Aku tripel up!
Part 35, 36, dan yang ini.
[TIGA PULUH TUJUH]
Raga menghembuskan nafasnya bersamaan dengan asap rokok yang keluar. Ia sedang duduk santai di sofa yang ada dibalkon apartemen. Kakinya ia naikkan diatas meja. Tatapannya mengarah keatas, melihat bulan, yang ia anggap sebagai teman. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Udara malam yang dingin terasa menusuk kulit tubuhnya yang hanya mengenakan celana pendek tanpa baju.
Raga melirik kebelakang, terlihat Ana yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama berwarna hitam. Raga tersenyum saat Ana berjalan kearahnya dan duduk disampingnya. Ia segera mematikan rokoknya dan membuangnya asal, dilantai balkon.
"Masuk aja, disini dingin" Ucap Raga pada Ana.
"Lo sendiri nggak dingin, gitu?" Tanya Ana yang melihat Raga hanya mengenakan celana sepaha.
Raga mengangkat bahu acuh, "Udah biasa gue mah. Hampir tiap malam gue duduk dibalkon kamar kayak gini" Jawab Raga. Ana hanya mengangguk menaggapinya. Untuk sesaat mereka sama-sama melihat langit malam yang begitu indah.
Raga mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap Ana dari samping. "Cantik" Gumamnya namun dapat didengar oleh Ana, sedangkan Ana diam-diam menahan senyum. Siapa yang tidak malu ditatap oleh cowok tampan, apalagi dipuji seperti ini? Kalau Ana tentu saja ia malu-malu. Tapi sebisa mungkin Ana tidak memperlihatkannya, bisa tambah malu dia.
Ana menoleh dan tersenyum mengejek. "Emang lo? Burik!" Ejeknya.
Raga terkekeh pelan, lalu mengangguk. "Hm, gue emang jelek" Jeda sejenak, "Tapi lo suka, sayang, cin-"
"Itu dulu!" Potong Ana cepat. Padahal mah, sampe sekarang masih.
Raga menggeleng pelan. "Gengsi lo ketinggian, Na. Ga usah sembunyi-sembunyi, kentara kok"
Ana menoleh cepat dengan wajah gugupnya. "Masa sih?" Tanyanya. Raga mengangguk mantap.
"Jadi, lo maafin gue, atau nggak nih?" Tanya Raga dengan nada bercanda.
Ana berdecih sinis lalu menghela nafas. Ia kembali menatap langit. "Gue ngga bisa benci sama lo. Waktu itu, gue marah dan kecewa banget sama lo. Tapi buat benci apalagi lupain lo itu, susah banget. Kayak lo itu berpengaruh banget buat gue" Jelas Ana.
"Eittss!" Ana menoleh dan mengangkat telunjuknya. "Bentar. Sebelum itu, gue mau nanya" Raga mengangkat alisnya satu, menunggu pertanyaan dari Ana.
"Alasan dari semua kelakuan lo apa?" Raga terdiam, sudah ia duga. Ia menghela nafas pelan. Ia menatap langit dan mulai menceritakan alasannya.
"Gimana yah? Gue juga bingung ngejelasinnya gimana" Jawab Raga.
"Intinya aja" Usul Ana.
"Pokoknya, gue nggak mau lo sedih kalau aja nanti gue pergi, ninggalin lo" Raga menatap Ana dengan senyuman diwajahnya.
"Pergi kemana? Lo nggak akan pergi! Lo bakalan terus disini, sama gue!" Tekan Ana terkesan menuntut. Ia sedikit kesal dengan penuturan Raga.
Raga terkekeh melihat raut kesal Ana. "Nggak janji, Na. Lo tau kan? Waktu gue nggak lama lagi, dan peluang gue buat sembuh, kecil"
Ana berdecak kesal, "Nggak usah bahas itu, gue nggak suka!" Ucap Ana ketus, dan mengalihkan pandangannya.
"Iya deh, iya!"
Ana kembali menoleh kearah Raga. "Bisa jelasin lebih rinci lagi soal alasan lo?" Pinta Ana. Masalahnya, otaknya tidak pintar-pintar amat untuk langsung mengerti hanya dengan jawaban seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RAGANA [END]
Teen Fictionºººº - RAGANA ALBIANO PUTRA & ANARA ADRIAN - Ragana Albiano Putra. Cowok 18 tahun, yang merupakan salah satu siswa populer di SMA NUSANTARA. Sifatnya yang ceria, membuat orang-orang menganggap bahwa dia baik-baik saja. Tapi tanpa mereka sadari, tern...
![RAGANA [END]](https://img.wattpad.com/cover/283539962-64-k569454.jpg)