29. Bathroom (18+)

16.1K 322 5
                                        


"Iya aku mengerti, segeralah"

Kemudian Elli menutup telfonnya, ia terdiam sejenak sebelum ponsel tersebut direbut oleh Javier.

"Bagus sayang" Javier mengelus lembut puncak kepala Elli.

Ya, seperti yang diasumsikan. Dirinya diperintah untuk menghubungi Eldian untuk datang ketempatnya. Dan tak lupa sepanjang menelfon dirinya diawasi langsung oleh Eden dan Javier seolah ia adalah tahanan yang sedang dipanggil dalam jam besuk.

"Kau melakuaknnya dengan baik, sekarang bersiaplah menyambut kaka tercintamu" Ujar Eden.

Tangannya ditarik lumayan kuat oleh Eden menuju kamar mandi. 2 hari belakangan ini dia mulai diperlakukan seperti itu oleh Eden, sepertinya pria itu sangat membencinya.

Lalu ia didorong begitu saja hingga terlempar ke kamar mandi. Dibanting pintu kamar mandi tersebut dengan keras. Kaki pria itu menginjak paha Elli agar tidak terlalu banyak bergerak.

"Stay. Don't Move"

"Dammit" Umpat Elli pelan.

Lalu kemudian dirasakan sebuah tekstur benda kasar dikakinya.

"Eden tolong.... jangan lakukan ini" Rintih Elli.

Pria itu tidak menggubris segala permohonannya. Ia tetap melanjutkan kegiatannya mengikat kaki wanita itu.

"Selesai"

"Please...." Mencoba memohon dengan puppy eyes nya meski ia tau untuk saat ini adalah hal yang sia-sia.

"Maaf sayang, tatapan seperti itu tak akan lagi mempengaruhi diriku" Ucap Eden dengan datar.

"Aww!"

Setelah itu, Eden menarik tangan Elli lalu menyeretnya menuju shower kamar mandi.

"Katakan padaku sayang, kau ingin air panas atau dingin hm?"

"Di...dingin"

"Baiklah"

Eden menyalakan shower dan diatur untuk air dingin. Elli hanya berbaring lemas dengan kaki terikat sementara air terus berjatuhan ke tubuhnya.

Setelah beberapa saat kemudian, Eden mematikan air showernya. Ia ambil sabun yang biasa digunakan oleh wanita itu lalu menuangnya ke seluruh tubuh wanita itu.

"Aku selalu suka wangi sabun yang kau pakai, citrus right?"

Elli mengangguk sebagai jawaban. Jujur saja sejak pagi ia merasa tidak enak badan membuatnya berpikir membangkang kepada pria dihadapannya bukanlah pilihan yang bagus.

"Mau kubantu untuk memakai sabunnya?" Tanya Eden lembut.

Elli mengangguk.

"Words" Ucapnya tajam.

Elli mengerjap sedikit panik. "Y...ya..tolong pakaikan sabunnya"

Eden tersenyum manis. "Good girl" Ucapnya seraya mengusap lembut wajah Elli.

Kemudian Eden mulai menjulurkan tangannya ke tubuh wanita itu. Ia usap seluruh bagian yang sudah terkena sabun. Secara menyeluruh hingga payudara dan kewanitaan Elli tidak ia lupakan. Elli hanya terus sedikit bergerak tidak nyaman terlebih saat pria itu mulai membasu payudaranya sambil sedikit meremasnya.

"Done"

"Thanks"

"My pleasure, honey"

Kemudian pria itu kembali menyalakan showernya. Elli menutup matanya agar tidak terkena percikan-percikan air atau busa yang ada ditubuhnya.

Ours (Knight #1)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang