Temperature Of Love-50

178 11 0
                                        

REGAL duduk dengan posisi menekuk kedua lututnya dengan pandangan ke bawah. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. Bahkan kini ritme jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Ditelannya saliva susah payah sembari mengalihkan pandangannya pada sosok di sampingnya—sosok yang sudah menemaninya sejak semalam.

Sasa tidak menatap anaknya sedikitpun. Ia terus menurunkan pandangannya.

"Kenapa secepat ini, Bun?"

Kalimat pertama yang Sasa dengar atas semua ucapan yang sudah dia lontarkan sebelumnya. Ia diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Tatapan sendu Sasa tunjukkan, disusul dengan senyum kecil dengan rasa iba yang mengiringinya sepanjang waktu. Berakhir dengan menghusap pelan rambut sang anak, bermaksud menenangkan sekaligus mengurangi rasa kecewanya.

"Bunda yakin kamu bisa nerima semua ini," ucap Sasa halus, akan tetapi Regal malah menggeleng pelan. "Mulai sekarang jangan pernah anggep dirimu sendirian ya. Banyak yang sayang sama kamu,"

Sasa berhenti menghusap rambut Regal, lalu mengalihkan pandangannya. "Perihal Rachel dan Raynzal yang mau nikah, Bunda sama Papa udah enggak ada pilihan lain," ujarnya. "Ada banyak hal tentang mereka yang kamu enggak tau,"

Air mata Regal jatuh. Ia lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kasur. Masih belum mau menatap Bundanya. Rasa frustasi menghampirinya begitu cepat.

"Mereka egois adain pesta pernikahaan di saat Mama Luna habis meninggal. Apa yang ada dipikiran Rachel saat ini, Bun?"

Sasa menarik nafas sejenak. "Dari awal, pernikahan ini bakal di adain tanggal segitu. Siapa sangka kalau timingnya pas sama meninggalnya Mama kamu,"

Regal menghembuskan napas kasar. Dibuangnya perasaan cemburu itu jauh-jauh. Bagaimanapun dia tidak boleh terlihat lemah. "Yaudah, have fun," ucapnya sembari menggangguk-angguk. Ditatapnya Sasa beberapa detik sembari mengatakan, "pada akhirnya kita harus ngerelain sesuatu yang enggak ditakdirkan untuk kita, 'kan?"

Sasa diam, lalu mengangguk pelan. Tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya saja hatinya merasa tercetus oleh ucapan Regal. Ia sendiri dapat merasakan apa yang Regal rasakan.

"Oh ya, Gal. Semalem kamu mau ngomong apa?" Akhirnya Bunda memutuskan untuk mengalihkan topik—yang kebetulan sangat ia ingin tanya sedari tadi.

Semalam Regal memanggil-manggil namanya dan sayangnya Sasa tidak menyadari itu karena dirinya sudah hampir larut dalam tidurnya. Ia pikir panggilan itu adalah mimpi, tapi ternyata tidak.

Sempat hening selama beberapa detik sebelum akhirnya suara serak itu kembali memenuhi seisi ruangan. "Oh, aku cuma mau mastiin apa Bunda udah maafin aku,"

"Enggak ada Ibu yang nggak mau maafin anaknya, Gal," Sasa menjeda ucapannya sejenak. "Ngelihat kamu kayak gini, Bunda jadi iba meskipun sejujurnya Bunda enggak mau maafin kamu,"

Regal mengangguk pelan, "enggak ada yang mau hal ini terjadi, Bun," singkatnya. "Siapapun pengin dapat keinginan yang dia mau. Enggak ada alasan untuk nggak berbuat apa-apa untuk hal-hal yang dia impikan sejak lama,"

"Kalau posisinya di balik, apa Bunda bisa jamin Raynzal nggak akan ngelakuin hal yang sama?"

"Sssst," Sasa menggeleng pelan. "Kita lupain ya,"

Akan tetapi, Regal tetap melanjutkan kalimatnya. "Buat keputusan nggak masuk akal dengan nyuruh Rachel tinggal sama aku—yang akhirnya ngebuat aku jatuh cinta sama dia. Cowok mana yang bisa nahan diri untuk nggak suka sama cewek yang tiap hari nemenin dia, Bun,"

"Kejadian Dinda keulang lagi, Bun. Kejadian yang akhirnya ngebuat aku trauma berat sampai-sampai harus menutup diri dari sekitar,"

"Dunia emang enggak pernah berpihak ke aku, Bun," entah kenapa Regal menangis. "Selalu berpihak ke Raynzal,"

Temperature Of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang