48. HIDUP DAN MATI

8 2 0
                                        

       Di kediaman rumah Kenny sekarang suasananya begitu berbeda, setiap ruang dan setiap sudutnya lebih mencengkram dan mengerikan jika hanya ditinggali oleh dua orang asisten rumah tangga.

      "Sudah seminggu setelah kepergian Tuan Galih dan Bu Mike, Kenny tidak kunjung pulang." Bu Ias berbicara pada Pak Dandang, suaminya yang tengah membereskan pekarangan.

       "Iya, Bu. Apa kita pulang ke kampung aja?" tanya Pak Dandang meminta usulan.

      "Sebaiknya jangan dulu, Ibu yakin nanti pasti rumah ini jadi sarang penghuni lelembut," tolak Bu Ias sambil menatap rumah yang begitu megah.

      Pak Dandang pun ikut melihat bagunan rumah yang tinggi meski hanya tiga lantai tetapi lanti atas jarang ada yang memakai. Warna catnya pun seakan sudah memudar dan banyak ditumbuhi lumut di setiap sisi tembok.

     "Iya juga ya, Bu. Rumah sebesar ini kalau pemiliknya sudah meninggal, rumah menjadi harta yang tidak bisa dibawa." Pak Dandang bergumam.

     "Hust ..., Bapak ki bicara apa?" tanya Bu Ias, logat jawanya keluar setiap mendengar perkataan yang tidak baik.

     Pak Dandang beristifar kemudian melanjutkan memotong rumput sedangkan Bi Ias kembali dengan pekerjaannya di dapur.

      Di tengah kesibukan mereka, Bi Ias menatap foto keluarga yang berbahagia. Rona wajah mereka terlihat ceria dengan senyum yang menggembang. Namun, seakan semua itu telah hilang dan mungkin tidak akan terulang.

     "Owalah, Den, Den, nasibmu kok begini banget, gimana nanti kalau bibi sama Pak Dandang pulang kampung, bagaimana kalau nanti kamu pulang?" tanya Bi Ias pada kehampaan rumah dan hanya suara dentingan jam yang terus memainkan melodinya.

     Bi Ias kembali menyapu lantai dan beres-beres rumah. Namun, karena penasaran dengan acara berita tentang jatuhnya pesawat-R0067. Bu Ias menyalakan televisi dan membaca daftar nama yang belum di temukan oleh Tim SAR.

     "Astagfiruallah, Den Kenny!" pekik Bi Ias dan langsung mengeraskan volume televisi.

     "Ada apa, Bu?" tanya Pak Dandang, mendengar suara Bi Ias dari ruang tv ketika dia berjalan masuk.

     "Den Kenny menjadi korban jatuhnya pesawat." Bu Ias seakan tidak percaya tetapi fakta membuktikan bahwa sembilan puluh persen orang yang jatuh dari pesawat tidak bisa terselamatkan.

     "Allahhuakbar ...!" Pak Dandang mengejapkan matanya lantas kembali melihat siaran televisi.

      Di tempat lain, Lita merasa sangat berdosa karena telah membiarkan Kenny pergi ke Amerika demi konser musik yang hanya diperlombakan satu kali dalam setahun. Namun, sekarang dia tidak bisa berbuat sesuatu selain menunggu dan menunggu kabar terbaru dari pencarian yang dilakukan oleh petugas.

      "Lita, kamu enggak kuliah?" tegur Pak Halim.

       "Iya, ini mau berangkat kok." Lita segera mematikan televisi dan bersalaman dengan papanya untuk berangkat.

     Pak Halim sekilas tersenyum, dia begitu beruntung memiliki putri seperti Lita karena Lita akhirnya mengikuti jejak dirinya untuk berpindah agama.

     "Assalamuallaikum," ucap Lita seraya keluar rumah.

     "Waalaikumsallam," jawab Pak Halim.

      Pak Halim tahu, Lita belajar agama dengan temannya karena beliau pernah mempergoi Lita dan Fika yang sedang tadarus Al-Quran ketika Lita dirawat di rumah sakit.

      Setelah bersalaman, Lita pergi diantar oleh sopir pribadinya dan sepanjang jalan menuju kampus. Dia hanya menatap kosong perkotaan meski aktivitas orang-orang mulai kembali normal tetapi raganya seakan sunyi dan hanya memikirkan bagaimana kondisi Kenny setelah peristiwa ini terjadi.

MENCINTAI DUA HATICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang