31. KEBENCIAN

7 1 0
                                        

     Di sebuah hamparan luas dengan pemandangan yang hijau dan asri, Lita dan Safa menghabiskan waktu mereka meskipun pemerintah tidak memperbolehkan untuk berkerumum tetapi setidaknya tidak berlaku bagi Lita dan Safa karena saat ini mereka sedang menikmati pemandangan di atas rumah pohon yang mereka buat beberapa tahun silam.

     Rumah pohon yang terletak di depan halaman rumah Lita karena memang rumahnya memiliki halaman yang luas.

     "Eh, itu Ziya ..., kenapa ke rumah loe?" tanya Lita, melihat Ziya yang baru saja turun dari mobil dan berhenti di depan rumah Safa.

      "Gak tahu, lagian dia tahu darimana kalau ini rumah gue." Safa malah bergantian bertanya.

     Lita hanya mengangkat bahu dan mereka segera turun untuk melihat dan memastikan bahwa Ziya tidak tersesat. Namun, ketika mereka sampai di depan gerbang. Ziya tampak tidak menekan tombol bel.

     Safa membuka gerbang samping dan diikuti oleh Lita yang berjalan mengekori. Mereka berjalan mendekati Ziya, Ziya lantas mendongak melihat siapa yang berdiri di depannya.

      "Kenapa mobil loe?" tanya Safa basa-basi.

      "Ada urusan apa loe tanya-tanya?" tanya Ziya ketus.

      "Jutek banget, pasti Kenny gak betah lama-lama sama cewek jutek kayak loe," sloroh Safa.

     "Eh, tutup mulut loe. Kalau gak gue sobek-sobek tu mulut!" perintah Ziya seraya menunjuk wajah Ziya.

      "Jadi orang jangan kasar dong, ingat ..., loe lagi parkir dimana, kalau enggak satpam rumah ini akan keluar dan mengusir loe dari sini." Lita melentangkan kedua tangannya buat melindungi Safa supaya tidak kena kuku-kuku tajam milik Ziya, cukup Lita saja yang merasakan perihnya di cakar oleh dia.

     "Woey ..., loe siapa? Beraninya ngatur gue." Tangan itu hampir saja menampar wajah Lita tetapi gagal karena Safa lebih dulu menyemprotkan air ke wajah Ziya.

     "BANGKEK LOE!!!" teriak Ziya tidak terima dengan perlakuan Safa.

      "Loe pergi dari rumah gue atau gue bakal panggil satpam perumahan buat ngusir loe!" perintah Safa, karena memang dialah yang berhak dan berkuasa.

      "AWAS YA KALIAN, GUE BAKAL BALAS DENDAM." Ziya menaiki mobilnya dan mencoba menstarter tetapi nihil, mobil itu masih mogok.

     "Kenapa mobil bobrokan loe, rusak!" tanya Safa dengan suara lantang. "KASIAN DEH LOE!" Safa menggoyangkan jari telunjuknya di samping mobil Ziya.

      "Awas aja, belum tahu kalian berhadapan sama siapa? Kalau gue bilang bokap, habis kalian diterkam."

       Setelah puas ngedumel di dalam mobil dan berusaha menyalakan mobil, akhirnya mobil hitam itu kembali menerobos perumahan menuju jalan utama.

      "Pengen gue jitak tu muka," nyinyir Safa sembari kembali masuk dan diikuti oleh Lita.

      "Ngapain juga marah-marah, gak ada gunanya." Lita duduk di ayunan dan melihat bunga-bunga yang merekah di halaman rumah.

      "Loe kok gak kesal sama dia, gue aja udah benci sama perlakukan dia." Safa ikut duduk diayunan sesekali menganyunkan.

       Lita menggeleng."Di dalam agama gak boleh dendam, apalagi benci."

      Safa tertegun mendengar ucapan Lita, meskipun agama mereka berbeda tetapi Lita masih menghormati agama lain dan tidak pernah menguncing bahkan mengolok-olok dan membenci orang yang sudah menghina dirinya.

      "Gue tahu, tapi kenapa rasanya kesal banget sama tu cewek." Safa menenggelamkan pandangannya ke bawah dan menatap rumput hijau.

      "Sudahlah, biarin aja ..., btw ..., loe udah daftar kuliah?" tanya Lita.

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang