Tessa membuka matanya. Suasana rumah Grandma camelia begitu menenangkan, Tessa tak pulang kerumah axel semalam. Ia memilih untuk menginap dirumah Grandma banyak hal yang ia dengar dan banyak fakta baru yang telah ia ketahui.
Tessa mengangkat tangannya melakukan perenggangan sebelum kakinya turun dari rajang kayu, yang memiliki kelambu yang lembut. Kaki tessa menapaki karpet bulu yang terasa sangat lembut, kakinya terus melangkah membuka jendela balkon dan berdiri menuju pagar pembatasan.
Suasana sejuk dan segar begitu tenang. Rumah grandma camelia sangatlah vintage. Masih banyak perabotan, hiasan dan juga warna yang memiliki vibes 80s di depan balkon pemandangan tak kalah indah. Bunga mawar dan berbagai macam bunga lainya, terlihat indah di lihat di balkon.
Tessa mendengar suara ponselnya. Ia memutar tubuhnya, meninggalkan balkon dan berjalan masuk menuju ranjang. Mencoba untuk menemukan ponselnya di antara bantal- bantal yang begitu banyak hingga akhirnya, Tessa menemukan ponsel miliknya.
Nafas Tessa rasanya berhenti sesaat melihat nama Hardin yang menelpon. Begitu sulit untuk menelan salivanya, yang terasa tercekat di tenggorokan. Tessa lupa bahwa masih memiliki Hardin tetapi ia memberi kabar sejak beberapa hari. Tangan Tessa menggeser tombol hijau dengan perlahan, dan meletakan di telinga kanannya.
"Hallo" Tessa mengatur nafasnya.
"Selamat malam sayang."
"Apa disana pagi hari?" Tessa sempat terkejut mendengar ucapan selamat malam Hardin tetapi, ia kembali ingat bahwa ia mengatakan dirinya sedang berada di Ukraina.
"Yeah tentu saja. Bukankah kita berbeda tujuh jam? Aku sudah kembali ke New York."
"Jadi kau sekarang berada di New York."
"Benar sekali. Aku merindukanmu sayang, apa tak bisa aku menyusulmu saja?"
"Tentu saja tidak bisa! Disini terlalu sulit sayang, aku akan segera kembali menemuimu." Tessa memejamkan matanya, ia terpaksa berbohong.
"Kapan? Kau selesai dengan urusanmu."
Ucapan Hardin membuat Tessa terdiam. Entahlah, rasanya Hardin mengatakan untuk persoalan rumitnya saat ini. Tapi, itu hanya pikirannya karena Hardin tak mungkin tau.
"CK! Rindumu sudah setinggi gunung Fuji? aku kerja sayang. Secepatnya aku akan kembali menemui kekasihku, Sugar Daddyku dan mesin penghasil uangku."
Tessa mencoba untuk meletakan candaan kecil agar pembicaraan mereka tak terlalu terdengar canggung.
"Jangan membuatku tertawa. Aku ingin marah padamu! Seharusnya, aku kembali mendapatkan sambutan pelukan hangat."
"Peluk bayanganku saja dulu, nanti aku akan memeluk erat sampai kau kehabisan nafas."
"Kau ingin membunuh calon suamimu."
"Untuk mendapatkan semua harta kau harus sedikit berkorban." Tessa kembali tertawa, saat mendengar hardin juga tertawa kencang.
Pembicaraan terus berlanjut sampai akhirnya, Hardin mengucapkan salam perpisahan dan mematikan ponselnya. Hardin tersenyum tipis sangat tipis nyaris tak terlihat matanya menatap pada tiket pesawat yang akan membawanya menuju Seattle.
Rasanya sungguh menyakitkan. Ketika kau di bohongi oleh wanita yang kau cintai, begitulah yang Hardin rasakan. Ia kira bahwa selama tujuh tahun ini, Tessa telah membuka hatinya dan tak lagi menyimpan rahasia satu sama lain. Termasuk kepada Hardin yang telah menjadi calon suaminya.
Hardin mengangkat kepalanya, saat mendengar nomor pesawat yang ia naik akan segera take off beberapa menit lagi. Ia berjalan dengan satu koper kecil di tangan kirinya, tangan kanannya membawa paspor dan juga tiket.
Hardin tak tau pasti. Apa yang ia ambil saat ini adalah keputusan tepat atau tidak. Hanya saja, Hardin tak ingin kecewa untuk kesekian kali lagi. Ia hanya ingin memastikan alasan Tessa kembali ke Seattle untuk apa? Kenapa, Tessa harus berbohong padanya dan juga Berlin sepupu Hardin juga ikut berbohong akan hal ini.
****
Tessa berhenti di depan pemakaman dengan membawa tiga buket bunga Lily putih gading. Kakinya melangkah melewati satu demi satu tapakan batu yang sedikit Licin karena, hujan kemarin Tessa memberanikan dirinya untuk mendatangi pemakaman kedua orang tuanya dan juga Grandma. Ada tiga makam sejajar di depan Tessa, satu makam masih terlihat baru dari dua makam yang berada di sampingnya.
Camelia, Peter Petrus, Sophia Petrus.
"Aku datang...Mommy, Daddy dan Grandma. Maaf aku datang begitu terlambat." Tessa meletakan bunga Lily yang ada di pelukannya.
"Maaf...maaf aku sempat berpikir bahwa kalian membuangku dan mengingkanku." Tessa menunduk air matanya menetes membasahi permukaan pipinya.
Tak ada yang lebih menyakitkan dari kematian. Dan tak ada yang bisa mengembalikan nyawa seseorang, Tessa merasa menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri yang tak kembali lebih awal. Seandainya, ia kembali lebih awal beberapa tahun yang lalu Tessa masih memiliki kesempatan untu merawat Grandma Camelia.
"Mommy terima kasih telah melahirkan aku dunia ini." Tessa mengusap nisan bernama Sophia.
"Daddy terima kasih atas semuanya, aku Tessa putri Daddy dan Mommy yang tubuh dengan sehat tanpa cacat sedikitpun." Tessa menarik senyum di bibirnya meskipun, air mata masih terus mengalir di pelupuk matanya.
"Apa putriku juga telah menemui kalian? Pasti sangat bahagia bukan disana? Tunggu, tunggulah sedikit lebih lama kita akan bersama- sama nantinya." Tessa masih terus berbicara di antara tiga makam yang berada di antaranya.
Kali ini ia benar- benar gadis yang sebatang kara. Keluarga yang baru ia ketahui juga tak lagi berada di bumi yang sama dengan dirinya, Tessa memulai semuanya sendiri sejak awal.
Setelah berpamitan kepada keluarganya. Tessa kembali berjalan pergi meninggalkan pemakaman, Ia masuk kedalam mobil milik Grandma. Meletakan kepalanya di stir mobil menangis tersedu- sedu sesak di dadanya tak bisa lagi ia tahan, orang lain tak boleh melihat ia seperti ini. Cukup dirinya saja, dan hanya dirinya yang bisa menyembuhkannya pula.
Tessa melanjutkan perjalanannya kembali ke apartemen Axel. Tessa harus membunuh rasa sedihnya harus ingat bahwa balas dendamnya belumlah usai, Tessa akan membalas dendam kepada dua orang yang menjadi tokoh utama.
"Dara, Gisella tak akan aku lepaskan kalian berdua. Sampai keujung dunia aku akan tetap mengejar kalian." Tessa menambah kecepatan mobilnya membela jalan Seattle.
Hanya butuh empat puluh lima menit. Tessa sampai di depan apartemen Axel, hari ini merupakan hari libur Tessa yakin Axel berada di apartemen saat ini.
Tessa tak tau harus memasang topengnya atau tidak sama sekali. Ia memakirkan mobilnya dan turun dengan wajah datarnya, kakinya berjalan untuk menekan bell.
"Tessa."
Suara bariton yang sangat ia kenali memangil namanya.
"Tidak! Tidak... tidak mungkin Hardin." Tessa membatin dalam hatinya.
Kakinya memutar tubuhnya dan melihat wajah Hardin muncul tak jauh darinya saat ini. Tessa membeku di tempatnya, apa yang ia lihat saat ini benar- benar seperti mimpi. Tessa tak menyangka Hardin berada disini dan menemukan Tessa dalam waktu yang tak tepat.
"Hardin..." Bibir Tessa tetap memanggil nama itu.
"Kau berada di Seattle?" Hardin berpura- pura seakan ia terkejut akan keberadaan Tessa padahal jelas- jelas saja Hardin sudah tau semuanya.
.
.
.
.
.
Huaaaa author kembali tapi masih sakit sih wkkwkwk. Pasti kalian sudah rindu tessa, Author gak mungkin membiarkan kalian nanti malah pada kabur. ❤❤
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐍𝐀𝐔𝐆𝐇𝐓𝐘 𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓𝐀𝐑𝐘
RomanceCERITA AKAN DI PRIVATE SECARA ACAK JIKA INGIN BACA PART LENGKAP DI HARAPKAN FOLLOW DULU. JANGAN DATANG UNTUK PLAGIAT! Tessa Azela wanita yang memilih untuk bekerja menjadi pacar sewaan atau apapun yang berupa sewa. Dirinya akan dibayar sesuai kesu...
