27. BERSAMANYA

7 3 0
                                        

     Di rumah kontrakan, Kenny berbaring diranjang yang cukup sempit sesekali memandang langit-langit rumah yang sudah mulai bulukkan.

     "Ternyata Lita asyik juga orangnya, kadang aja jutek." Kenny bergumam sambil membayangkan kejadian pulang sekolah tadi.

      "Memang apa hebatnya jadi Superhero?" tanya Lita sesekali melihat ke kanan dan kiri memadangi kendaraan yang melaju.

     "Ya ..., gue suka aja sama Superhero sama transformers. Gue kan laki-laki masa suka sama berbie." Kenny terus mengayuh sepeda pelan.

     "Lagian Superhero bisa menegakkan keadilan," lanjutnya.

      Lita menggeleng pelan tetapi tidak terlihat oleh Kenny. "Em, em, em ..., loe salah soalnya yang bisa menegahkan keadilan itu cuma pemerintah yang bertahta."

     "Pemerintah kalau korupsi terus apa namanya?" tanya Kenny.

     "Koruptor!!!" tegas Lita sambil cekikian.

     Skak mat, Kenny cuma bisa diam karena jawaban dari Lita.

      "Eh, kok loe berani neboncengin gue. Gak takut pacar loe marah?" tanya Lita memastikan.

     Kenny menyibak rambutnya sesekali merasakan udara panas menerpa wajah.

     "Enggak, dia orangnya baik tapi kadang juga cemburuan tapi kalau gue yang ngadepin beda lagi ceritanya," terang Kenny sembari membelokkan stang memasuki perumahan.

     "Beda gimana?" tanya Lita seraya turun karena sudah sampai di depan rumah.

     "Gue tinggal kasih jurus Dillan. Ziya pasti luluh," jawab Kenny seraya berlalu pergi.

      Kenny senyum-senyum sendiri di kamar tanpa menyadari kehadiran mamanya yang sudah berdiri di ambang pintu.

      "Kenapa kamu Ken?" tanya Bu Mike membuyarkan lamunannya.

      "Eh, mama ..., enggak apa-apa kok." Kenny terperanjat dan duduk di tepi ranjang.

       "Habis belikan apa buat Ziya, kok tumben ceria banget," ucap Bu Mike sambil menjawil pipi putranya.

      "Enggak mah, aku gak belikan apa-apa. Aku kan belum kerja," jawab Kenny. "Tadi, pulang sekolah Kenny ngebocengin Lita ..., itu loh anaknya Om Halim." Kenny berterus terang.

     "Ohhh, Lita ..., bagaimana kabar dia?" tanya Bu Mike.

      "Baik mah, Om Halim juga ternyata baik banget ya mah. Kemarin Kenny udah ke rumah mereka terus minta maaf karena Kenny udah menuduh yang bukan-bukan." Terdengar penyesalan.

      "Iya, kapan-kapan ajak Lita ke sini. Siapa tahu bisa jadi teman curhat mama, soalnya Ziya gak pernah datang lagi." Bu Mike mengusap lembut rambut putranya.

     "Iya besok kalau ada waktu." Senyumnya mengembang tiba-tiba, tanpa alasan yang kuat hatinya begitu berdebar mendengar nama Lita.

      "Mah, perasaan mama sama papa gimana mulai pacaran dulu sampai sekarang?" tanya Kenny mendadak menjadi penasaran.

      "Mamah nyaman sama papa, papa itu baik, pengertian dan tanggung jawab. Kalau kamu gimana sama Ziya?" tanya Bu Mike. "Kamu juga nyaman sama dia?" lanjutnya.

      "Nyaman sih mah tapi kenapa ya ..., Kenny kok merasa aneh aja kalau dekat sama Lita." Kenny menyadarkan kepalanya di bahu mamanya.

     "Aneh kenapa?" Bu Mike kembali meneliti setiap raut wajah putranya dari pantulan cermin.

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang