SASA yang baru saja selesai sholat tahajud tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Wanita paruh baya itu lantas buru-buru merapihkan peralatan sholatnya dan segera membuka pintu kamarnya yang di kunci.
"Aa?" Ucap Sasa begitu pintu terbuka. Ditatapnya Raynzal sedikit terkejut. "Kenapa, A?"
Raynzal menatap Bunda, "ada tamu, Bun,"
"Hah, siapa malam-malam begini?" Tanya Sasa dengan kedua mata sedikit melebar.
"Ayo ikut aku," ucap Raynzal tanpa banyak berbasa-basi sembari berjalan mendahului Sasa.
Tanpa berkomentar Sasa langsung mengikuti Raynzal dari belakang. Ternyata anaknya itu mengajaknya ke ruang tamu.
Begitu sesampainya di ruang tamu, Sasa langsung dikejutkan oleh pemandangan yang tidak di duga-duga. Matanya melebar ketika melihat sesosok gadis yang kini sedang menatapnya dengan malu. Jantung Sasa berbedar, tanpa sadar ia mendekat lalu memegang bahu sosok itu.
Di sisi lain, Rachel membeku. Kedua mata bulat itu menatap Sasa tanpa berkedip. Rachel sendiri tidak tau harus berbuat apa begitu kedua matanya melihat ekspresi shock yang Sasa tunjukkan kepadanya.
Dalam hati Rachel menjadi tidak enak dengan wanita ini.
"Kamu..."
"Rachel," Raynzal menyahut. Dirinya langsung angkat bicara sembari menatap Sasa yang nampak masih terkejut.
Sasa melirik Raynzal selama beberapa saat, otaknya bertanya-tanya mengenai keberadaan Rachel di rumah ini.
Kemudian Rachel mencium punggung tangan Sasa. Wanita itu diam saja lantaran masih tercengang oleh keberadaan gadis cantik ini.
Melihat tampilan Rachel yang acak-acakan, Sasa menjadi penasaran. "Kamu kenapa?" Ia bertanya dengan nada lembut.
Kedua mata merah itu memandangi Sasa. Ada tangis yang tertahan di sana. Mengerti, Sasa pun langsung meraih tangan Rachel sembari menuntun gadis itu untuk duduk di sofa.
Raynzal pun ikut duduk di sofa yang tersisa bersama mereka.
"Ada masalah sama Luna kayaknya," ucap Raynzal. "Aku sengaja ngajak dia ke sini supaya aman,"
Bunda mengangguk paham. Lalu, di peluknya Rachel dari samping. Tidak ada penolakan. Justru, inilah yang sedang Rachel tunggu-tunggu.
Kemudian Sasa mengelus puncak kepala Rachel berulang kali.
Rachel yang merasa nyaman, memejamkan kedua matanya yang terasa panas. Ia membalas pelukan itu erat, dalam hati sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah dipertemukan dengan orang sebaik ini. Perbuatan Sasa benar-benar membuat Rachel tersentuh. Dan rasanya, ia ingin menangis di pelukan Sasa sekarang juga.
— Temperature Of Love —
SEBELUM pergi ke lantai dua, Raynzal memastikan bahwa hidangan yang akan ia berikan untuk Rachel tidak kurang. Raynzal juga memastikan bahwa susu buatannya tidak memiliki rasa yang tawar. Setelah dipastikan bahwa semuanya siap, barulah ia pergi meninggalkan dapur.
Kebetulan semalam Rachel tidur di kamar Sasa dan pagi ini ia sudah bangun dengan keadaan yang jauh lebih baik. Sasa bercerita bahwasanya semalaman Rachel menangis. Gadis itu kesulitan untuk tidur meskipun Sasa sudah menenangkannya berkali-kali.
Rachel enggan bercerita mengenai permasalahannya sehingga membuat Sasa bingung harus melakukan apa. Alhasil yang ia lakukan semalam hanyalah memeluk Rachel sembari memberikannya sebuah nasihat yang ia harap dapat meringankan beban permasalahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Temperature Of Love
Romansa[CERITA SUDAH LENGKAP] [SEQUEL OF RAYNZAL ANGKASA] Selama delapan tahun ini, Raynzal percaya bahwa hidupnya dihantui oleh kesedihan. Tidak ada sehari pun yang ia lewati untuk merenung dan menyendiri, meratapi nasibnya yang kian memburuk. Rachel, ga...
