Gerimis membasahi Seattle hari ini. Meskipun sempat membuat gadis merengus kesal, tapi tetap ia tak bisa menghindari pekerjaannya
Jemari- jemari lentiknya memasang stoking warna kulit. Dress bludru ketat deep blue yang awalnya ia naikan sebatas pinggang, kini telah ia turunkan. Tunggu Tessa bukan pekerja sex ataupun wanita bekerja di sebuah klub malam yang melakukan tarian secara erotis. Kendati meskipun pekerjaan tidak juga bisa dibilang lebih baik ataupun lebih buruk, setidaknya sampai detik ini ia tidak mengunakan lubangnya untuk mendapatkan uang.
Ponselnya berdering menyentak tubuhnya bergegas berjalan mendekati meja kayu usang yang ia beli thrift. Ia melirik sekilas pada angka yang merupakan umur dan inisal nama untuk menandai nama pelanggan yang menyewa jasa-nya.
"Tunggu sebentar lagi, aku akan segera keluar dalam waktu lima menit. Apa kau sudah berada di depan?" tanya Tessa. Ia masih tak tak mengenal jelas rupa pelanggannya malam ini. Meskipun ia telah melihat wajah pelanggannya dari foto yang mereka kirimkan, Tessa masih tidak dapat memastikan apakah wajah itu sungguh asli atau sebuah foto yang telah di ambil dalam kurun waktu yang lama.
Kali ini pria itu bernama Harry berusia 30 tahun, tidak terlalu jauh perbedaan umur antara ia dan pelanggannya. Hanya tujuh tahun, setidaknya ia tidak harus berdandan terlalu berlebihan untuk membuat dirinya tampak setara.
Ia berlari menuju meja rias tuanya—cermin retak di sudut kiri, bingkainya mengelupas, tapi masih mampu memantulkan wajah cantik yang menjadi senjata utamanya. Ia mengoleskan lipstik merah tua, melepaskan rol rambut, membiarkan gelombang rambut panjangnya jatuh liar, menutupi pundak yang terbuka.
Tessa telah bekerja sejak remaja. Bukan karena ambisi, tapi karena terpaksa. Untuk membayar utang pamannya—seorang pecundang yang bahkan tak pernah ia temui. Rentenir datang setiap bulan, menggedor pintu hidupnya tanpa ampun.
Tuhan memberinya wajah cantik dan tubuh yang memesona. Sebuah keberuntungan atau kutukan?
Ia bukan pelacur. Tapi ia bisa menjadi siapa pun: kekasih pura-pura, istri kontrak, saudara bayaran, bahkan pelakor jika perlu. Satu hal yang pasti: semuanya berdasarkan kontrak. Dan waktu.
"Sial! Tidak aku pikir ia akan menjemputku dengan mobil itu, tidak kuduga ternyata dia sangat kaya," gumam Tessa membatin. Jemari lentiknya berdiri tepat di samping Lamborghini, ia keluarkan lagi ponselnya untuk menghubungi nomor pelanggan hanya memastikan, bahwa memang benar pria itu mengunakan mobil mahal ini.
Terdengar suara klik halus yang membuat pintu mobil terbuka ke atas.
Mulutnya tidak terbuka lebar, ini bukan pertama kalinya Tessa menaiki mobil mahal. Bukan hal yang mengejutkan baginya, para pelanggannya sebelumnya juga bukan dari kaum kelas bawah. Tidak ada orang miskin yang mau menyewa jasa orang lain hanya untuk berpura- pura.
Seorang pria dengan bersetelan jas hitam licin, serta kerah kemeja putih yang terbuka tiga kancing teratas. Terlihat angkuh dibalik kacamata hitamnya tak sedikitpun ia lepaskan, tidak ada tawaran lembut ataupun mendapatkan princess treatment
Nyatanya seperti inilah kebanyakan sikap orang- orang yang punya kuasa dan wewenang. Mereka tidak akan membuang waktu untuk berbasa-basi karena memang sejak awal hanya membutuhkan jasa dirinya.
Tidak ada sedikitpun percakapan yang terjadi antara keduanya. Hanya keheningan yang terjadi cukup lama sampai akhirnya ia mendengar sendiri, suara berat sedikit serak itu mengeluarkan perintah untuknya.
“Kau harus pura-pura jadi kekasihku. Buat wanita yang dijodohkan denganku membenciku.”
Tessa hanya mengangguk. Ia sudah hafal kalimat-kalimat seperti itu.
Mobil berhenti di restoran bintang lima. Dress mahal yang ia kenakan terasa sepadan dengan malam ini. Ia tahu, pekerjaan ini tak akan mudah—dari jumlah uang yang ditransfer saja, ia bisa menebak: akan ada pertunjukan besar.
“Kau siap?” tanya Harry. Matanya yang kini terlihat tenang, tajam menatap Tessa. Ada decak kagum samar di sana.
Tessa membiarkannya menggenggam tangan. Tapi sejenak kemudian, ia memindahkannya ke pinggangnya, mendekat, lalu berbisik:
“Kita harus terlihat mesra. Kau bayar mahal, bukan?”
Harry tak menjawab. Hanya senyum tipis di ujung bibirnya.
Mereka berjalan ke meja. Seorang wanita sudah menunggu anggun, cantik, penuh gengsi. Tapi Tessa melihat kelemahan di matanya yang terlihat iri saat menatap kedatangannya.
“Maaf membuatmu menunggu, Berlin. Aku harus menjemput kekasih manisku,” ucap Harry sambil menarikkan kursi untuk Tessa.
Berlin menatap tajam. Tak berkata sepatah kata pun. Hanya sorot mata yang bicara: jijik, meremehkan, marah.
Kekasih? Ini? Wanita murahan seperti ini?
Harry mencium tangan Tessa di depan Berlin. Tessa tersenyum manis, ikut bermain.
“Sayang, maaf jika aku tak terlalu perhatian,” katanya.
“Tidak apa, honey. Tapi kita jangan lupakan tamu spesial kita.” Tatapan Tessa menusuk Berlin halus, tapi kejam.
Berlin menggertakkan gigi. Tubuhnya menegang. Ia tahu, dalam sekejap, kekalahannya sedang dipertontonkan.
Makanan datang. Harry dengan penuh perhatian memotong steak untuk Tessa, menyerahkannya seolah ia wanita yang dicintainya selama bertahun-tahun.
Berlin tak tahan. Tangannya menggenggam garpu sekuat tenaga, menusuk daging dengan emosi yang tak bisa disembunyikan. Kepalanya menunduk, tapi matanya mendidih.
“Apa selera makanmu hilang melihat kami?” tanya Tessa, pura-pura polos.
Berlin berdiri. Matanya menyala oleh kemarahan. Ia meraih gelas di hadapannya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Tessa dingin, menyakitkan, memalukan.
Tanpa memberi waktu untuk bereaksi, telapak tangannya mendarat keras di pipi Tessa. Tamparan itu membekas panas, tapi tetap saja tidak mampu membakar harga diri Tessa.
“Berlin!” Harry membentak lantang. Tapi Tessa tidak menunggu dibela.
Ia mendekat, mengecup pipi Harry di depan Berlin dengan penuh percaya diri. Sebuah serangan balik yang tenang namun tajam.
Lalu, Tessa maju satu langkah. Matanya menatap Berlin dengan dingin. Ia mengangkat tangannya dan menampar wajah Berlin sekali, dua kali, tiga kali—dengan penuh perhitungan dan dendam yang tertahan.
Ia meraih gelasnya sendiri, lalu menyiramkan isinya tepat ke wajah Berlin. Kali ini, bukan hanya untuk membalas—tapi untuk mengakhiri segalanya.
“Terima kasih atas hinaanmu. Aku hanya ingin menunjukkan bagaimana jalang yang sesungguhnya bertindak.”
Ia menggenggam tangan Harry dan menariknya pergi meninggalkan restoran, meninggalkan wanita yang kini duduk kaku dengan wajah basah dan mata penuh dendam.
Begitu sampai di luar, Tessa melepaskan genggaman itu.
“Transfer uangnya sesuai perjanjian. Aku sudah memainkan bagianku.”
Sebuah taksi melintas. Ia menghentikannya, masuk, dan menutup pintu tanpa menoleh lagi.
Pertunjukan usai. Dan seperti biasa, Tessa pergi tanpa meninggalkan jejak—kecuali luka di ego lawannya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐍𝐀𝐔𝐆𝐇𝐓𝐘 𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓𝐀𝐑𝐘
RomanceCERITA AKAN DI PRIVATE SECARA ACAK JIKA INGIN BACA PART LENGKAP DI HARAPKAN FOLLOW DULU. JANGAN DATANG UNTUK PLAGIAT! Tessa Azela wanita yang memilih untuk bekerja menjadi pacar sewaan atau apapun yang berupa sewa. Dirinya akan dibayar sesuai kesu...
