29

54 4 0
                                        

Raga diam-diam berdecak kesal. Sedari tadi ia harus menemani Kinan berbelanja. Mereka sudah mengelilingi mall selama dua jam. Tangan Raga juga sudah pegal karena harus membawa semua belanjaan Kinan.

"Aku pengen itu, boleh nggak?" Raga hanya mengangguk mengiakan permintaan pacarnya, Kinan. Mereka berjalan dengan tangan Kinan yang terus menggandeng tangan Raga.

"Lepasin dulu, ini tangan gue udah full" Ucap Raga beralasan agar Kinan melepaskan gandengan pada tangannya. Ia sedikit risih karena Kinan tidak mau melepas gandengan pada tangannya dan juga Kinan terus menempel padanya. Kinan hanya mengangguk lalu kembali memilih-milih baju. Ia tidak peduli mahal atau tidaknya barang-barang pilihannya. Toh yang bayar juga bukan dia.

Setelah Kinan puas dengan belanjaan hari ini, mereka keluar dari mall menuju mobil Raga. Raga menghela nafas lega setelah berhasil duduk dan bersandar pada sandaran kursi mobil. Tentu dia capek karena kurang lebih dua jam ia terus berjalan menemani Kinan yang mengelilingi mall. Ia memejamkan matanya sejenak lalu melajukan mobilnya untuk mengantar Kinan pulang.

"Kamu capek yah?" Raga tersenyum tipis lalu menggeleng, "Nggak" Jawabnya singkat.

Kinan mengangguk lalu tersenyum. "Makasih yah. Aku seneng banget bisa jalan-jalan bareng kamu" Ucap Kinan dan hanya dibalas senyuman tipis dari Raga.

'Seneng jalan bareng gue atau seneng gue belanjain?' Ucap Raga dalam hati. Ia tau Kinan hanya senang karena ia membayar semua belanjaan Kinan yang terbilang banyak. Diam-diam ia mencibik kesal.

Mereka sampai di depan rumah Lintang yang tampak sepi karena keluarga Lintang sedang keluar, Kinan sempat cerita saat bersama Raga. Raga keluar dan membukakan pintu untuk Kinan. Setelah itu ia membuka bagasi mobil, mengambil semua paperbag berisi belanjaan Kinan lalu diberikannya pada pembantu disana agar dibawa masuk.

"Makasih yah udah ngajak aku. Aku masuk dulu. Kamu hati-hati dijalan. Dadahh" Raga hanya tersenyum dan mengengguk menanggapinya.

Setelah memastikan Kinan masuk, Raga menendang kesal ban mobilnya. "Sok-sokan banget tuh cewek! Liat aja nanti, gue tinggalin lo!" Raga masuk kedalam mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.

Di perjalanan Raga masih saja memasang tampang kesalnya. "Ihh, greget banget gue. Pengen gue sentil tuh mulut. Mikisih yih idih ngijik iki. Sape juga yang ngajak, orang lu yang ngajak gue. Ck! Bilang aja mau morotin gue" Cibir Raga.

Rencana jalan-jalan ke mall memang Kinan yang mengajak. Raga tiba-tiba ditelpon dan diajak ke mall. Padahal sebelumnya Kinan tidak ada memberinya kabar setelah menghilang dari club. Bukannya Raga mengharapkan kabar dari Kinan, ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan Kinan malam itu. Lagi pula malam itu ia lupa kalau sebelumnya ia ke club bersama Kinan. Dan pulangnya juga kepalanya sedikit pusing jadi tanpa pikir panjang ia langsung pulang saja untuk istirahat.

Saat lampu merah ia menghentikan laju mobilnya disaat yang sama ponselnya berbunyi. Setelah melihat nama yang tertera ia segera mengangkatnya.

"Assalamualaikum, kenapa Jak?" Tanya Raga sambil kembali melajukan mobilnya saat lampu berganti hijau.

"Lo dimana?"

"Gue dijalan, mau pulang"

"Oh udah mau pulang. Kita lagi di club nih, kali aja lo mau gabung. Kebetulan si Daren nraktir" Raga menganggukkan kepala. Pantas saja terdengar suara dentuman musik nyaring serta keramaian diseberang sana.

Raga nampak berfikir sejenak lalu mengangkat bahunya. Gabung sebentar ia rasa tidak masalah. Lagi pula ini masih jam 10 malam. Baginya belum terlalu larut untuk seorang anak muda sepertinya untuk keluar.

RAGANA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang