48. Birthday (18+)

12K 233 4
                                        


Eden tidak tau lagi harus berbuat apa. Segala cara ia coba untuk mendapatkan kata maaf keluar dari mulut mungil istrinya. Ia membawakannya bunga tiap pulang dari kantor, atau membuat risotto untuknya. Namun segalanya bagaikan angin yang berhembus bagi Elli.

Wanita itu tetap saja bersikap acuh tak acuh padanya. Bahkan Javier pun ikut-ikutan seperti Elli. Rasanya semua orang di rumahnya sedang membencinya. Beruntung dia memiliki Edelina yang setidaknya masih bisa di ajak bicara, meski terkadang dirinya terganggu karena gadis itu begitu mirip dengan Javier perihal sifatnya yang banyak bicara.

"Daddy...."

"Hmmm" Gumam Eden dengan mata terpejam.

"Bisakah kau ambilkan aku sisir di meja itu"

"Hmmm" Eden mengangguk.

Edelina yang kesal, mencubit rahang tegas ayahnya itu. "Daddy, tolonglah!!" Rengek Lina.

"Baiklah-baiklah" Eden beranjak dari tidurnya dengan langkah yang begitu lesu.

"Ada apa dengan daddy dan mommy akhir-akhir ini" Tanya Lina dengan polosnya.

Eden tidak menanggapi pertanyaan bocah 4 tahun itu. Ia melempar sisirnya ke arah Lina dan kembali tiduran di ranjang.

"Daddy...." Ucap Lina sambil mengelus rahang Eden.

"Diamlah bocah" Ketus Eden.

Lina terkikik geli. "Kenapa daddy dan mommy bertengkar? bukankah kalian sudah dewasa?"

"Pertengkaran tidak selalu terjadi pada anak bocah sepertimu"

"Lalu apa yang membuat daddy bertengkar dengan mommy hmm?" Lina kini duduk di dada bidang ayahnya itu sambil mengelus rahang berbulu tipis.

"Hmmm....daddy sempat memakai kokain saat mommy mu meninggalkan daddy. Bukankah itu buruk sayang?" Ucap Eden masih dengan mata terpejam.

"Menurutku..... ya cukup buruk"

Eden terkekeh. "Dan sekarang kau membuat daddy semakin merasa bersalah"

"Tapi kenapa daddy harus takut hm? jangan berpikir bahwa mommy akan meninggalkan daddy!"

"Daddy sempat berpikir seperti itu, daddy rasa sudah melakukan hal yang cukup fatal"

"Tidak dad!" Edelina menggeleng. "Tidak mungkin mommy meninggalkan daddy, siapa yang akan menonjok wajah papa apabila mommy menangis hm?"

Eden membuka matanya dan tertawa keras. Anaknya yang satu ini memang benar-benar kelewat batas, rasanya kata-kata yang dilontarkan begitu jujur tanpa di filter terlebih dahulu.

"Kau tau Lina? daddy merasa bahwa kau adalah anak biologis daddy"

"Bukankah memang begitu dad?" Tanya Lina mengerutkan dahinya.

Dengan gemas, Eden menggelitiki perut anaknya dengan kepalanya. "Kau tau? memiliki dua ayah tidak berarti dua-duanya adalah ayah biologismu, ada perbedaan yang terletak disitu"

"Jelaskan!"

"Papa Javier adalah ayah biologismu, sementara anak biologis daddy adalah Jayden. Kau tidak sadar kakak kembarmu itu begitu mirip daddy?"

"No! no! no! BIG NO!" Kesal Lina memukul dada Eden.

"Why?" Tanya Eden sambil terkekeh.

"Kenapa harus Jayden yang menjadi anak biologis daddy? aku membenci pria itu!"

Eden tersenyum, lalu tangannya terulur untuk mengelus puncak kepala anak itu karena begitu menggemaskan di matanya.

"Edelina Knight..... di keluarga kita, semua sama. Mommy, Papa, Daddy, dan Jayden, kita semua sama. Tidak penting bagimu untuk mengurusi hal seperti itu. Jayden adalah kakakmu, suatu saat dia akan melindungimu, jangan terlalu membencinya"

Ours (Knight #1)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang