‘’hari ini aku tak bisa ke kantor, sedikit ada urusan pribadi.’’ Seperti itulah pesan singkat Tessa kirimkan untuk axel.
Ia memperhatikan pantulan wajahnya di depan kaca. Tessa telah bersiap dengan pakaian rapi dan tertutup ia harus menemui seseorang untuk pertama kalinya, entah kenapa Tessa malah merasakan gugup. Mungkin, karena ini pengalaman pertamanya bertemu seseorang yang bukan klienya. Ia melangkah keluar dari apartemenya melangkah dengan pasti menuju mobilnya.
‘’tenang Tessa ini bukan sebuah masalah.’’ Tessa mencoba menenangkan dirinya saat di dalam mobil. Ia merasakan berat hati untuk menemui orang itu, akan tetapi jika ia tak kunjung bertemu. Tessa tak akan tau apa yang terjadi.
Tessa menghidupkan mesin mobilnya dan membawa kendaraan roda empat itu dengan kecepataan sedang. Tessa dan orang itu berjanji untuk bertemu di sebuah tempat yang tak jauh dari apartemen Tessa, Tessa tau tempat itu sering di kunjungi kalangan wanita sosialita dan kali ini orang yang ingin ia temui itu juga memiliki kelas yang sama. Kelas sosial yang tak akan bisa Tessa tandingi. Perjalanan hanya memakan waktu setengah jam karena memang tak begitu jauh Tessa memakirkan mobilnya, dan melangkah untuk masuk kedalam sebuah restoran yang begitu mewah.
Satu hal yang ingin Tessa katakan tempat ini adalah nomor kedua dari restoran mewah dimana james mengajaknya untuk bertemu. Tessa langsung mengenali orang itu yang duduk di meja nomor dua tiga sangat sama seperti ciri-ciri pakaian wanita itu saat mengirim pesan padanya.
‘’Mrs.Dara.’’ Tessa mencoba memastikan sekali lagi dengan memanggil namanya.
‘’kau sudah sampai...duduklah.’’ Dara memperhatikan wanita yang duduk di depanya, mata Dara memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sepertinya wanita di depanya ini tau cara berpenampilan terlihat dari beberapa benda brandid yang melekat pada tubuhnya.
‘’perkenalkan nama saya...’’ Tessa mengulurkan tangan untuk kembali berkenalan secara formal tapi, ucapanya terhenti dan lebih dulu di potong.
‘’Tessa Azela. Aku sudah tau namamu, tak perlu untuk mengenalkan lagi."Dara memasang wajah datarnya ia semakin tak menyukai wanita di depanya ini. Bagaimana, bisa suaminya menyewa wanita ini untuk menjadi sekretaris axel anaknya. Apalagi Dara semakin ingin marah saat latar belakang wanita di depanya ini sangat jauh dari kata layak untuk anaknnya.
‘’Aaa—sepertinya anda sudah mengetahui saya dengan baik.’’ Tessa masih berusaha tersenyum. Meskipun saat ini ia sudah merasakan atmosfer mencekram yang di tunjukan oleh Dara kepadanya.
"Sudahi semua pekerjaanmu saat ini, Berhenti menjadi sekretaris anakku." Dara menyilangkan kedua tanganya di depan dadanya.
"Tunggu apa maksud anda?."
"Aku memintamu berhenti melakukan sandiwara ini. Sebagai gantinya, aku akan membantu semua keperluanmu untuk pergi jauh dari sini...Buat perpisahan kepada anakku agar ia tak merasakan curiga karena kepergianmu."
"Saya tidak bisa pergi sesuka hati Mrs. Dara." Tessa tak bisa pergi hanya karena Dara memintanya. Karena sejak awal, yang menyewa jasanya Xander semuanya harus berakhir jelas dan bukanya seperti ini.
"Tessa...wanita yang akan akan genap 24 tahun lima hari lagi, sejak berumur tujuh belas tahun bekerja disalah satu cafe dan berhenti di umur dua puluh. Ia berganti profesi dengan menjual jasa menyewakan dirinya seperti jalang hanya saja sedikit berbeda. Tapi, tetap saja sama!! Sudah ada 20 pria yang yang menjadi klienya dan berbagai macam juga akting yang dimainkan. Mulai jadi istri, pelakor, pacar sewaan, teman kencan, menjadi ibu bohongan dan masih banyak lagi." Dara membaca semua indetitas Tessa yang telah di rangkum dalam sebuah kertas A4, Dara mengumpulkan semua data ini. sebelum akhirnya, ia memberanikan diri bertemu Tessa tanpa sepengetahuan suaminya.
"Tessa juga berasal dari keluarga yang tak jelas kedua orang tuanya juga entah berada dimana. Sayangnya, hanya sedikit saya perjalas! Bahwa saya bukan pelacur!! Jangan samakan pekerjaan saya dengan jalang atau apapun itu yang ada sebuatkan." Tessa memperbaiki sedikit perkataan Dara. Meskipun ucapanya tetap saja tak akan berubah padangan benci Dara kepadanya.
"Kau juga memiliki sikap yang lumayan berani...apapun itu secepatnya kau harus menjauh dari axel." Dara meletakan kertas yang ada di tanganya, Menatap ke arah Tessa yang masih bersikap tenang.
"Tenang saja, pekerjaan ini hampir selesai dalam dua puluh hari lagi...tapi, jika anda ingin mempercepat tentu saja ada imbalanya." Tessa melipat tanganya di depan dadanya, jika kalian berpikir Tessa akan merasa sedih di minta untuk menjauhi axel jawaban Tessa saat ini. Salah!! Ia bisa saja pergi dari kehidupan axel sekarang juga tapi ia harus menerima imbalan berkali lipat juga.
"Kau begitu matrealistis." Dara menyangka akan dapat jawaban seperti itu.
"Tentu saja, Aku juga bekerja disini dengan tujuan uang."
"Berapa uang yang kau inginkan?"
"$50.000 (800 juta)."
Dara tekejut dengan nominal uang yang Tessa sebuatkan. Hingga, membuat ia menarik nafasnya dengan dalam.
"Beri aku waktu dua hari untuk mengumpulkan uang itu...Dan saat itu tiba kau harus pergi dari anakku."
"Okay deal." Tessa mengangguk kecil dan mencoba untuk megulurkan tanganya tapi Dara segera berdiri dan pergi dari hadapanya.
"Tidak beretika!." Batin Tessa berteriak ingin mengatakan hal itu tapi tetap saja hanya dapat ia keluarkan di dalam hatinya saja.
Setelaha kepergian nenek sihir itu. Tessa masih duduk di meja yang sama dengan secangkir americano dan pancake madu. Ia mencoba untuk menikmati makanan yang jauh lebih mahal, dan tentu saja berkali lipat dari makanan yang dibuat bobby di cafe biasanya.
Mata Tessa menatap ke arah luar. Tiba-tiba saja turun salju, ini salju pertama di seattle. Dan seperti biasanya setiap tahun Tessa selalu menyambutnya dengan banyak masalah.
"Kado natal apa yang akan aku minta di tahun ini? Sepertinya, untuk membeli mobil impianku sudah hampir tercapai di tahun ini." Tessa menceletuk sendiri ia mengaduk kopinya yang dengan cepat berubah dingin perlahan karena perubahan suhu.
Tessa hanya mengunakan mantel tipis. Sudah di pastikan akan sangat dingn saat ia keluar, mata Tessa menatap ke arah pintu masuk. Sebuah ketidaksengajaan lagi matanya bertemu dengan sepasang bolam mata Hardin.
Pria itu juga melirik ke arah Tessa. Akan tetapi, dengan cepat Tessa mengalihkan wajahnya ke arah lain. Ia berpura- pura untuk tak memandang Hardin akan tetapi, pria itu malah duduk di hadapanya. tepat di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Dara.
"Hei kau menunggu seseorang?." Hardin melihat wajah Tessa yang masih mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Tidak."
"Okay berarti aku boleh duduk disini sementara waktu." Hardin tersenyum ia baru saja akan menemui Tessa di kantornya Axel tapi, siapa sangka ia malah bertemu Tessa di luar.
Tangan Hardin yang berada di dalam kantong mantel dingin yang ia kenakan. Mencekram sebuah kotak perhiasaan yang sejak berapa hari yang lalu, ia membeli secara tiba-tiba tanpa sebab. Hardin pikir sebabnya hanya karena ingin membalas budi kepada Tessa atas bantuanya kepada Hardin saat di jepang.
"Tessa..."
"Hmm?"
Mata Hardin dan Tessa kembali saling bertatapan membuat Hardin merasakan gugup mendekati wanita pertama kalinya. Aneh inilah fakta yang Hardin rasakan jantungnya berdegup kencang padahal, sebelumnya hanya Axel yang bisa membuat Hardin merasakan perasaan ini. Apa ia telah kembali Normal?.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐍𝐀𝐔𝐆𝐇𝐓𝐘 𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓𝐀𝐑𝐘
RomansaCERITA AKAN DI PRIVATE SECARA ACAK JIKA INGIN BACA PART LENGKAP DI HARAPKAN FOLLOW DULU. JANGAN DATANG UNTUK PLAGIAT! Tessa Azela wanita yang memilih untuk bekerja menjadi pacar sewaan atau apapun yang berupa sewa. Dirinya akan dibayar sesuai kesu...
