"

Laskar kembali tersenyum miris, ia menghisap rokok nya perlahan, lalu menghembuskan nya.

"Hallo ... Gimana laskar?"

"Laskar di tolak bun."

Hening...

"Yah, sayang banget. Padahal bunda berharap Rachel jadi pacar kamu."

"Jangan berharap lagi bunda."

"Kenapa?"

"Kita beda agama."

***

Double up nih ...

#Poorlaskar.

Siapa yang baru ngeh, kalo mereka beda agama?

Terimakasih sudah membaca jangan lupa vote komen nya ❤️

Transmigration Of Two Souls (Tamat) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang