Axel mampir ke sebuah toko dimana ia ingat bahwa putrinya, sangat menyukai candy dengan bentuk kincir angin. Sebelum menjemput Athena, Axel membeli beberapa jenis permen.
"Athena pasti menyukainya..." Axel tersenyum menyentuh berbagai macam bentuk lucu dari permen yang di pajang di etalase.
"Apa ada lagi tambahnya Tuan?"
"Tidak cukup ini saja," ujar Axel sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam sakunya.
Setelah menerima kantong dan menyelesaikan pembayaran Axel kembali berjalan menuju mobilnya. Kakinya melangkah masuk ke pintu kiri dan duduk di balik stir, meletakan kantong plastik dengan benda kesukaan putrinya tepat di sisi kanannya.
Senyum di bibir Axel tak berhenti bahkan jemari lentiknya terus menari- nari kecil sembari mencekam stir mobil. Perjalan menuju sekolah putrinya hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit mengunakan mobil, tapi sepertinya sekolah telah sepi. Kaki Axel keluar dari mobil melangkah masuk ke dalam halaman sekolah, ia mencoba mencari Athena di antara murid-murid yang masih menunggu orang tua mereka menjemput.
"Miss Lala!!"
Axel mengenali salah satu guru yang sering berbicara kepadanya saat menjemput Athena, kaki Axel sedikit berlari untuk mengejar posisi Miss Lala— yang sedikit jauh darinya.
"Tuan Axel. Bukankah Athena sudah pulang bersama Nyonya Gisella?" Lala langsung mengatakan hal yang belum saja di tanyakan.
"Sungguh!" Axel membesarkan bola matanya ia panik saat mendengar nama Gisella, wanita itu bukankah sebelumnya masih menjadi buronan setelah melarikan diri dari pemeriksaan polisi.
"Yeah saya sangat yakin Tuan Axel... Nyonya Gisella sediri yang berpamitan kepada saya," Lala juga gugup setelah melihat wajah salah satu orang tua muridnya.
"Baiklah terima kasih Miss Lala." Axel segera berpamitan dan langsung saja berlari seperti orang kesetanan tak perduli lagi sekelilingnya. Perasaanya saat ini hanya rasa takut, akan sebuah hal yang bisa saja terjadi kepada putrinya. Axel mengenali Gisella dengan betul! Wanita itu sangat licik bahkan ia menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan kemauannya.
"Gisella!! Angkat teleponnya." Axel memukul stir dengan kencang saat hanya terdengar nada sambung dari seberang sana.
Axel merasa gila karena Gisella tak menjawab teleponnya dan tak ada cara lain selain menghubungi seseorang. Axel menunggu, sampai nada sambungan ke tiga terdengar suara wanita yang mengangkat telepon.
"Halo."
"Tessa. Apa Gisella menghubungimu?" Axel langsung menyerbu Tessa dengan pertanyaan.
"Untuk apa dia menghubungiku?"
"Apa Athena ada bersamamu."
"Tidak."
"Athena hilang."
"Bagaimana bisa!! Terakhir kali bersama siapa?"
Axel memijat pelipisnya ia juga bingung di kondisi saat ini. Siapa lagi yang dapat ia hubungi, Gisella juga tak menjawab teleponnya.
Saat Axel masih menelpon Tessa panggilan baru kembali masuk. Mau tidak mau ia harus mengakhiri telepon terlebih dahulu, Axel langsung menjawab panggilan dari nomor yang mungkin berasal dari sebuah lembaga.
"Halo."
"Selamat siang pak. Kami dari pihak rumah sakit, ingin memberitahu bahwa 2 korban kecelakaan... Korban bernama Gisella Agnesia dan anak kecil yang tidak di ketahui namanya."
"Oke saya akan segera ke sana."
Axel langsung mematikan sambungan telepon. Dengan segera ia menghidupkan kembali mesin mobil dan memacu roda empat itu melewati aspal dalam kecepatan tinggi. Jantung Axel tak berhenti berdetak dengan kencang, buku tangannya panas dingin baru ia sangat khawatir dengan keadaan putrinya.
*****
"Ada apa sayang?"
Tessa memutar tubuhnya saat suara Hardin terdengar dekat dengannya.
"Tidak. Hanya sedikit masalah dengan dress pernikahan kita," jawab yang Tessa terpaksa berbohong, Karena ia sudah berjanji tak akan membahas Axel lagi saat bersama Hardin.
"Lalu kita harus bagaimana?" Hardin membelai rambut Tessa dan menatap mata istrinya.
"Sayang, semuanya baik- baik saja... Tidak ada masalah yang berat, hanya sedikit masalah komunikasi antara aku dan owner." Tessa meraih tangan Hardin dan menggenggamnya, jujur saja saat ini perasan Tessa juga sedikit aneh— ia kepikiran akan Athena.
"Hmm.... Baiklah kalau begitu, ayo kita makan aku sudah selesai dengan pembayaran sewa gedung." Hardin membawa tangan Tessa untuk pergi meninggalkan gedung yang akan menjadi tempat acara pernikahan mereka berlangsung.
Tessa hanya mengangguk dan mengikuti Hardin menuju mobil mereka yang tak jauh dari pintu keluar gedung. Sepajang perjalan Tessa masih kepikiran akan keadaan Athena, bagaimana jika Gisella melakukan hal yang berbahaya kepada anak kecil itu? Gisella bisa saja melakukan hal yang tak terduga.
"Semoga Athena baik- baik saja." Tessa hanya bisa membatin di dalam hatinya.
Hardin terus menatap ke arah istrinya yang terlihat aneh setelah menerima panggilan telepon. Tessa berubah menjadi diam bahkan— saat mereka sudah sampai di rumah makan Jepang tujuan awal mereka. Tessa masih saja diam, dan tak banyak berbicara seperti sebelumnya.
"Sayang..." Hardin menyentuh tangan Tessa, istrinya terlihat terkejut pikiran Hardin semakin yakin Tessa sedang memikirkan sesuatu sedari tadi.
"Maaf sayang, aku terlihat tak fokus kepadamu." Tessa meminta maaf kepada suaminya ia merasa bersalah, dengan terus memikirkan hal yang sebenarnya tak lagi ada hubungan dengan dirinya.
Ponsel di dalam tas Tessa kembali berbunyi ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi. Mata Tessa berusaha untuk terlihat biasa saja, ia ragu untuk menjawab atau tidak panggilan dari Axel.
"Axel yang menghubungimu?"
Tessa langsung menatap suaminya dan mengangguk kecil.
"Jawab saja sayang, takutnya ini masalah penting." Hardin tersenyum untuk menyakinkan Tessa bahwa, ia tak masalah istrinya menjawab telepon dari pria lain.
Tessa mengangguk dan menggeser tombol hijau, ia kembali meletakan ponselnya di telinga kanannya.
"Tessa! Apa kau bisa ke rumah sakit?"
"Siapa yang sakit?" jawab Tessa
"Athena! Ia membutuhkan transfusi darah golongan AB, bukankan darahmu juga AB."
"Yeah darahku AB... Aku akan segera ke sana." Tessa langsung mematikan sambungan telepon dan berdiri masukan kembali ponselnya kedalam tas.
"Sayang kita harus pergi ke rumah sakit." Tessa meraih tangan Hardin, untung saja suaminya itu tak banyak bertanya dan langsung bergegas berdiri dan berjalan cepat masuk ke dalam mobil.
"Kau sudah mendapatkan alamatnya?" Hardin memasang sabuk pengaman.
Tessa menunjukan GPS yang memudahkan mereka untuk mendatangi rumah sakit dengan jalur yang lebih cepat. Hardin membawa mobil dalam kecepatan tinggi, sesekali ia melihat ke arah wajah istrinya. Tessa terlihat gugup Hardin mencoba menenangkan Tessa dengan menyentuh permukaan tangan istrinya.
"Sayang tenanglah... Kau tak boleh gugup tekanan darahmu akan melonjak tinggi, dan kau tak bisa melakukan donor darah."
"Terima kasih sayang sudah mengingatkan aku." Tessa mencoba menarik napasnya dengan dalam dan menghembuskanya dengan perlahan.
Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu tiga puluh menit. Tessa berlari di lorong rumah sakit, ia mencoba menemukan Axel yang berada di depan rumah ICU.
"Axel. Di mana ruangan donor darah?"
"Syukurlah kau datang Tessa, aku akan membawamu." Axel menggenggam tangan Tessa dan menarik tangan Tessa masuk ke dalam ruangan yang berada di samping ICU.
Hardin hanya melihat istrinya pergi bersama pria yang pernah terlibat dalam masa lalunya. Tak pantas jika Hardin merasa cemburu, seharusnya ia lebih percaya kepada istrinya.
"Pantaskah aku cemburu? Bukankah jauh lebih baik Tessa kembali bersama Axel... Axel sudah di pastikan akan hidup lebih lama dariku." ujar Hardin dengan senyum kecilnya, ia mencoba untuk duduk dengan tenang di depan ruangan ICU.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐍𝐀𝐔𝐆𝐇𝐓𝐘 𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓𝐀𝐑𝐘
RomanceCERITA AKAN DI PRIVATE SECARA ACAK JIKA INGIN BACA PART LENGKAP DI HARAPKAN FOLLOW DULU. JANGAN DATANG UNTUK PLAGIAT! Tessa Azela wanita yang memilih untuk bekerja menjadi pacar sewaan atau apapun yang berupa sewa. Dirinya akan dibayar sesuai kesu...
