Pak Yono selaku pengacara Pak Galih mendatangi rumah Pak Halim untuk menanyakan beberapa informasi terkait perjanjian kerjasama setelah beliau mendapat kabar dari Kenny tadi pagi.
Pak Halim yang merasa tertuduh hanya mampu diam dan menjawab semua pertanyaan dari Pak Yono.
"Begini bukan maksud saya untuk menjatuhkan nama baik anda tetapi saya mendapatkan informasi bahwa surat perjanjian itu juga tercantum tentang investasi besar yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Namun, saya tidak menemukan keanehan di dalam surat yang anda ajukan," jelas Pak Yono, beliau memelankan suaranya dan menjelaskan secara perlahan.
"Lantas, kenapa anda datang dan mengorek informasi pada saya?" tanya Pak Halim.
Sang istri yang baru saja keluar membawakan dua cangkir teh menghentikan percakapan mereka.
"Karena saya tahu bahwa anda adalah teman dekat dari Pak Galih, saya hanya ingin tahu tentang perjalanan bisnis anda dengan Pak Galih. Kemungkinan besar, ada yang iri dan benci dengan Pak Galih sehingga berusaha menghancurkan usaha kalian." Pak Yono menjelaskan sesekali menyeruput teh hangat yang tersaji.
"Saya memang teman dekat dari Pak Galih tetapi saya tidak tahu asal mula perjalanan karirnya karena saya juga baru ketemu beliau beberapa bulan lalu." Pak Halim pun menyandarkan tubuhnya dan menatap suasana siang ini.
"Kalau begitu, akan susah mencari pelaku sebenarnya." Pak Yono mengusap wajahnya seakan kehilangan akal.
"Kenapa anda tidak mencurigai salah satu karyawannya?" usul Pak Halim.
Pak Yono tidak terpikirkan dengan hal itu karena yang beliau hadapi bukanlah kasus korupsi.
"Mungkin bisa saja terjadi," imbuh Pak Halim.
Di sela perbincangan mereka, Lita keluar dengan membawa ponsel milik ayahnya yang terletak di atas kulkas.
"Ada telepon buat papa." Lita memberika ponsel itu pada papanya.
Pak Halim pun meminta izin buat sedikit menjauh dari Pak Yono untuk mengangkat telepon dari nomor yang tidak tercantum nama.
"Halo Bos besar ..., bagaimana kabar anda?" terdengar basa-basi dari seberang sana.
"Siapa ini?" tanya Pak Halim sesekali melihat nomor yang memang beliau tidak kenal.
"Apa anda lupa siapa saya?" suara itu semakin memancing emosi Pak Halim.
"Ada perlu apa anda telepon saya dan kenapa anda tidak menyebutkan nama anda?" tanya Pak Halim, curiga.
"Kalau anda sudah lupa ..., biar saya perkenalkan diri saya, jika anda lupa dengan suara saya maka anda sudah terlalu tua." lagi-lagi orang itu seakan mencaci Pak Halim dan terdengar gelak tawa.
"Kalau anda main-main dengan saya, saya akan laporkan anda kepada pihak berwajib." Pak Halim yang merasa jengah pun tidak tanggung-tanggung mengancamnya.
"Wo ..., wo ..., wo, anda sekarang begitu ganas ternyata, ya ...." Terdengar suara merendahkan dibalik telepon. "Saya Wisnu Adi Wiguna, bagaimana sudah kenal dengan saya?" jujurnya karena merasa terancam.
"Wisnu? Kenapa anda telepon saya lagi?" tanya Pak Halim, kini wajahnya mulai kesal.
"Cih ..., gak usah jual mahal buat menerima telepon dari saya, niat saya baik di sini." Pak Wisnu lagi-lagi meremehkan Pak Halim.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENCINTAI DUA HATI
Non-FictionPertengkaran selalu saja terjadi pada seorang siswa bernama Kenny dan juga Rizenalita seorang Gadis. Namun, prihal cerita mereka terjebak oleh dua sisi hati yang menjerumuskan keduanya hingga membuat Kenny beranggapan bahwa dia mencintai Rizenalita...
