THE SUNSET ( YUMIN )

43 9 2
                                    


TRIGGER WARNING⚠️

Cerita ini mungkin tidak nyaman bagi beberapa pembaca karena mengandung kekerasan dimohon untuk yang tidak suka di skip saja arigatou🙏💕💜
Love yourself gaesss💜

🌇🌇🌇

Kenapa, kenapa sih Lo harus kesini lagi. Udah tahu dia gak bakal kembali. Kenapa?!. Lo bego banget yuju ngapain nunggu orang yang gak bakal kembali!!.

"Gilaa....sunsetnya bener bener bagus kak"

"Gak pernah bosen sih liat sunset"

/BRAKKK/ tanpa sadar aku menggebrak meja yang kutempati. Beruntungnya tidak ada apapun di meja.

Emosi ku tidak bisa kubendung lagi.
Sunset!. Sunset!. Sunset!.
Aku benci sunset!!!

Aku menatap kedua orang yang sepertinya sepasang kekasih itu dengan pandangan kesal. Lalu memilih pergi dari sana.sebelum aku mengacau lebih jauh.

Aku menuruni tangga dengan cepat. Dan berjalan menuju ke arah kasir.

"Pesanan meja no 14 gak usah di antar. Atau buat siapa saja terimakasih" ucapku, lalu pergi dari sana.

Tidak, ini bukan salah cafenya yang memiliki pemandangan sunset yang indah. Bukan juga salah pasangan kekasih itu. Dari awal ini salah dia!!, Jika saja- jika saja..... tidak, tunggu... ini... salahku.


🌇🌇🌇

23 September 20XX

"Hei Jimin, ngapain?" Tanya seorang pria yang mengenakan jaket hitam.

"Kau gak punya mata?. Jelas aku sedang makan mie" balas Jimin. Pria itu tertawa.

"Bohong saja, padahal kau sedang melihat pujaan hatimu. Neng yuju Dewinya ballet" ejek pria itu. Jimin menatap sinis ke arah pria itu.

"Iya emang, kenapa gak suka?" Balas Jimin. Pria itu menggeleng bukan satu atau dua kali dia melihat temannya itu memperhatikan siswi bernama yuju yang dinobatkan sebagai Dewinya ballet di sekolah star's ini.

"Bro, gak ada niatan buat diungkapin aja?" Tanya pria itu. Jimin menggeleng.

"Bagiku ini udah cukup kok"

"Yosh,alat perekam hapeku jalan"

Yuju, mengeluarkan CD itu dari DVD nya lalu Menyimpannya di atas meja kerjanya.

"Yuju bodoh....Engga Jimin juga bodoh. Padahal aku menyukainya, kenapa harus disembunyikan" gumam yuju dia membenturkan kepalanya ke meja kerja beberapa kali hingga keningnya berdarah baru dia berhenti.

"Ah sial...bisakah kau membawaku pergi juga Jimin oppa?" Lirih yuju. Kepalanya pusing dia menyeka darah yang ada di keningnya lalu menidurkan kepalanya.

Malam tiba, yuju terbangun dari tidurnya. Dia berjalan menuju ke kamar mandi dan membersihkan darah yang sudah mengering. Matanya melirik ke arah silet yang berada di bawah facewash nya.

"Eh?, Sudah lama ya" gumamnya sambil melirik pergelangan tangannya.

"Kurasa tidak papa" lanjutnya sambil tersenyum manis.

🌇🌇🌇

Wanita bername tag sowon itu terus berjalan kesana kemari sambil mencoba menghubungi seseorang. Raut wajahnya terlihat panik.

"Gimana?" Tanya pria bername tag seokjin. Sowon menggeleng dia menurunkan ponselnya lalu membuang napas lelah.

"Aku benar benar khawatir. Dari tadi malam yuju tidak mengangkat teleponku" seokjin mengangguk lalu duduk di atas meja.

"Mungkin dia mabuk, biarkan saja dia" balas seokjin. Sowon menghela napasnya lagi.

"Iya, masalahnya aku takut kalau dia...dia...oh aku bahkan tak mau mengatakannya"gumam Sowon sambil menutup mukanya.  Seokjin turun dari meja lalu menarik sowon ke pelukannya.

"Itu tidak mungkin, yuju wanita kuat dia tidak mungkin melakukan hal gila seperti bunuh diri" sowon menutup matanya saat mendengar ucapan bunuh diri. Ini bukan pertama kalinya dia mendengar kata tersebut tapi untuk melihat orang yang melakukannya dia pernah sekali. Dan itu sangat menyiksanya.

"Kau tidak tahu...,yuju pernah melakukannya dia....dia...menelponku lalu...dia...maksudku dia.."

"Stop, jangan dilanjutkan. Aku tahu itu berat bagimu tapi aku yakin yuju baik baik saja oke"Sowon mengangguk lalu menghapus air matanya yang keluar.

Drrr....drrttttt

Sowon melepaskan pelukan seokjin lalu mengangkat telepon dari yuju.

"Halo yuju!, Kau tahu aku mencarimu dari semalam?!. Kau mabuk?!!...kau tahu...aku" ucapan sowon dipotong oleh pihak seberang.

"Nona, maaf kami dari pihak rumah sakit xxx apakah anda adalah wali dari nona yuju?"

"Ya, saya walinya dia kenapa?"

"Tetangga nona yuju mendengar suara teriakan di apartemen nona yuju. sehingga membuat mereka khawatir, mereka mencoba memanggil nona yuju beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Dan saat kami periksa tadi pagi. Nona yuju melakukan percobaan bunuh diri, untungnya nona yuju tidak terlalu dalam menyayat pergelangan tangannya sehingga kami bisa menyelamatkannya"

Bagai petir di siang bolong. Kaki sowon terasa lemas. Dia kehilangan kata katanya.

"HAHAHAHHAHAHAHAHAHAHHA. ANDAI SAJA...ANDAI SAJA AKU GAK PERGI TADI MALAM AKU BISA BERSAMA YUJU SEOKJIN HAHAHAHHAHA SEKARANG YUJU DI RUMAH SAKIT DIA MELAKUKAN PERCOBAAN BUNUH DIRI SEOKJIN!!!. INI BENAR BENAR LUCU!!"

Seokjin menggeleng lalu segera menarik sowon ke pelukannya dia mengeratkan pelukan kepada sowon karena beberapa kali sowon memukul bahkan menendang kakinya.

"Tidak apa-apa, ini hukan salahmu. Yuju juga tidak meninggal bukan itu artinya dia ragu" Sowon menatap nyalang ke arah seokjin saat mendengar ucapannya.

"Hey...maksudmu...kalau yuju menyakiti dirinya sendiri tapi dia tidak meninggal itu tidak apa apa?...kau....kau..." Lirih Sowon, dia berhenti berontak. Dia pingsan...

🌇🌇🌇

Sowon membuka matanya lalu bangkit. Dia melirik ke arah samping dan melihat yuju yang sedang bengong.

"Yuju..." Lirih Sowon, dia mendekat lalu memeluk yuju dengan erat.

"Maaf...maaf...aku benar benar minta maaf...." Ucap sowon. Yuju masih bengong tapi air mata keluar dari matanya.

Yuju menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan sowon.

"Maaf..ini juga salahku.. padahal aku punya kamu dan seokjin maaf...." Balas yuju, dia merasa benar benar bersalah karena melakukan hal gila itu.

"Tidak apa-apa. Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi" ucap sowon sambil melepaskan pelukannya dan menatap yuju.

Yuju mengangguk sebagai jawaban.

💜💜💜💜
The end
Purple yuuuuu💜💜💜💜


our story |Hiatus|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang